Showing posts with label Banjir. Show all posts
Showing posts with label Banjir. Show all posts

Thursday, March 21, 2019

Kota Anda Mulai Kebanjiran ? Ada Yang Salah Dengan Sistem Drainase Kota Anda !!!

Drainase adalah pembuangan massa air secara alami atau buatan dari permukaan atau bawah permukaan dari suatu tempat. Pembuangan ini dapat dilakukan dengan mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Irigasi dan drainase merupakan bagian penting dalam penataan sistem penyediaan air di bidang pertanian maupun tata ruang.

Sistem Drainase Harus Terintegrasi dari Hulu Ke Hilir
Saluran drainase sering kali dirujuk sebagai drainase saja karena secara teknis hampir semua drainase terkait dengan pembuatan saluran. Saluran drainase permukaan biasanya berupa parit , sementara untuk di bawah tanah disebut gorong-gorong.


Dalam lingkup rekayasa sipil, drainase dibatasi sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal sesuai dengan kepentingan. Dalam tata ruang, drainase berperan penting untuk mengatur pasokan air demi pencegahan banjir. Drainase juga bagian dari usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas (tingkat keasinan atau kadar garam dalam tanah).

Sistem Drainase yang baik dan benar di lihat dari berbagai aspek, baik teknik, lingkungan dan sebagainya telah di atur Pemerintah dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.

Menurut Peraturan Pemerintah ini, Sistem Drainase Perkotaan adalah satu kesatuan sistem teknis dan non teknis dari Prasarana dan Sarana Drainase Perkotaan.
Prasarana Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun di buat oleh manusia, yang berfungsi menyalurkan kelebihan air dari suatu kawasan ke badan air penerima.
Parit Bebas Sampah Menyalurkan kelebihan Air
Ke Kawasan Penerima


Sarana Drainase adalah Bangunan pelengkap yang merupakan bangunan yang ikut mengatur dan mengendalikan sistem aliran air hujan agar aman dan mudah melewati jalan, belokan daerah curam. Bangunan tersebut berupa gorong gorong, pertemuan saluran, bangunan terjunan, jembatan, tali tali air (selokan, saluran air, inlet air dari jalan ke gorong gorong), pompa, pintu air.

Tujuan dari diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini adalah untuk mewujudkan Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan yang memenuhi persyaratan tertib administrasi, ketentuan teknis, ramah lingkungan dan memenuhi keandalan pelayanan. Sehingga dapat menciptakan lingkungan permukiman yang sehat dan bebas genangan serta dapat meningkatkan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian air.

Sistem Drainase harus terintegrasi dari hulu sampai hilir. Jangan sampai pembuatan parit atau gorong gorong di satu Kota menghabiskan dana milyaran namun pada kenyataannya saat musim hujan datang masih saja terjadi genangan air atau banjir. Hal ini terjadi karena terhambatnya saluran drainase ke kawasan buangan air terhambat. Bisa karena terputusnya jalur akibat pengerjaan yang asal asalan atau bahkan kecurangan para kontraktor yang mengurangi bobot pekerjaan demi keuntungan yang lebih besar bagi pihak mereka. Mungkin akibat dari masyarakat sendiri yang belum paham peran peran mereka dalam menjaga lingkungannya. Misalnya masih membuang sampah ke dalam saluran drainase dan mendirikan bangunan di atas saluran saluran drainase.



Demi Kota dan Lingkungan kita tercinta, tempat kita hidup dan berkehidupan, mari saling mengingatkan betapa pentingnya menjaga menjaga lingkungan kita tetap bersih, bebas dari sampah dan limbah. Karena ketika musibah datang kita sendiri yang akan menanggung dan merasakan akibatnya.

Tonton video Berikut :



Wednesday, March 20, 2019

Update Banjir Bandang Jayapura Papua, 79 Orang Meninggal Dunia 4.728 Orang Mengungsi

Pada tahun 2007 juga pernah terjadi hal serupa, hal ini tidak boleh terulang kembali. Apa yang menjadi penyebabnya, paling tidak ada tiga faktor, yakni pertama, karena faktor topografi, kedua faktor cuaca, karena curah hujan tinggi selama 5 jam 30 menit, dan ketiga akibat perbuatan manusia, yakni seperti pembangunan pemukiman, dan pengalihan fungsi lahan. Demikian disampaikan Kepala BNPB Doni Monardo pada kunjungannya ke Jayapura, Senin (18/3) dalam rangka meninjau lokasi pasca banjir bandang seperti lansir dari laman BNPB.
Kepala BNPB, Doni Monardo Meninjau Lokasi Pengungsian
Foto : FP. BNPB
Aster Kasdam 17 Cendrawasih, Andi Prihantono yang juga turut mendampingi Kepala BNPB mengatakan bahwa banjir bandang diakibatkan intensitas hujan deras dan 18.00-23.30 WIT dan Bupati sudah menetapkan status tanggap darurat sejak tanggal 17 Maret 2019, "Terhitung 14 hari masa tanggap darurat".


