29 Maret "Earth Hour Day" Bukan Sekedar meMatikan Lampu.
"Earth Hour" bukan sekadar mematikan lampu dan peralatan elektronik lainnya. "Tapi, lebih menekankan simbolisasi sebuah tindakan yang sederhana dan berdampak sangat besar terhadap lingkungan."
Satu rumah mematikan 10 Watt lampu tidak akan terasa efeknya. Tapi coba hitung jika kita semua, 100 juta rumah bersamaan mematikan lampu. Beban bumi akan berkurang dari pemakaian energi listrik terutama yang berasal dari energi kotor, Batubara.
Semua tindakan sederhana untuk mencintai alam dalam satu jam tetap merupakan bagian dari acara ini. "Satu tindakan setiap satu orang. Dampaknya baik untuk lingkungan secara luas,".
Dalam rangkaian HUT GEMPPA CJEA yang ke-30, Anggota Muda GEMPPA melaksanakan bersih sungai Ciwalen yang terletak di Pagerageung Tasikmalaya. Aksi ini juga dalam rangka memperingati Hari Air sedunia. Demikian disampaikan Sobur Suryana sebagai koordinator Lapangan ketika ditemui di lokasi.
Maulana Yusuf, salah satu peserta aksi mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan konservasi air, baik di rumah, tempat kerja, sekolah, kampus, dan sebagainya,".
"Ini bukan sekadar acara seremonial. Kita bisa melakukan hal kecil dulu, seperti menanami pekarangan untuk resapan air, jangan membuang sampah sembarangan. Kita bisa pakai kantong atau tas sebagai tempat sampah sementara, dll.
Mudah mudahan aksi ini bisa menjadi pemicu bagi aksi aksi nyata lainnya dari berbagai elemen masyarakat. (G094)
Showing posts with label Sungai. Show all posts
Showing posts with label Sungai. Show all posts
Saturday, March 30, 2019
Thursday, March 21, 2019
Kota Anda Mulai Kebanjiran ? Ada Yang Salah Dengan Sistem Drainase Kota Anda !!!
Drainase adalah pembuangan massa air secara alami atau buatan dari permukaan atau bawah permukaan dari suatu tempat. Pembuangan ini dapat dilakukan dengan mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Irigasi dan drainase merupakan bagian penting dalam penataan sistem penyediaan air di bidang pertanian maupun tata ruang.
Saluran drainase sering kali dirujuk sebagai drainase saja karena secara teknis hampir semua drainase terkait dengan pembuatan saluran. Saluran drainase permukaan biasanya berupa parit , sementara untuk di bawah tanah disebut gorong-gorong.
Dalam lingkup rekayasa sipil, drainase dibatasi sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal sesuai dengan kepentingan. Dalam tata ruang, drainase berperan penting untuk mengatur pasokan air demi pencegahan banjir. Drainase juga bagian dari usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas (tingkat keasinan atau kadar garam dalam tanah).
Sistem Drainase yang baik dan benar di lihat dari berbagai aspek, baik teknik, lingkungan dan sebagainya telah di atur Pemerintah dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.
Menurut Peraturan Pemerintah ini, Sistem Drainase Perkotaan adalah satu kesatuan sistem teknis dan non teknis dari Prasarana dan Sarana Drainase Perkotaan.
Prasarana Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun di buat oleh manusia, yang berfungsi menyalurkan kelebihan air dari suatu kawasan ke badan air penerima.
Sarana Drainase adalah Bangunan pelengkap yang merupakan bangunan yang ikut mengatur dan mengendalikan sistem aliran air hujan agar aman dan mudah melewati jalan, belokan daerah curam. Bangunan tersebut berupa gorong gorong, pertemuan saluran, bangunan terjunan, jembatan, tali tali air (selokan, saluran air, inlet air dari jalan ke gorong gorong), pompa, pintu air.
Tujuan dari diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini adalah untuk mewujudkan Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan yang memenuhi persyaratan tertib administrasi, ketentuan teknis, ramah lingkungan dan memenuhi keandalan pelayanan. Sehingga dapat menciptakan lingkungan permukiman yang sehat dan bebas genangan serta dapat meningkatkan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian air.
Sistem Drainase harus terintegrasi dari hulu sampai hilir. Jangan sampai pembuatan parit atau gorong gorong di satu Kota menghabiskan dana milyaran namun pada kenyataannya saat musim hujan datang masih saja terjadi genangan air atau banjir. Hal ini terjadi karena terhambatnya saluran drainase ke kawasan buangan air terhambat. Bisa karena terputusnya jalur akibat pengerjaan yang asal asalan atau bahkan kecurangan para kontraktor yang mengurangi bobot pekerjaan demi keuntungan yang lebih besar bagi pihak mereka. Mungkin akibat dari masyarakat sendiri yang belum paham peran peran mereka dalam menjaga lingkungannya. Misalnya masih membuang sampah ke dalam saluran drainase dan mendirikan bangunan di atas saluran saluran drainase.
Demi Kota dan Lingkungan kita tercinta, tempat kita hidup dan berkehidupan, mari saling mengingatkan betapa pentingnya menjaga menjaga lingkungan kita tetap bersih, bebas dari sampah dan limbah. Karena ketika musibah datang kita sendiri yang akan menanggung dan merasakan akibatnya.
![]() |
| Sistem Drainase Harus Terintegrasi dari Hulu Ke Hilir |
Dalam lingkup rekayasa sipil, drainase dibatasi sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal sesuai dengan kepentingan. Dalam tata ruang, drainase berperan penting untuk mengatur pasokan air demi pencegahan banjir. Drainase juga bagian dari usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas (tingkat keasinan atau kadar garam dalam tanah).
Sistem Drainase yang baik dan benar di lihat dari berbagai aspek, baik teknik, lingkungan dan sebagainya telah di atur Pemerintah dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.
Menurut Peraturan Pemerintah ini, Sistem Drainase Perkotaan adalah satu kesatuan sistem teknis dan non teknis dari Prasarana dan Sarana Drainase Perkotaan.
Prasarana Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun di buat oleh manusia, yang berfungsi menyalurkan kelebihan air dari suatu kawasan ke badan air penerima.
![]() |
| Parit Bebas Sampah Menyalurkan kelebihan Air Ke Kawasan Penerima |
Sarana Drainase adalah Bangunan pelengkap yang merupakan bangunan yang ikut mengatur dan mengendalikan sistem aliran air hujan agar aman dan mudah melewati jalan, belokan daerah curam. Bangunan tersebut berupa gorong gorong, pertemuan saluran, bangunan terjunan, jembatan, tali tali air (selokan, saluran air, inlet air dari jalan ke gorong gorong), pompa, pintu air.
Tujuan dari diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini adalah untuk mewujudkan Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan yang memenuhi persyaratan tertib administrasi, ketentuan teknis, ramah lingkungan dan memenuhi keandalan pelayanan. Sehingga dapat menciptakan lingkungan permukiman yang sehat dan bebas genangan serta dapat meningkatkan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian air.
Sistem Drainase harus terintegrasi dari hulu sampai hilir. Jangan sampai pembuatan parit atau gorong gorong di satu Kota menghabiskan dana milyaran namun pada kenyataannya saat musim hujan datang masih saja terjadi genangan air atau banjir. Hal ini terjadi karena terhambatnya saluran drainase ke kawasan buangan air terhambat. Bisa karena terputusnya jalur akibat pengerjaan yang asal asalan atau bahkan kecurangan para kontraktor yang mengurangi bobot pekerjaan demi keuntungan yang lebih besar bagi pihak mereka. Mungkin akibat dari masyarakat sendiri yang belum paham peran peran mereka dalam menjaga lingkungannya. Misalnya masih membuang sampah ke dalam saluran drainase dan mendirikan bangunan di atas saluran saluran drainase.
Demi Kota dan Lingkungan kita tercinta, tempat kita hidup dan berkehidupan, mari saling mengingatkan betapa pentingnya menjaga menjaga lingkungan kita tetap bersih, bebas dari sampah dan limbah. Karena ketika musibah datang kita sendiri yang akan menanggung dan merasakan akibatnya.
Tonton video Berikut :
Tuesday, February 12, 2019
Rumput Akar Wangi (Vetiver) Untuk Konservasi Tanah, Air Serta Perlindungan Lingkungan
Akar wangi atau narwastu (serai wangi, rumput akar wangi,
vetiver, Chrysopogon zizanioides syn. Vetiveria zizanioides, Andropogon
zizanioides) adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini dapat
tumbuh sepanjang tahun, dan dikenal orang sejak lama sebagai sumber
wangi-wangian. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga
dengan serai atau padi.
Keharuman akar wangi yang bisa bertahan hingga tahunan ini
bisa disuling menjadi minyak akar wangi yang laku di pasar luar negeri. Tanaman
akar wangi (Vetiveria zizanioides) termasuk keluarga Gramineae, berumpun lebat,
akar tinggal bercabang banyak dan berwarna kuning pucat atau abu-abu sampai
merah tua. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan ketinggian
antara 1.000-2.000 mdpl dengan produksi 15-30 ton per tahun.
![]() |
| Rumput Akar Wangi |
Bagian tanaman
yang digunakan sebagai bahan baku pembuat minyak yaitu akar tanaman. Akar yang
digunakan sebagai bahan baku diperoleh dari tanaman berumur 9-12 bulan. Sementara
manfaat lainnya adalah sebagai antiseptik, antispasmodik, pemanas dan sedatif
pada sistem saraf, dan merangsang sistem peredaran darah yang lancar serta sebagai
bahan kerajinan tangan. Selain sebagai bahan kerajinan tangan dan minyak, Daun
akar wangi juga dapat digunakan sebagai pengusir serangga.
Akarnya yang dikeringkan secara tradisional dikenal sebagai
pengharum lemari penyimpan pakaian atau barang-barang penting, seperti batik
dan keris. Aroma wangi ini berasal dari minyak atsiri yang dihasilkan pada
bagian akar.
Rumput vetiver untuk
konservasi tanah, air serta perlindungan lingkungan
Nah, selain merupakan komoditas perdagangan dan dan industri
pewangi seperti di bahas di atas, akar wangi juga mempunyai manfaat yang
sungguh dahsyat dalam dalam konservasi tanah dan air terutama untuk di lereng
lereng perbukitan yang curam, Hulu Daerah Aliran Sungai dan pinggir pinggir
jalan yang rawan longsor.
Vetiver telah ditanam di Indonesia selama bertahun-tahun,
beberapa studi menyatakan telah lebih dari 1.000 tahun (Greenfield, 2002)
tetapi setidaknya dari 200 tahun yang lalu (Dafforn, 2002), telah dibudidayakan
terutama untuk memproduksi minyak akar wangi untuk di ekspor. Rumput ditanam di
lerang-lereng pegunungan vulkanik dan saat dipanen, meninggalkan sisa galian
yang dalam yang menyebabkan erosi yang luas. Hal ini memberikan reputasi buruk
pada vetiver dan menciptakan kesan bahwa vetiver “menyebabkan erosi”, sehingga
budidaya vetiver dilarang di beberapa daerah di Jawa. (National Academy Press.
Halaman 16. 1993)
Rumput Akar Wangi atau Vetiveria Ziazionides adalah rumput
tropis yang memiliki banyak kelebihan.
Akar-akar vetiver yang masuk ke
dalam tanah akan berfungsi seperti kolom-kolom beton yang menahan tanah agar
tidak longsor sehingga tanah menjadi stabil. Barisan vetiver menahan material
erosi di belakang tubuhnya sehingga mengurangi kecuraman dan akhirnya membentuk
teras-teras yang lebih landai.
Rumput Akar Wangi atau Vetiveria Ziazionides adalah rumput
tropis yang memiliki banyak kelebihan.
Akar-akar vetiver yang masuk ke
dalam tanah akan berfungsi seperti kolom-kolom beton yang menahan tanah agar
tidak longsor sehingga tanah menjadi stabil. Barisan vetiver menahan material
erosi di belakang tubuhnya sehingga mengurangi kecuraman dan akhirnya membentuk
teras-teras yang lebih landai.
Manfaat Teknologi
Rumput Vetiver
1. Menahan laju air run-off dan material erosi
2. Memperlambat aliran endapan yang terbawa run-off
di titik A sehingga tertumpuk di titik B.
3. Air terus mengalir menuruni lereng C yang lebih
rendah. Akar tanaman (D) mengikat tanah di bawah tanaman hingga kedalaman 3
meter.
4. Dengan membentuk “tiang” yang rapat dan dalam di
dalam tanah, akar-akar ini mencegah terjadinya erosi dan longsor.
Mekanisme Kerja
Teknologi Rumput Vetiver
- Akar-akar vetiver yang masuk ke dalam tanah akan berfungsi seperti kolom-kolom beton yang menahan tanah agar tidak longsor sehingga tanah menjadi stabil.
- Barisan vetiver menahan material erosi di belakang tubuhnya sehingga mengurangi kecuraman dan akhirnya membentuk teras-teras yang lebih landai.
Keunggulan
- Mencegah erosi dan longsoran secara vegetatif (green construction)
- Murah dan mudah dalam pelaksanaan dan pemeliharaan
- Efektif dalam jangka panjang untuk mengatasi permasalahan longsoran pada permukaan lereng jalan
- Rumput Vetiver tidak memiliki geragih ataupun rimpang. Akarnya yang terstruktur baik dan masif dapat tumbuh dengan sangat cepat. Panjangnya dapat mencapai 3-4m di tahun pertama. Akar yang dalam ini membuat Vetiver sangat bagus ketika musim kering dan sulit untuk terseret arus yang kuat.
- Batangnya yang kaku dan tegak mampu tetap berdiri meskipun di arus yang dalam.
- Tahan terhadap hama, penyakit, dan api
- Ketika ditanam rapat, tanaman pagarnya yang lebat berguna sebagai penyaring sedimen yang efektif dan penyebar air.
- Tunas baru yang berkembang dari mahkota dalam tanahnya membuat Vetiver tahan terhadap api, salju, lalu lintas, dan tekanan penggembalaan yang berat.
- Akar akar baru tumbuh dari tunas bakal anakan ketika terkubur oleh sedimen yang terperangkap. Vetiver akan tetap tumbuh dengan lanau (endapan didasar sungai) yang terkumpul dan akhirnya membentuk teras, jika sedimen yang terperangkap tidak dipindahkan.
Karakteristik
Fisiologis
- Toleran terhadap perbedaan iklim seperti kekeringan berkepanjangan, banjir, perendaman dan cuaca ekstrim dari -14 derajat Celcius sampai +55 derajat Celcius.
- Mampu tumbuh kembali dengan cepat setelah terkena dampak kekeringan, cuaca beku, keadaan yang salin dan kondisi yang merugikan setelah cuaca membaik atau setelah amelioran tanah ditambahkan.
- Toleran terhadap beragam pH tanah dari 3.3 sampai 12.5 tanpa pembugaran tanah.
- Toleran terhadap herbisida dan pestisida tinggi.
- Sangat efisien dalam menyerap nutrisi tanah yang larut seperti N dan P dan logam berat dalam air yang terpolusi.
- Sangat toleran terhadap keasaman, alkalinitas, salinitas, soldisitas dan magnesium dalam tingkat menengah tinggi.
- Sangat toleran terhadap Al, Mn dan logam berat seperti As, Cd, Cr, Ni, Pb, Hg, Se dan Zn didalam tanah.
Karakteristik
Ekologis
Meskipun Vetiver sangat toleran
terhadap beberapa keadaan ekstrim tanah dan
iklim seperti disebutkan diatas, seperti umumnya rumput, Vetiver tidak
toleran terhadap tempat teduh. Keteduhan
akan mengurangi pertumbuhannya dan dalam
kasus ekstrim bisa jadi membunuh Vetiver. Karenanya Vetiver sebaiknya
ditanam di lingkungan yang terbuka dan
bebas dari rumput liar. Pengendalian terhadap
rumput liar bisa jadi diperlukan selama masa awal pertumbuhan. Pada
tanah yang mudah terkikis dan tidak
stabil, Vetiver akan mengurangi erosi lebih dulu, menstabilkan tanah yang terkikis (khususnya
lereng yang curam), kemudian dikarenakan
kelembaban dan nutrisi yang tersimpan, meningkatkan mikrolingkungannya sehingga tanaman lain atau
dari benih yang ditaburkan lainnya bisa
ditanam setelahnya. Dikarenakan karakteristik tersebut Vetiver bisa disebut
sebagai tanaman perawat pada tanah yang sakit.
Ketika ditanam pada satu deretan, tumbuhan Vetiver akan
membentuk tanaman pagar yang sangat efektif untuk memperlambat dan menyebarkan
limpasan air, mengurangi erosi tanah,
mempertahankan kelembaban tanah dan memerangkap
sedimen serta zat-zat kimia pertanian. Meskipun tanaman pagar manapun
bisa melakukannya, rumput Vetiver,
karena keajaibannya dan ciri morfologis dan
fisiologis uniknya, bisa melakukannya dengan lebih baik dibanding sistem
lain yang telah diuji coba.