Kemiringan hutan antara 40 sampai dengan 90 derajat, yang gundul dan menyebabkan longsor. Hal ini harus kita antisipasi dengan memberikan solusi lain tanpa menebang kayu tapi mempunyai nilai ekonomis, seperti menanam pohon Matoa. "Sehingga tidak perlu lagi masyarakat menebangi pohon untuk mendapatkan ekonomi" himbau Kepala BNPB.

BNPB juga didampingi oleh perwakilan dari Kementerian Bappenas, Kemenko PMK, Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat, BMKG, dan sebagainya.
BNPB memberikan bantuan 1 milyar untuk Kabupaten Jayapura, 250 juta untuk Kota Jayapura dan 250 juta untuk pemerintah provinsi Papua.

Kondisi Pasca Banir di Jayapura
Foto : Fp. BNPB



Update meninggal dunia pada 13.30 WIT,l sejumlah 79 orang. 72 orang di Kabupaten Jayapura dan 7 orang di Kota Jayapura, dan data pengungsi 4.728 orang.
Lokasi yang ditinjau Kepala BNPB dan pos pengungsian adalah Kodam, Lanud, Jembatan Kemiri, Posko Utama di kantor Bupati Jayapura, pos pengungsian di kantor bupati, RSUD Yoari, Puskesmas Sentani, Jembatan Kampung Harapan, RS Bhayangkara.

Kondisi Pasca Banir di Jayapura
Foto : Fp. BNPB



Saturday, March 16, 2019

Banjir Bandang Melanda Jayapura Papua, Puluhan Orang Meninggal Dunia

Banjir bandang yang melanda 9 kelurahanan di Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua pada 16/3/2019 pukul 21.30 WIT telah menimbulkan banyak korban dan kerusakan. Banjir melanda Kelurahan Barnabas Marweri, Piter Pangkatana, Kristian Pangakatan, Didimus Pangkatana, Andi Pangkatana, Yonasmanuri, Yulianus Pangkatana, Nelson Pangkatan, dan Nesmanuri.


Saat ini banjir telah surut meninggalkan lumpur, kayu-kayu gelondongan dan material yang terbawa banjir bandang. Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pencarian korban.


Hingga Minggu (17/3/2019) pukul 07.00 WIB, tercatat dampak banjir bandang sebanyak 14 orang meninggal dunia, dan 18 orang luka-luka. Kerusakan meliputi 9 rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, 1 mobil rusak atau hanyut, jembatan Doyo dan Kali Ular mengalami kerusakan, eekitar 150 rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, kerusakan 1 pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani. Dampak kerusakan masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan.

Beberapa warga sejak semalam mengungsi. Sekitar 50 orang di Kantor Bupati Jayapura Gunung Merah, 70 orang di Kediaman Bupati Jayapura, dan beberapa warga mengungsi di Kantor Basarnas Jayapura.

Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI dan relawan melakukan penanganan darurat. Posko akan didirikan. Sebagian bantuan disalurkan kepada masyarakat terdampak.




Melihat dampak banjir bandang dan landaan banjir bandang yang terjadi di Sentani, kemungkinan disebabkan adanya longsor di bagian hulu yang kemudian menerjang di bagian hilir. Karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami. Karena volume air terus bertambah kemudian badan air atau bendung alami ini jebol dan menerjang di bagian bawah dengan membawa material-material kayu gelondongan, pohon, batu, lumpur dan lainnya dengan kecepatan aliran yang besar. Ini ditambah dengan curah hujan yang berintensitas tinggi dalam waktu cukup lama.

Monday, February 11, 2019

Peran Komunitas Dalam Pengelolaan Lingkungan DAS Termasuk Pengelolaan Limbah Domestik

Sungai Citanduy merupakan salah satu sungai yang ada di Jawa Barat, melintasi kabupaten Ciamis, KabupatenTasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kota Banjar dan bermuara di Segara Anakan Cilacap Jawa Tengah. Hulu Sungai Citanduy terletak di Pegunungan Cakrabuana yang memiliki titik puncak tertinggi 1721 m. Aliran sungai Citanduy mempunyai luas 350.000 Ha, 57% dari luas tersebut merupakan lahan pertanian, sedangkan 33% berupa hutan dan perkebunan. Topografi dari wilayah sungai Citanduy yang merupakan daerah yang rata sekitar 30%, daerah bukit dan bergelombang sekitar 50% dan sisanya sekitar 20% mempunyai karakteristik berupa tebing atau lereng dengan tekstur tanah yang mudah tererosi. Data tersebut merujuk dari data Dinas Pekerjaan Umum tahun 2006 (DPU, 2006). Bayangkan perubahan topografi yang terjadi sampai saat ini.

Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, secara kasat mata kondisi sungai Cikidang mengalami kualitas penurunan yang sangat signifikant terutama jika dilihat dari kualitas lingkungan di sekitar kawasan sungai yang dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat setempat. Hampir di sepanjang sungai terdapat pemandangan yang sangat memprihatinkan dengan sampah berserakan yang tidak dikelola. Sampah plastik menjadi primadona utama penghuni sungai.





Seperti telah disampaikan pada artikel Kondisi Daerah Tangkapan Air Hulu DAS Citanduy sebelumnya, bahwa Sungai Citanduy di daerah hulu adalah pertemuan dua sungai besar yaitu Citanduy dan Sungai Cikidang, yang bertemu di daerah Tanjungsari kecamatan Sukaresik. Debit air kedua sungai ini hampir sama besarnya sehingga jika terjadi hujan deras di kedua hulu sungai tersebut akan mengakibatkan tersendatnya aliran air akibat benturan kedua sungai di wilayah pertemuan. Dan tentu saja akibatnya adalah , banjir besar yang melanda hampir sebagian besar wilayah Desa Tanjungsari Kecamatan Sukaresik. Bahkan menurut Sobur Suryana salah satu Valounteer dan aktivis Lingkungan Hidup di Kabupaten Tasikmalaya, dalam satu tahun bisa terjadi 3 kali banjir. Sungguh luar biasa, betapa setiap tahun warga selalu dihantui ketakutan akan datangnya banjir yang tentu saja akan membawa kerugian materi yang tidak sedikit terutama jika sang banjir datang di saat padi sedang menguning menjelang panen datang.

Obstacle di Sungai Citanduy
Melihat Fenomena seperti di atas, kami yang mengaku aktivis Lingkungan Hidup bersama Valounteer dan warga di Desa Tanjungsari Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya merasa terpanggil untuk membuat suatu sistem pengelolaan Lingkungan terutama Daerah Aliran Sungai (DAS) dan bagaimana mengelola sampah domestik di lingkungan mereka.
Langkah pertama yang dilakukan adalah membentuk Komunitas Desa Tanggap Bencana (Destana) dan Komunitas EcoVillage untuk mewadahi pergerakan mereka.

Strategi pemberdayaan yang dilakukan oleh komunitas pemuda antara lain melalui perecanaan, program dan aksi, penguatan kelembagaan dan management organisasi, pengembangan jejaring dan kerjasama, serta peningkatan kapasitas SDM. Perencanaaan program serta aksi dilakukan dengan melakukan sosialisasi, pendampingan dan pengembangan jaringan dan kerjasama. Sosialisasi dan pendampingan dilakukan dengan menentukan kelompok sasaran yaitu komunitas ibu-ibu rumah tangga/PKK, Komunitas pemuda dan karang taruna. Sedangkan pengembangan jaringan dan kerjasama seperti yang sudah dilakukan yaitu berkoordinasinya Destana dengan BPBD Kabupaten Tasikmalaya.


Penerapan konkrit dalam pengelolaan DAS Citanduy yaitu dalam bentuk penanaman pohon di sekitar daerah resapan dan tangkapan air serta bantaran-bantaran sungai Citanduy dan Cikidang yang rutin dilakukan hampir setiap 3 bulan 1 kali. Di samping penanaman pohon, pembersihan sungai pun kerap dilakukan untuk menyingkirkan obstacle obstacle yang bisa mengakibatkan sungai terganggu alirannya akibat menumpuknya sampah di tempat tersebut.
Dalam bidang penanganan sampah domestik, di sini juga telah di rintis satu bank sampah yang mudah-mudahan bisa dikembangkan dan dipertahankan.