Selebihnya, akar Vetiver yang sangat dalam dan masif
mengikat tanah dan pada saat yang sama
membuatnya sangat sulit untuk dihanyutkan oleh arus yang sangat deras. Akarnya yang dalam sekali dan cepat
tumbuh juga membuat Vetiver sangat toleran terhadap kekeringan dan sangat cocok
untuk stabilisasi lereng curam.
![]() |
| Sistem Vertiver Di Jalan Tol Cipularang |
Letusan gunung berapi, tsunami, banjir, gempa bumi, tanah
longsor dan bencana alam lainnya merenggut ribuan nyawa setiap tahun di seluruh
kepulauan Indonesia. Ribuan orang bermigrasi ke kota setiap tahun karena, dalam
banyak kasus, penurunan produktivitas lahan pertanian, terutama di lereng
gunung. Jika lahan pertanian yang marginal, lereng pegunungan vulkanik dan
garis pantai ditanami vetiver, tidak hanya lahan pertanian menjadi lebih
produktif, meminimalkan erosi serta konservasi tanah dan air sebelum terjadi
bencana yang tak terduga, tetapi nyawa manusia juga akan diselamatkan dan lahan
pedesaan yang berharga dan sungai akan terlindungi. Lahan pertanian yang lebih
produktif akan menghasilkan mata pencaharian yang lebih baik untuk generasi
sekarang dan masa depan di daerah pedesaan – dan dapat menjadi insentif bagi
para migran perkotaan untuk kembali ke desa-desa mereka.
Tonton Video Perjalanan Di Hutan Hujan berikut
Teknologi Sistem Vetiver adalah alat sederhana, murah, efektif dan menguntungkan lingkungan yang dapat mendorong pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia. Hal ini sekarang sedang diadopsi oleh Departemen Pekerjaan Umum, Pertanian, Kehutanan dan Industri, serta perguruan tinggi untuk memperbaiki infrastruktur, lahan pertanian, hutan dan DAS yang pasti akan memerangi perubahan iklim dan mempromosikan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan kemandirian.
Label:
DAS,
DAT,
Gunung,
Konservasi,
Lingkungan,
Mitigasi Bencana,
Sungai
Monday, February 11, 2019
Peran Komunitas Lingkungan Hidup Dalam Pengelolaan Limbah Domestik Di Desa Tanjungsari
Keberadaan limbah sampah dirasakan kian menjadi permasalahan lingkungan yang harus mulai dipikirkan pemecahan penanganannya secara mandiri di tingkat lingkungan. Karena, tidak mungkin selalu mengandalkan pihak lain, dalam hal ini pemerintah, untuk menangani sampah. Apalagi di pedesaan, pengelolaan sampah biasanya tidak terjangkau karena jauh dari fasilitas pembuangan sampah yang ditangani oleh pemerintah. Akhirnya mau tidak mau masyarakat sendirilah yang harus mengelola sampah secara mandiri. Dengan sentuhan kreatifitas, sebenarnya sampah dapat dijadikan peluang ekonomi dengan menggunakan model pemilahan, pengolahan daur ulang sehingga memiliki daya jual di pasaran.
Berdasarkan hasil penemuan di lapangan tidak ditemukan berapa angka pasti dari volume sampah yang dihasilkan setiap harinya di Desa Tanjungsari kecamatan Sukaresik kabupaten Tasikmalaya, namun kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa sebagian masyarakat masih membuang sampah di sungai atau anak sungai yang terdekat dengan rumah. Belum ada managemen pengelolaan yang lebih bersifat ramah lingkungan dan memiliki nilai ekonomis bagi masyarakat. Di samping persepsi dan perilaku masyarakat yang keliru terhadap sampah bahwa sampah dianggap sesuatu yang harus dijauhi, tidak berguna dan kotor sehingga sampah harus dibuang.
Demikian juga pandangan masyarakat terhadap sungai yang dipandang sebagai halaman belakang (backyard) sehingga tidak terlihat terlihat dari depan dalam hal ini oleh masyarakat umum kalau kita menggunakan sungai untuk pembuangan limbah kotoran manusia maupun limbah rumah tangga.
Di samping itu, masih rendahnya kesadaran masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar bibir sungai karena persepsi mereka terhadap Sungai bukan hanya tempat untuk mengalirkan air tetapi juga tempat untuk mengalirkan atau mengikutkan sampah. Sehingga perilaku masyarakat di sekitar masih menjadikan Sungai sebagai tempat pembuangan sampah yang dianggap paling mudah dalam memusnahkan sampah dibandingkan jika harus ditimbun atau dibakar.
Demikian juga pandangan masyarakat terhadap sungai yang dipandang sebagai halaman belakang (backyard) sehingga tidak terlihat terlihat dari depan dalam hal ini oleh masyarakat umum kalau kita menggunakan sungai untuk pembuangan limbah kotoran manusia maupun limbah rumah tangga.
Di samping itu, masih rendahnya kesadaran masyarakat khususnya yang tinggal di sekitar bibir sungai karena persepsi mereka terhadap Sungai bukan hanya tempat untuk mengalirkan air tetapi juga tempat untuk mengalirkan atau mengikutkan sampah. Sehingga perilaku masyarakat di sekitar masih menjadikan Sungai sebagai tempat pembuangan sampah yang dianggap paling mudah dalam memusnahkan sampah dibandingkan jika harus ditimbun atau dibakar.
Model pengelolaan lingkungan yang dilakukan komunitas pemuda dalam mengelola limbah domestik lebih berbasis pada komunitas. Model ini dianggap lebih efektif dan mudah menyentuh akar permasalahan yang sesungguhnya karena melibatkan masyarakat secara langsung. Dalam pengelolaan limbah domestik model berbasis komunitas ini, komunitas yang terlibat dan berperan adalah :
- Komunitas Ibu Rumah Tangga; komunitas ini dipandang sangat penting karena ibu rumah tanggalah yang paham dan berhadapan langsung dengan masalah limbah rumah tangga mulai dari volumenya dan jenis sampah yang ada dalam rumah.
- Komunitas Petani: merupakan kelompok sasaran yang bersentuhan langsung khususnya terkait limbah rumah tangga khususnya yang organik. Kedepannya diharapkan adanya pelatihan dan pemberdayaan sehingga petani mampu mengolah sendiri sampah-sampah rumah tangga yang bisa dijadikan kompos agar para petani mampu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk pabrik atau kimiawi sehingga mampu menekan biaya operasional untuk mengelola lahan pertanian. Di samping itu resiko penggunaan pupuk kimiawi yang terus-menerus digunakan yang dapat berakibat menurunnya kuliatas lingkungan khususnya hilangnya unsur hara dalam tanah atau lahan pertanian.
- Komunitas Guru: Guru; merupakan kelompok sasaran strategis kerena dipandang mampu menyampaikan pesan secara langsung kepada siswanya dari berbagai jenjang. Kesadaran dan kepedulian terhadap lingkungan perlu ditanamakan sejak dini, agar kelak menjadi generasi yang peduli lingkungan termasuk pengenalan model pengelolaan sampah secara mandiri.
- Komunitas Pemuda: Komunitas ini dipandang sangat penting untuk menjadi agent of change dalam memotori gerakan lingkungan yang saat ini menjadi bagian dari isu pemanasan global (global warming).
Pokok Bambu dari Sungai Citanduy di olah menjadi barang bermanfaat
Maka dirintislah suatu kegiatan yang mudah mudahan kedepannya bisa menjadi cikal bakal sebuah Bank Sampah di Desa Tanjungsari ini. Nasabah pertama dari Bank Sampah ini adalah para relawan Destana (Desa Tangguh Bencana) dan Relawan EcoVillage.
Saat ini para relawan sedang melakukan sosialisasi keberadaan Bank Sampah yang dapat menambah nilai produktifitas dan meningkatkan pendapatan rumah tangga, sekaligus peninjauan langsung terhadap kebiasaan masyarakat dalam membuang sampah, serta mengumpulkan data dan informasi guna mengidentifikasi permasalahan, sasaran masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk turut serta dalam mengelola sampah mereka dan memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang Pemilahan Sampah Organik dan Non-organik.
Sampah sampah yang terkumpul di Bank Sampah tidak semuanya di jual kepada penampung. Menggunakan Konsep 3R, yaitu ReUse, Reduce dan Recycle, Sebagian di olah dengan sentuhan kreatifitas, sehingga dapat dijadikan peluang ekonomi dengan menggunakan model pemilahan, pengolahan daur ulang sehingga memiliki daya jual di pasaran. Kalaupun tidak di jual, namun bisa di manfaatkan kembali d rumah masing masing.
Mudah-mudaan, meskipun terkendala dengan keterbatasan tenaga Relawan yang konsisten memiliki kepedulian terhadap lingkungan, konsep atau rencana-rencana yang akan dilaksanakan dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pengelolaan Sampah Domestik bisa terus direalisasikan.
Apalagi kalau sudah menghadapi masalah klasik "Valounteer" dalam menjalankan program yaitu keterbatasan anggaran serta akses-akses untuk mendapatkan pendanaan yang sulit untuk dilakukan secara mandiri jika kegiatan atau program membutuhkan pendanaan yang relative besar seperti rencana pendirian bank sampah.
![]() |
| Memilah Sampah Plastik |
Mudah-mudaan, meskipun terkendala dengan keterbatasan tenaga Relawan yang konsisten memiliki kepedulian terhadap lingkungan, konsep atau rencana-rencana yang akan dilaksanakan dalam pengelolaan Daerah Aliran Sungai dan Pengelolaan Sampah Domestik bisa terus direalisasikan.
Apalagi kalau sudah menghadapi masalah klasik "Valounteer" dalam menjalankan program yaitu keterbatasan anggaran serta akses-akses untuk mendapatkan pendanaan yang sulit untuk dilakukan secara mandiri jika kegiatan atau program membutuhkan pendanaan yang relative besar seperti rencana pendirian bank sampah.
Dukungan pemerintah Desa sangat sangat besar dalam program ini. Disediakannya sekretariat di komplek kantor Desa Tanjungsari menjadi bukti bahwa pemerintah melalui Kepala Desa mendukung sepenuhnya apa yang diprogramkan oleh para relawan. Bahkan Kepala Desa juga melibatkan seluru jajarannya dalam setiap kegiatan yang dilaksanakan komunitas relawan ini.
Tinggal bagaimana membangun jaringan dan mengadakan kerjasama dengan instansi dan dinas terkait yang memiliki agenda dan program dalam bidang lingkungan Hidup dan dalam bidang pengelolaan limbah rumah tangga menjadi pupuk organik atau barang kerajinan.
(Sob)
Tonton Video : Menikmati Suara Burung Di Alam Bebas
Label:
Bank Sampah,
DAS Citanduy,
DAT,
Konsevasi,
Lingkungan,
Pengelolaan Sampah,
Sampah,
Sungai
Peran Komunitas Dalam Pengelolaan Lingkungan DAS Termasuk Pengelolaan Limbah Domestik
Sungai Citanduy merupakan salah
satu sungai yang ada di Jawa Barat, melintasi kabupaten Ciamis,
KabupatenTasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kota Banjar dan bermuara di Segara
Anakan Cilacap Jawa Tengah. Hulu Sungai Citanduy terletak di Pegunungan
Cakrabuana yang memiliki titik puncak tertinggi 1721 m. Aliran sungai Citanduy
mempunyai luas 350.000 Ha, 57% dari luas tersebut merupakan lahan pertanian,
sedangkan 33% berupa hutan dan perkebunan. Topografi dari wilayah sungai
Citanduy yang merupakan daerah yang rata sekitar 30%, daerah bukit dan
bergelombang sekitar 50% dan sisanya sekitar 20% mempunyai karakteristik berupa
tebing atau lereng dengan tekstur tanah yang mudah tererosi. Data tersebut merujuk dari data Dinas Pekerjaan Umum tahun 2006 (DPU, 2006). Bayangkan perubahan topografi yang terjadi sampai saat ini.
Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, secara kasat
mata kondisi sungai Cikidang mengalami kualitas penurunan yang sangat
signifikant terutama jika dilihat dari kualitas lingkungan di sekitar kawasan
sungai yang dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat
setempat. Hampir di sepanjang sungai terdapat pemandangan yang sangat
memprihatinkan dengan sampah berserakan yang tidak dikelola. Sampah plastik menjadi primadona utama penghuni sungai.
Seperti telah disampaikan pada artikel Kondisi Daerah Tangkapan Air Hulu DAS Citanduy sebelumnya, bahwa Sungai Citanduy di daerah hulu adalah pertemuan dua sungai
besar yaitu Citanduy dan Sungai Cikidang, yang bertemu di daerah Tanjungsari
kecamatan Sukaresik. Debit air kedua sungai ini hampir sama besarnya sehingga
jika terjadi hujan deras di kedua hulu sungai tersebut akan mengakibatkan
tersendatnya aliran air akibat benturan kedua sungai di wilayah pertemuan. Dan
tentu saja akibatnya adalah , banjir besar yang melanda hampir sebagian besar
wilayah Desa Tanjungsari Kecamatan Sukaresik. Bahkan menurut Sobur Suryana salah satu Valounteer dan aktivis Lingkungan Hidup di Kabupaten Tasikmalaya, dalam satu tahun bisa terjadi 3 kali banjir. Sungguh luar biasa, betapa setiap tahun warga selalu dihantui ketakutan akan datangnya banjir yang tentu saja akan membawa kerugian materi yang tidak sedikit terutama jika sang banjir datang di saat padi sedang menguning menjelang panen datang.
![]() |
| Obstacle di Sungai Citanduy |
Langkah pertama yang dilakukan adalah membentuk Komunitas Desa Tanggap Bencana (Destana) dan Komunitas EcoVillage untuk mewadahi pergerakan mereka.
Strategi pemberdayaan yang dilakukan oleh komunitas pemuda antara lain melalui perecanaan, program dan aksi, penguatan kelembagaan dan management organisasi, pengembangan jejaring dan kerjasama, serta peningkatan kapasitas SDM. Perencanaaan program serta aksi dilakukan dengan melakukan sosialisasi, pendampingan dan pengembangan jaringan dan kerjasama. Sosialisasi dan pendampingan dilakukan dengan menentukan kelompok sasaran yaitu komunitas ibu-ibu rumah tangga/PKK, Komunitas pemuda dan karang taruna. Sedangkan pengembangan jaringan dan kerjasama seperti yang sudah dilakukan yaitu berkoordinasinya Destana dengan BPBD Kabupaten Tasikmalaya.
Strategi pemberdayaan yang dilakukan oleh komunitas pemuda antara lain melalui perecanaan, program dan aksi, penguatan kelembagaan dan management organisasi, pengembangan jejaring dan kerjasama, serta peningkatan kapasitas SDM. Perencanaaan program serta aksi dilakukan dengan melakukan sosialisasi, pendampingan dan pengembangan jaringan dan kerjasama. Sosialisasi dan pendampingan dilakukan dengan menentukan kelompok sasaran yaitu komunitas ibu-ibu rumah tangga/PKK, Komunitas pemuda dan karang taruna. Sedangkan pengembangan jaringan dan kerjasama seperti yang sudah dilakukan yaitu berkoordinasinya Destana dengan BPBD Kabupaten Tasikmalaya.
Penerapan konkrit dalam pengelolaan DAS Citanduy yaitu dalam bentuk penanaman pohon di sekitar daerah resapan dan tangkapan air serta bantaran-bantaran sungai Citanduy dan Cikidang yang rutin dilakukan hampir setiap 3 bulan 1 kali. Di samping penanaman pohon, pembersihan sungai pun kerap dilakukan untuk menyingkirkan obstacle obstacle yang bisa mengakibatkan sungai terganggu alirannya akibat menumpuknya sampah di tempat tersebut.
Dalam bidang penanganan sampah domestik, di sini juga telah di rintis satu bank sampah yang mudah-mudahan bisa dikembangkan dan dipertahankan.
Meskipun hal ini tidak lantas membuat 100% kawasan Desa Tanjungsari bebas dari banjir yang selalu datang. Karena kenyataannya hal ini masih terus saja terjadi walaupun program yang dilaksanakan sudah mau memasuki tahun kedua. Dan sampah bawaan sungai Citanduy dan Cikidang dari arah hulu pun masih terus berdatangan. Namun hal itu tidak menyurutkan tekad untuk tetap berkarya dan bekerja demi Sungai dan Lingkungan.