Meskipun hal ini tidak lantas membuat 100% kawasan Desa Tanjungsari bebas dari banjir yang selalu datang. Karena kenyataannya hal ini masih terus saja terjadi walaupun program yang dilaksanakan sudah mau memasuki tahun kedua. Dan sampah bawaan sungai Citanduy dan Cikidang dari arah hulu pun masih terus berdatangan. Namun hal itu tidak menyurutkan tekad untuk tetap berkarya dan bekerja demi Sungai dan Lingkungan.
Kami berprinsip, biarlah dari arah hulu terus mengalirkan sampah ke wilayah kami. Tapi Kami akan berusaha semaksimal mungkin bahwa tidak ada limbah dan sampah yang akan terbawa ke hilir dari wilayah kami. Mudah mudahan hal ini bisa meminimalisir konsentrasi sampah di sungai bagian hilir. Dan mudah mudah, apa yang kami lakukan akan diikuti oleh sahabat sahabat kami yang berada di bagian hulu maupun hilir sungai ini.




Peran Komunitas Dalam Pengelolaan Limbah Domestik

Fenomena lingkungan, yang jenuh akibat semakin meningkatnya baik volume maupun jenis limbah rumah tangga baik organik atau non organik. Keberadaan limbah sampah dirasakan kian menjadi permasalahan lingkungan yang harus mulai dipikirkan pemecahan penanganannya secara mandiri di tingkat lingkungan. Karena, tidak mungkin selalu mengandalkan pihak lain, dalam hal ini pemerintah, untuk menangani sampah. Apalagi di pedesaan, pengelolaan sampah biasanya tidak terjangkau karena jauh dari fasilitas pembuangan sampah yang ditangani oleh pemerintah. Akhirnya mau tidak mau masyarakat sendirilah yang harus mengelola sampah secara mandiri. Dengan sentuhan kreatifitas, sebenarnya sampah dapat dijadikan peluang ekonomi dengan menggunakan model pemilahan, pengolahan daur ulang sehingga memiliki daya jual di pasaran.

Selengkapnya di Peran Komunitas Lingkungan Hidup Dalam Pengelolaan Limbah Domestik


Sunday, February 10, 2019

Kondisi Daerah Tangkapan Air Hulu DAS Citanduy

Longsor Di Hutan Pinus Mangunsewu Buniasih
Kondisi ekosistem Daerah Aliran Sungai (DAS) merupakan salah satu isu nasional dalam beberapa tahun terakhir. Untuk kita ketahui bersama, DAS adalah suatu wilayah daratan yang merupakan satu kesatuan dengan sungai dan anak sungai yang berfungsi menampung, menyimpan dan mengalirkan air yang berasal dari curah hujan ke danau atau ke laut secara alami. Namun sayangnya, kondisi DAS, di wilayah Jawa Barat, khususnya di wilayah Kabupaten Tasikmalaya bagian Utara yang melingkupi Daerah Tangkapan Air Hulu DAS Citanduy tergolong sangat kritis. Hal ini merupakan akibat kerusakan lahan di beberapa daerah sehingga membawa konsekuensi meningkatnya potensi bencana banjir dan longsor.

Untuk diketahui, bahwa Sungai Citanduy di daerah hulu adalah pertemuan dua sungai besar yaitu Citanduy dan Sungai Cikidang, yang bertemu di daerah Tanjungsari kecamatan Sukaresik. Debit air kedua sungai ini hampir sama besarnya sehingga jika terjadi hujan deras di kedua hulu sungai tersebut akan mengakibatkan tersendatnya aliran air akibat benturan kedua sungai di wilayah pertemuan. Dan tentu saja akibatnya adalah , banjir besar yang melanda hampir sebagian besar wilayah Desa Tanjungsari Kecamatan Sukaresik.


Bencana ini merupakan salah satu akibat dari kondisi DAS yang kritis yang tidak mampu menampung curah hujan yang tinggi. Untuk itu, pentingnya DAS sebagai satu unit perencanaan dan pengelolaan sumber daya alam yang merupakan kesatuan ekosistem yang mencangkup hubungan timbal balik, sumberdaya alam dan lingkungan DAS dengan kegiatan manusia guna kelestarian lingkungan dan kesejahteraan masyarakat.

Penggunaan lereng-lereng bukit untuk kegiatan pertanian semusim seperi kentang, kol dan sayuran lainnya, tanpa disadari dan tidak bisa kita pungkiri, hal ini menyebabkan fungsi hidrologi DAS, yaitu kemampuan menyerap dan menyimpan dan mengalirkan air menjadi menurun, sehingga bencana hidrologis seperti tanah longsor, banjir dan kekeringan yang merugikan masyarakat dapat lebih mudah terjadi.