Kami berprinsip, biarlah dari arah hulu terus mengalirkan sampah ke wilayah kami. Tapi Kami akan berusaha semaksimal mungkin bahwa tidak ada limbah dan sampah yang akan terbawa ke hilir dari wilayah kami. Mudah mudahan hal ini bisa meminimalisir konsentrasi sampah di sungai bagian hilir. Dan mudah mudah, apa yang kami lakukan akan diikuti oleh sahabat sahabat kami yang berada di bagian hulu maupun hilir sungai ini.
Peran Komunitas Dalam Pengelolaan Limbah Domestik
Fenomena lingkungan, yang jenuh akibat semakin meningkatnya baik volume maupun jenis limbah rumah tangga baik organik atau non organik. Keberadaan limbah sampah dirasakan kian menjadi permasalahan lingkungan yang harus mulai dipikirkan pemecahan penanganannya secara mandiri di tingkat lingkungan. Karena, tidak mungkin selalu mengandalkan pihak lain, dalam hal ini pemerintah, untuk menangani sampah. Apalagi di pedesaan, pengelolaan sampah biasanya tidak terjangkau karena jauh dari fasilitas pembuangan sampah yang ditangani oleh pemerintah. Akhirnya mau tidak mau masyarakat sendirilah yang harus mengelola sampah secara mandiri. Dengan sentuhan kreatifitas, sebenarnya sampah dapat dijadikan peluang ekonomi dengan menggunakan model pemilahan, pengolahan daur ulang sehingga memiliki daya jual di pasaran.
Selengkapnya di Peran Komunitas Lingkungan Hidup Dalam Pengelolaan Limbah Domestik
Label:
Banjir,
DAS,
DAT,
Komunitas,
Lingkungan,
Sampah,
Sungai,
Valounteer
Sunday, February 10, 2019
Kondisi Daerah Tangkapan Air Hulu DAS Citanduy
![]() |
| Longsor Di Hutan Pinus Mangunsewu Buniasih |
Kondisi ekosistem Daerah Aliran
Sungai (DAS) merupakan salah satu isu nasional dalam beberapa tahun terakhir.
Untuk kita ketahui bersama, DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan
satu kesatuan dengan sungai dan anak sungai yang berfungsi menampung, menyimpan
dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara
alami. Namun sayangnya, kondisi DAS, di wilayah Jawa Barat, khususnya di
wilayah Kabupaten Tasikmalaya bagian Utara yang melingkupi Daerah Tangkapan Air
Hulu DAS Citanduy tergolong sangat kritis. Hal ini merupakan akibat kerusakan
lahan di beberapa daerah sehingga membawa konsekuensi meningkatnya potensi
bencana banjir dan longsor.
Untuk diketahui, bahwa Sungai
Citanduy di daerah hulu adalah pertemuan dua sungai besar yaitu Citanduy dan
Sungai Cikidang, yang bertemu di daerah Tanjungsari kecamatan Sukaresik. Debit
air kedua sungai ini hampir sama besarnya sehingga jika terjadi hujan deras di
kedua hulu sungai tersebut akan mengakibatkan tersendatnya aliran air akibat benturan
kedua sungai di wilayah pertemuan. Dan tentu saja akibatnya adalah , banjir
besar yang melanda hampir sebagian besar wilayah Desa Tanjungsari Kecamatan
Sukaresik.
Bencana ini merupakan salah satu
akibat dari kondisi DAS yang kritis yang tidak mampu menampung curah hujan yang
tinggi. Untuk itu, pentingnya DAS sebagai satu unit perencanaan dan pengelolaan
sumber daya alam yang merupakan kesatuan ekosistem yang mencangkup hubungan
timbal balik, sumberdaya alam dan lingkungan DAS dengan kegiatan manusia guna
kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.
Penggunaan lereng-lereng bukit
untuk kegiatan pertanian semusim seperi kentang, kol dan sayuran lainnya, tanpa
disadari dan tidak bisa kita pungkiri, hal ini menyebabkan fungsi hidrologi
DAS, yaitu kemampuan menyerap dan menyimpan dan mengalirkan air menjadi
menurun, sehingga bencana hidrologis seperti tanah longsor, banjir dan
kekeringan yang merugikan masyarakat dapat lebih mudah terjadi.
Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama, terutama pemerintah bahwa meningkatnya kerusakan DAS dikarenakan adanya kebutuhan lahan yang semakin tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya kepentingan pembangunan sektoral dan daerah yang berakibat pada berubahnya status, fungsi dan peruntukan kawasan hutan menjadi penggunaan lainnya, seperti terjadinya pertanian dan perkebunan didalam kawasan tanpa izin, penebangan kayu tanpa izin, penambangan tanpa izin serta memasuki kawasan hutan tanpa izin. Dalam hal ini Pemerintah harus tegas dan konsisten dalam penerapan dan pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sehingga dapat mencegah terjadinya perubahan atau alih fungsi lahan yang bukan peruntukannya.
Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama, terutama pemerintah bahwa meningkatnya kerusakan DAS dikarenakan adanya kebutuhan lahan yang semakin tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya kepentingan pembangunan sektoral dan daerah yang berakibat pada berubahnya status, fungsi dan peruntukan kawasan hutan menjadi penggunaan lainnya, seperti terjadinya pertanian dan perkebunan didalam kawasan tanpa izin, penebangan kayu tanpa izin, penambangan tanpa izin serta memasuki kawasan hutan tanpa izin. Dalam hal ini Pemerintah harus tegas dan konsisten dalam penerapan dan pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sehingga dapat mencegah terjadinya perubahan atau alih fungsi lahan yang bukan peruntukannya.
Mekanisme Rewards and Punishment
dapat diterapkan oleh pemerintah dalam memecahkan permasalahan ini . Contohnya,
bagi Desa yang menanam pohon, mempunyai hutan desa sendiri dan mampu
melestarikan mata air di wilayahnya sehingga pada saat musim kemarau masih
terjamin ketersedian mata air bagi warganya dapat diberikan tambahan dana desa
dari Kemendes. Kemudian Kemendikbud dapat memberikan beasiswa kepada anak
petani yang bersedia mengganti tanaman kentang (penyebab longsor lainnya) ke
tanaman lain yang mampu mencegah longsor. Dan kementerian LHK menyediakan bibit
yang dibutuhkan oleh petani tersebut secara gratis. Atau diberikan kompensasi
lain yang intinya memudahkan para petani musiman di lereng lereng perbukitan
agar bisa mengganti produk pertaniannya dengan yang ramah lingkungan.
Tidak dapat dipungkiri, dengan
meningkatnya fungsi DAS maka kesejahteraan rakyat atau pendapatan rakyat akan
meningka. jJka Daerah Aliran Sungai Sehat, Rakyat yang berada dan hidup
disekitarnya akan Sejahtera. Disamping itu, mewujudkan DAS yang Lestari adalah
langkah strategis dalam upaya mengantisipasi perubahan iklim global, degradasi
hutan, deforestasi hutan dan lahan, kerusakan lingkungan dan kelestarian
lingkungan, serta memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya
menanam dan memelihara pohon sebagai sumber kehidupan. Kegiatan penanaman pohon
ini hendaknya ditindaklanjuti dengan upaya pemeliharaan, sehingga memberikan
manfaat yang besar bagi kesejahteraan masyarakat.
Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah dengan dinas dinas terkaitnya dapat menfasilitasi dan bekerjasama dengan penggiat lingkungan hidup dan kehutanan serta masyarakat di sekitar DAS untuk melakukan langkah-langkah seperti, menentukan tepat lokasi yang ditargetkan sebagai lokasi penanaman, menentukan jenis bibit yang dibutuhkan berikut jenis pupuk yang dibutuhkan, melakukan kegiatan penanaman dengan benar sesuai dengan standar operasional penanaman pohon, serta yang tidak kalah penting memelihara tanaman yang sudah dilakukan penanaman secara berkesinambungan.
Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah dengan dinas dinas terkaitnya dapat menfasilitasi dan bekerjasama dengan penggiat lingkungan hidup dan kehutanan serta masyarakat di sekitar DAS untuk melakukan langkah-langkah seperti, menentukan tepat lokasi yang ditargetkan sebagai lokasi penanaman, menentukan jenis bibit yang dibutuhkan berikut jenis pupuk yang dibutuhkan, melakukan kegiatan penanaman dengan benar sesuai dengan standar operasional penanaman pohon, serta yang tidak kalah penting memelihara tanaman yang sudah dilakukan penanaman secara berkesinambungan.
Mari kita bertindak sebelum
semuanya terlambat dan lebih parah lagi kondisinya. Jangan tunggu sungai
Citanduy seperti sungai Cimanuk yang pernah mengamuk di Garut. Meninggalkan
duka dan kerugian materi yang cukup besar.
Video Banjir Bandang Sulawesi Selatan
Label:
Banjir,
DAS Citanduy,
DAT Citanduy,
Konsevasi,
Lingkungan,
Sungai
Saturday, February 9, 2019
BENCANA HIDROLOGI MENGINTAI, PULIHKAN HULU DAERAH ALIRAN SUNGAI !!!
Banyak bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) berupa
lahan kritis atau tidak tertutup vegetasi akibat perilaku manusia seperti
penebangan pohon ilegal atau penggunaan lereng-lereng bukit untuk kegiatan
pertanian semusim. Hal ini menyebabkan fungsi hidrologi Daerah Aliran Sungai, yaitu kemampuan
menyerap dan menyimpan dan mengalirkan air menjadi menurun, sehingga bencana
hidrologis seperti tanah longsor, banjir dan kekeringan yang merugikan
masyarakat dapat lebih mudah terjadi.
Indikator dari sebuah DAS yang
sehat ialah tersedianya air dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk
berbagai keperluan, terjaganya kesuburan tanah dan produktifitas lahan, serta
berkurangnya bencana-bencana hidrologis seperti banjir, tanah longsor dan
kekeringan. Semua ini adalah prasyarat untuk masyarakat yang sejahtera. Oleh
karenanya bila DAS sehat, maka masyarakat yang hidup di Daerah Aliran Sungai tersebut akan
sejahtera.
![]() |
| Kawasan Hulu Sungai Citanduy |
![]() |
| Longsor Di Mangunsewu, DAT DAS Citanduy |
Peta Daerah Tangkapan Air Sungai Citanduy Bagian Hulu
Setiap tahun akibat bencana hidrorologis yang terjadi menyebabkan petani merugi karena gagal panen, jatuhnya korban jiwa, rusaknya infrastruktur, kerugian finansial hingga ratusan milyar rupiah, dan bahkan menjadi penyebab penurunan kenyamanan dan kualitas hidup manusia yang tentunya bisa berdampak jangka panjang bagi kualitas generasi manusia Indonesia kedepan.
Oleh karenanya kelestarian Daerah Aliran Sungai harus dijaga dengan perspektif yang lebih luas yaitu pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara
terpadu. Tidak hanya cukup dengan menanam pohon saja, namun juga harus
memastikan terbentuknya tutupan vegetasi hutan terutama pada DTA (daerah
tangkapan air) atau wilayah hulu sebuah Daerah Aliran Sungai. Selain itu pembangunan-pembangunan
sarana fisik pencegah erosi-sedimentasi juga harus terus diperbanyak.
Pengelolaan Daerah Aliran Sungai bukan sekedar fokus pada upaya penanaman saja, tetapi lebih pada reorientasi gerakan rehabilitasi lahan sehingga Daerah Tangkapan Air DAS menjadi sebuah ekosistem, habitat bagi kehidupan. Memulihkan Kawasan Daerah Aliran Sungai sekaligus melestarikan Lingkungan Hidup di kawasan tersebut. Jika kawasan DAS Lestari menjadi ekositem hutan, maka Kawasan DAS tersebut akan menjadi sehat. Hutan atau Alam yang sehat akan mampu mengatur siklus hidrologi dengan baik, saat hujan tidak banjir dan ketika kemarau tidak kekeringan.
Tonton Video Berikut :
Label:
Banjir,
DAS,
Konsevasi,
Lingkungan,
Sungai
Wednesday, February 6, 2019
PETISI !!! TOLAK PENURUNAN FUNGSI CAGAR ALAM MENJADI TAMAN WISATA ALAM
Apa untungnya punya
tempat wisata, di tengah korban bencana
Nampaknya sudah semakin terasa ancaman mendekati kita yang masih merasa aman. Apalagi yang memang sudah terdampak & menjadi penghuni dampak bencana tersebut. Apapun alasannya, kejadian longsor, banjir bandang, banjir di pemukiman / perkotaan. Menjadi acara ceremonial bagi mereka yang terlebih dahulu memilihnya. Bukan tanpa alasan, rekayasa teknis atau pemecahan masalah dari banyaknya bencana tersebut pun menjadi ladang bagi mereka yang terbiasa menyusun & menganggarkan solusi hari ini, lalu menjadi masalah di kemudian hari.
Dangkalnya cara berpikir seorang manusia dapat mewariskan berbagai bencana bagi anak cucu kita kelak. Sebut saja banjir, merupakan genangan air yang tak lagi mampu dibendung dengan rekayasa sementara. Hal ini sebagai wujud dari kekuatan salah satu elemen semesta, air. Rumusnya sangat mudah: Banjir atau Genangan = Curah Hujan – (Resapan + Penguapan)
Maka, tidak bisa kita menafikan kehadiran sungai yang terbagi menjadi daerah Hulu sungai, daerah tengah sungai, dan hilir sungai. Jika dilihat 3 hal tersebut, maka perlu kita memprioritaskan penyelesaian berbagai masalah yang mengakar, salah satu masalahnya di bagian hulu sungai.
Sungai Citarum, selain memiliki Hulu Sungai di Cisanti, Citarum pun dialiri pula oleh sungai di daerah lainnya. Salah satunya sungai yang berada di Kawasan Cagar Alam Kamojang. Dengan bantuan Area Resapan Cagar Alam Kamojang pun banjir masih dirasakan sangat merugikan banyak pihak khususnya Kabupaten Bandung. Namun, Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) sebagai pihak yang berwenang telah melakukan pembiaran kerusakan di Cagar Alam tersebut. Parahnya lagi, KLHK menurunkan fungsi Cagar Alam Kamojang menjadi Taman Wisata Alam seluas 2.931 hektar. Tak bisa dibayangkan luasan & besaran dampak dari berkurang dan menghilangnya Area Resapan tersebut.
Pun, Sungai Cimanuk, 34 nyawa melayang akibat banjir bandang. Akibat kencangnya deras sungai sebagai indikasi dari hilangnya fungsi resapan di daerah ketinggian di Garut. Padahal dibantu dengan adanya fungsi resapan dari Kawasan Cagar Alam Papandayan. Lagi-lagi hilangnya nyawa saudara kita di Garut, tidak menghentikan KLHK untuk menurunkan fungsi Cagar Alam Papandayan menjadi Taman Wisata Alam. Apakah kehadiran Taman Wisata Alam meminimalisir banjir bandang & nyawa yang melayang karenanya?
Baca juga : Bencana Hidrologi Mengintai, Pulihkan Hulu Daerah Aliran Sungai !!!
Cagar Alam menurut Undang-Undang Nomor 5/1990, mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. Bahkan dalam Pasal 37 ayat 2, Bab Peran Serta Rakyat, disebutkan; Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. Namun hal itu nihil dilakukan pemerintah yang diwakilkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK). Sebaliknya, KLHK sebagai pihak yang berwenang melakukan pembiaran kerusakan di Cagar Alam. Seyogyanya mempertahankan Status sebuah Kawasan sebagaimana mestinya, ternyata malah menurunkan Status berikut Fungsi sebuah Kawasan Cagar Alam menjadi Taman Wisata Alam. TOLAK SK.25/MENLHK/SETJEN/PLA.2/1/2018
Mari, selamatkan nyawa kita.
Sumber Informasi:
sadarkawasan.com
SETUJUI PETISI INI !
Tolak Penurunan Fungsi Cagar Alam Menjadi Taman Wisata Alam
Nampaknya sudah semakin terasa ancaman mendekati kita yang masih merasa aman. Apalagi yang memang sudah terdampak & menjadi penghuni dampak bencana tersebut. Apapun alasannya, kejadian longsor, banjir bandang, banjir di pemukiman / perkotaan. Menjadi acara ceremonial bagi mereka yang terlebih dahulu memilihnya. Bukan tanpa alasan, rekayasa teknis atau pemecahan masalah dari banyaknya bencana tersebut pun menjadi ladang bagi mereka yang terbiasa menyusun & menganggarkan solusi hari ini, lalu menjadi masalah di kemudian hari.
Dangkalnya cara berpikir seorang manusia dapat mewariskan berbagai bencana bagi anak cucu kita kelak. Sebut saja banjir, merupakan genangan air yang tak lagi mampu dibendung dengan rekayasa sementara. Hal ini sebagai wujud dari kekuatan salah satu elemen semesta, air. Rumusnya sangat mudah: Banjir atau Genangan = Curah Hujan – (Resapan + Penguapan)
Maka, tidak bisa kita menafikan kehadiran sungai yang terbagi menjadi daerah Hulu sungai, daerah tengah sungai, dan hilir sungai. Jika dilihat 3 hal tersebut, maka perlu kita memprioritaskan penyelesaian berbagai masalah yang mengakar, salah satu masalahnya di bagian hulu sungai.
Sungai Citarum, selain memiliki Hulu Sungai di Cisanti, Citarum pun dialiri pula oleh sungai di daerah lainnya. Salah satunya sungai yang berada di Kawasan Cagar Alam Kamojang. Dengan bantuan Area Resapan Cagar Alam Kamojang pun banjir masih dirasakan sangat merugikan banyak pihak khususnya Kabupaten Bandung. Namun, Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) sebagai pihak yang berwenang telah melakukan pembiaran kerusakan di Cagar Alam tersebut. Parahnya lagi, KLHK menurunkan fungsi Cagar Alam Kamojang menjadi Taman Wisata Alam seluas 2.931 hektar. Tak bisa dibayangkan luasan & besaran dampak dari berkurang dan menghilangnya Area Resapan tersebut.
Pun, Sungai Cimanuk, 34 nyawa melayang akibat banjir bandang. Akibat kencangnya deras sungai sebagai indikasi dari hilangnya fungsi resapan di daerah ketinggian di Garut. Padahal dibantu dengan adanya fungsi resapan dari Kawasan Cagar Alam Papandayan. Lagi-lagi hilangnya nyawa saudara kita di Garut, tidak menghentikan KLHK untuk menurunkan fungsi Cagar Alam Papandayan menjadi Taman Wisata Alam. Apakah kehadiran Taman Wisata Alam meminimalisir banjir bandang & nyawa yang melayang karenanya?
Baca juga : Bencana Hidrologi Mengintai, Pulihkan Hulu Daerah Aliran Sungai !!!
Cagar Alam menurut Undang-Undang Nomor 5/1990, mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. Bahkan dalam Pasal 37 ayat 2, Bab Peran Serta Rakyat, disebutkan; Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. Namun hal itu nihil dilakukan pemerintah yang diwakilkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK). Sebaliknya, KLHK sebagai pihak yang berwenang melakukan pembiaran kerusakan di Cagar Alam. Seyogyanya mempertahankan Status sebuah Kawasan sebagaimana mestinya, ternyata malah menurunkan Status berikut Fungsi sebuah Kawasan Cagar Alam menjadi Taman Wisata Alam. TOLAK SK.25/MENLHK/SETJEN/PLA.2/1/2018
Mari, selamatkan nyawa kita.
Sumber Informasi:
sadarkawasan.com
SETUJUI PETISI INI !
Tolak Penurunan Fungsi Cagar Alam Menjadi Taman Wisata Alam
Wednesday, January 23, 2019
BANJIR LANDA 53 KECAMATAN DI SULAWESI SELATAN, RIBUAN WARGA MENGUNGSI
Hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang dan gelombang pasang telah menyebabkan sungai-sungai meluap sehingga banjir di wilayah Sulawesi Selatan pada 22/1/2019 siang hari. Data sementara tercatat 53 kecamatan di 9 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami banjir yaitu di Kabupaten Jeneponto, Gowa, Maros, Soppeng, Barru, Wajo, Bantaeng, Pangkep dan Kota Makassar.
Dampak sementara akibat banjir, longsor dan angin kencang yang berhasil dihimpun Posko BNPB berdasarkan laporan dari BPBD, tercatat 8 orang meninggal dunia, 4 orang hilang, ribuan rumah terendam banjir, ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman, dan 10.021 hektar sawah terendam banjir. Korban meninggal dunia ditemukan di Jeneponto 5 orang dan Gowa 3 orang, sedangkan korban hilang terdapat di Jeneponto 3 orang dan Pangkep 1 orang. Hingga 23/1/2019 pukul 14.00 WIB banjir masih banyak melanda di daerah. Penanganan darurat dan pendataan masih terus dilakukan sehingga update data akan berubah. Demikian disampaikan Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilis resminya.
Sutopo melanjutkan, Di Kabupaten Jeneponto, banjir melanda 21 desa di 10 kecamatan yaitu Kecamatan Arung Keke, Bangkala, Bangkala Barat, Batang, Binamu, Tamalatea, Tarowang, Kelara, dan Turatea dengan tinggi banjir 50 – 200 centimenter. Banjir akibat hujan deras sehingga sungai-sungai meluap, diantaranya Sungai Topa, Allu, Bululoe, Tamanroya, Kanawaya, dan Tarowang. Dampak yang ditimbulkan adalah 5 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, 5 rumah hanyut, 51 rumah rusak berat, ribuan warga mengungsi dan ribuan rumah terendam banjir. Evakuasi, pencarian, penyelamatan dan distribusi bantuan masih terus dilakukan. Banyak warga yang mengungsi sementara di atap rumah sambil menunggu dievakuasi. Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.
Di Kota Makassar, banjir melanda 14 kecamatan yaitu Kecamatan Biringkanaya, Bontoloa, Kampung Sangkarang, Makassar, Mamajang, Manggala, Mariso, Pankkukang, Rampocini, Tallo, Tamalanrea, Tamalate, Ujung Pandang, dan Ujung Tanah. Sekitar 1.000 jiwa warga mengungsi. Banjir juga disebabkan hujan deras kemudian sungai-sungai yang bermuara di Kota Makassar meluap.
Di Kabupaten Gowa, banjir melalanda 7 kecamatan yaitu Somba Opu, Bontomanannu, Pattalasang, Parangloe, Palangga, Tombolonggo, dan Manuju. Sekain hujan deras, banjir juga disebabkan dibukanya pintu Waduk Bili-Bili karena terus meningkat volume air di waduk sehingga untuk mengamankan waduk maka debit aliran keluar dari Waduk Bili-Bili ditingkatkan.
Tercatat 3 orang meninggal dunia, 45 orang luka-luka, 2.121 orang mengungsi yang tersebar di 13 titik pengungsian, lebih dari 500 unit rumah terendam banjir setinggi 50 – 200 centimeter ddari dampak banjir di Gowa. Banjir juga menyebabkan 2 jembatan rusak berat sehingga tidak dapat digunakan yaitu jembatan Jenelata di Desa Moncong Loe Kecamatan Manuju dan jembatan di Dusun Limoa Desa Patalikang Kecamatan Manuju. Hujan deras juga memicu longsor di beberapa tempat sehingga menutup jalan dan merusak beberapa rumah.
Sementara itu banjir di Kabupaten Marros melanda 11 kecamatan. Lebih dari 1.400 orang mengungsi. Pendataan masih dilakukan. Listrik padam sehingga komunikasi juga putus. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan Pusdalops BPBD. Tim Reaksi Cepat BNPB mendampingi BPBD. Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh tim gabungan. BPBD bersama , TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.
Perahu karet dan bantuan permakanan untuk pengungsi masih diperlukan. Korban hilang masih dilakukan pencarian. Kondisi hujan yang masih berlangsung dan luasnya wilayah yang terkena banjir cukup menyulitkan dalam penanganan.
Hujan ekstrem yang turun sejak 22/1/2019 di beberapa wilayah Sulawesi Selatan menyebabkan banjir. Tercatat di beberapa stasiun penakar hujan milik Kementerian PU Pera dan BMKG mencatat di Pos 1 Bawangkaraeng 308 milimeter per hari, Lengkese 329 milimeter per hari, KD-1 234 milimeter per hari, Limbungan 328 milimeter per hari, dan Bili-Bili 88 milimeter per hari. Intensitas curah hujan setebal ini tergolong ekstrem sehingga kondisi permukaan tanah tidak mampu menampung semuanya dan sungai juga tidak mampu mengatuskan aliran permukaan, akibatnya banjir.
Saat ini debit dan volume Waduk Bili-Bili terus menurun. Hingga 23/1/2019 pukul 14.00 WIB, tinggi muka air Waduk Bili-Bili sudah mulai ada penurunan menjadi 100,64 meter, volume waduk 277,55 juta meter kubik, dan inflow sekitar 927,77 meter kubik per detik. Meskipun masih dalam batas Siaga namun kondisinya terus mengalami penurunan.
Pemerintah daerah dan masyarakat dihimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir dan tanah longsor. BMKG telah menyebarkan peringatan dini hujan lebat selama 23 – 30 Januari 2019. Sebagian besar wilayah Indonesia puncak hujan berlangsung selama Januari hingga Februari 2019. Secara statistik dari data kejadian bencana selama 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa selama bulan Januari dan Februari adalah puncak dari kejadian bencana hidrometeorologi yaitu banjir, longsor dan puting beliung. Polanya mengikuti dari pola curah hujan.
Dampak sementara akibat banjir, longsor dan angin kencang yang berhasil dihimpun Posko BNPB berdasarkan laporan dari BPBD, tercatat 8 orang meninggal dunia, 4 orang hilang, ribuan rumah terendam banjir, ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman, dan 10.021 hektar sawah terendam banjir. Korban meninggal dunia ditemukan di Jeneponto 5 orang dan Gowa 3 orang, sedangkan korban hilang terdapat di Jeneponto 3 orang dan Pangkep 1 orang. Hingga 23/1/2019 pukul 14.00 WIB banjir masih banyak melanda di daerah. Penanganan darurat dan pendataan masih terus dilakukan sehingga update data akan berubah. Demikian disampaikan Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilis resminya.
Sutopo melanjutkan, Di Kabupaten Jeneponto, banjir melanda 21 desa di 10 kecamatan yaitu Kecamatan Arung Keke, Bangkala, Bangkala Barat, Batang, Binamu, Tamalatea, Tarowang, Kelara, dan Turatea dengan tinggi banjir 50 – 200 centimenter. Banjir akibat hujan deras sehingga sungai-sungai meluap, diantaranya Sungai Topa, Allu, Bululoe, Tamanroya, Kanawaya, dan Tarowang. Dampak yang ditimbulkan adalah 5 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, 5 rumah hanyut, 51 rumah rusak berat, ribuan warga mengungsi dan ribuan rumah terendam banjir. Evakuasi, pencarian, penyelamatan dan distribusi bantuan masih terus dilakukan. Banyak warga yang mengungsi sementara di atap rumah sambil menunggu dievakuasi. Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.
Di Kota Makassar, banjir melanda 14 kecamatan yaitu Kecamatan Biringkanaya, Bontoloa, Kampung Sangkarang, Makassar, Mamajang, Manggala, Mariso, Pankkukang, Rampocini, Tallo, Tamalanrea, Tamalate, Ujung Pandang, dan Ujung Tanah. Sekitar 1.000 jiwa warga mengungsi. Banjir juga disebabkan hujan deras kemudian sungai-sungai yang bermuara di Kota Makassar meluap.
Di Kabupaten Gowa, banjir melalanda 7 kecamatan yaitu Somba Opu, Bontomanannu, Pattalasang, Parangloe, Palangga, Tombolonggo, dan Manuju. Sekain hujan deras, banjir juga disebabkan dibukanya pintu Waduk Bili-Bili karena terus meningkat volume air di waduk sehingga untuk mengamankan waduk maka debit aliran keluar dari Waduk Bili-Bili ditingkatkan.
Tercatat 3 orang meninggal dunia, 45 orang luka-luka, 2.121 orang mengungsi yang tersebar di 13 titik pengungsian, lebih dari 500 unit rumah terendam banjir setinggi 50 – 200 centimeter ddari dampak banjir di Gowa. Banjir juga menyebabkan 2 jembatan rusak berat sehingga tidak dapat digunakan yaitu jembatan Jenelata di Desa Moncong Loe Kecamatan Manuju dan jembatan di Dusun Limoa Desa Patalikang Kecamatan Manuju. Hujan deras juga memicu longsor di beberapa tempat sehingga menutup jalan dan merusak beberapa rumah.
Sementara itu banjir di Kabupaten Marros melanda 11 kecamatan. Lebih dari 1.400 orang mengungsi. Pendataan masih dilakukan. Listrik padam sehingga komunikasi juga putus. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan Pusdalops BPBD. Tim Reaksi Cepat BNPB mendampingi BPBD. Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh tim gabungan. BPBD bersama , TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.
Perahu karet dan bantuan permakanan untuk pengungsi masih diperlukan. Korban hilang masih dilakukan pencarian. Kondisi hujan yang masih berlangsung dan luasnya wilayah yang terkena banjir cukup menyulitkan dalam penanganan.
Hujan ekstrem yang turun sejak 22/1/2019 di beberapa wilayah Sulawesi Selatan menyebabkan banjir. Tercatat di beberapa stasiun penakar hujan milik Kementerian PU Pera dan BMKG mencatat di Pos 1 Bawangkaraeng 308 milimeter per hari, Lengkese 329 milimeter per hari, KD-1 234 milimeter per hari, Limbungan 328 milimeter per hari, dan Bili-Bili 88 milimeter per hari. Intensitas curah hujan setebal ini tergolong ekstrem sehingga kondisi permukaan tanah tidak mampu menampung semuanya dan sungai juga tidak mampu mengatuskan aliran permukaan, akibatnya banjir.
Saat ini debit dan volume Waduk Bili-Bili terus menurun. Hingga 23/1/2019 pukul 14.00 WIB, tinggi muka air Waduk Bili-Bili sudah mulai ada penurunan menjadi 100,64 meter, volume waduk 277,55 juta meter kubik, dan inflow sekitar 927,77 meter kubik per detik. Meskipun masih dalam batas Siaga namun kondisinya terus mengalami penurunan.
Pemerintah daerah dan masyarakat dihimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir dan tanah longsor. BMKG telah menyebarkan peringatan dini hujan lebat selama 23 – 30 Januari 2019. Sebagian besar wilayah Indonesia puncak hujan berlangsung selama Januari hingga Februari 2019. Secara statistik dari data kejadian bencana selama 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa selama bulan Januari dan Februari adalah puncak dari kejadian bencana hidrometeorologi yaitu banjir, longsor dan puting beliung. Polanya mengikuti dari pola curah hujan.
Label:
Banjir,
Bencana,
Konsevasi,
Lingkungan,
Sungai
Thursday, January 17, 2019
Permasalahan Sampah Di Daerah Aliran Sungai
![]() |
| Pertemuan Sungai Cikidang dan Sungai Citanduy |
Daerah Aliran sungai (DAS) merupakan modal pembangunan nasional yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan dan penghidupan manusia. Namun dalam kenyataannya tidak jarang kawasan ini di pandang sebagai tempat pembuangan akhir dari sampah sampah yang dihasilkan terutama dari sampah rumah tangga (limbah domestik). Baik dari dapur rumah tangga atau bahkan dari industri rumah tangga.
Perilaku dan persepsi masyarakat setempat yang masih belum berorientasi pada pentingnya mengelola limbah domestik terutama kawasan daerah aliran sungai dapat berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan dan kualitas air yang menjadi sumber penghidupan manusia.
Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus maka akan beresiko pada terjadinya kerusakan lingkungan yang menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir dan akan berpengaruh pada buruknya kualitas air sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi sebagian besar masyarakat yang mayoritas menyandarkan diri pada sektor pertanian dan perikanan.
Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terhadap beberapa anak sungai yang bermuara di sungai Cikidang, secara kasat mata kondisi anak sungai mengalami kualitas penurunan yang sangat signifikant terutama jika dilihat dari kualitas lingkungan di sekitar kawasan sungai yang dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat setempat. Hampir di sepanjang sungai terdapat pemandangan yang sangat memprihatinkan dengan sampah berserakan yang tidak dikelola. Belum lagi anak sungai yang melintasi sentra industri tahu dan tempe di mana mereka membuang limbah pengolahan langsung ke sungai. Indikasi lain dapat dilihat dari warna air yang cenderung kehijauan dan berbusa di musim kemarau serta banyaknya sampah plastik yang tersangkut dan bau air yang menyengat.
Tonton Video Materi Pendidikan Siaga Tsunami
Label:
Berita,
DAS,
Konsevasi,
Lingkungan,
Sungai
Subscribe to:
Posts (Atom)
Support by :
Popular Posts
-
Seperti telah di bahas dalam artikel sebelumnya yaitu Sekilas Tentang Gunung Cakra Buana , bahwa Gunung Cakrabuana adalah gunung di Jawa Ba...
-
SALAH satu stasiun legendaris di Indonesia dan tersimpan kisah mistis adalah Stasiun Cipeundeuy. Stasiun ini merupakan stasiun kereta api...
-
Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran ...
-
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menyetujui Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) se-Jawa Barat untuk menekan penularan virus...
-
Gunung cakrabuana yang berada di ketinggian sekitar 1721 meter dari permukaan air laut ini selain memiliki keindahan alam juga banyak menyim...
-
Akar wangi atau narwastu (serai wangi, rumput akar wangi, vetiver , Chrysopogon zizanioides syn . Vetiveria zizanioides , Andropogon zizani...



