Hal ini harus menjadi perhatian kita bersama, terutama pemerintah bahwa meningkatnya kerusakan DAS dikarenakan adanya kebutuhan lahan yang semakin tinggi seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya kepentingan pembangunan sektoral dan daerah yang berakibat pada berubahnya status, fungsi dan peruntukan kawasan hutan menjadi penggunaan lainnya, seperti terjadinya pertanian dan perkebunan didalam kawasan tanpa izin, penebangan kayu tanpa izin, penambangan tanpa izin serta memasuki kawasan hutan tanpa izin. Dalam hal ini Pemerintah harus tegas dan konsisten dalam penerapan dan pelaksanaan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW). Sehingga dapat mencegah terjadinya perubahan atau alih fungsi lahan yang bukan peruntukannya.

Mekanisme Rewards and Punishment dapat diterapkan oleh pemerintah dalam memecahkan permasalahan ini . Contohnya, bagi Desa yang menanam pohon, mempunyai hutan desa sendiri dan mampu melestarikan mata air di wilayahnya sehingga pada saat musim kemarau masih terjamin ketersedian mata air bagi warganya dapat diberikan tambahan dana desa dari Kemendes. Kemudian Kemendikbud dapat memberikan beasiswa kepada anak petani yang bersedia mengganti tanaman kentang (penyebab longsor lainnya) ke tanaman lain yang mampu mencegah longsor. Dan kementerian LHK menyediakan bibit yang dibutuhkan oleh petani tersebut secara gratis. Atau diberikan kompensasi lain yang intinya memudahkan para petani musiman di lereng lereng perbukitan agar bisa mengganti produk pertaniannya dengan yang ramah lingkungan.

Tidak dapat dipungkiri, dengan meningkatnya fungsi DAS maka kesejahteraan rakyat atau pendapatan rakyat akan meningka. jJka Daerah Aliran Sungai Sehat, Rakyat yang berada dan hidup disekitarnya akan Sejahtera. Disamping itu, mewujudkan DAS yang Lestari adalah langkah strategis dalam upaya mengantisipasi perubahan iklim global, degradasi hutan, deforestasi hutan dan lahan, kerusakan lingkungan dan kelestarian lingkungan, serta memberikan kesadaran kepada masyarakat tentang pentingnya menanam dan memelihara pohon sebagai sumber kehidupan. Kegiatan penanaman pohon ini hendaknya ditindaklanjuti dengan upaya pemeliharaan, sehingga memberikan manfaat yang besar bagi kesejahteraan masyarakat.



Sehubungan dengan hal tersebut, Pemerintah dengan dinas dinas terkaitnya dapat menfasilitasi dan bekerjasama dengan penggiat lingkungan hidup dan kehutanan serta masyarakat di sekitar DAS untuk melakukan langkah-langkah seperti, menentukan tepat lokasi yang ditargetkan sebagai lokasi penanaman, menentukan jenis bibit yang dibutuhkan berikut jenis pupuk yang dibutuhkan, melakukan kegiatan penanaman dengan benar sesuai dengan standar operasional penanaman pohon, serta yang tidak kalah penting memelihara tanaman yang sudah dilakukan penanaman secara berkesinambungan.

Mari kita bertindak sebelum semuanya terlambat dan lebih parah lagi kondisinya. Jangan tunggu sungai Citanduy seperti sungai Cimanuk yang pernah mengamuk di Garut. Meninggalkan duka dan kerugian materi yang cukup besar.

Jangan tunggu Citanduy seperti Citarum yang sudah tidak harum akibat sungai telah dicemari limbah bukan hanya dari limbah domestik/rumah tangga, tetapi telah di cemari limbah limbah industri. Citarum yang menjadi momok menakutkan bagi warga Bandung Selatan, Baleendah, Bojongsoang, Dayeukolot dan sekitarnya di musim penghujan.


Video Banjir Bandang Sulawesi Selatan




Saturday, February 9, 2019

BENCANA HIDROLOGI MENGINTAI, PULIHKAN HULU DAERAH ALIRAN SUNGAI !!!

Banyak bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) berupa lahan kritis atau tidak tertutup vegetasi akibat perilaku manusia seperti penebangan pohon ilegal atau penggunaan lereng-lereng bukit untuk kegiatan pertanian semusim. Hal ini menyebabkan fungsi hidrologi Daerah Aliran Sungai, yaitu kemampuan menyerap dan menyimpan dan mengalirkan air menjadi menurun, sehingga bencana hidrologis seperti tanah longsor, banjir dan kekeringan yang merugikan masyarakat dapat lebih mudah terjadi.

Indikator dari sebuah DAS yang sehat ialah tersedianya air dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk berbagai keperluan, terjaganya kesuburan tanah dan produktifitas lahan, serta berkurangnya bencana-bencana hidrologis seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan. Semua ini adalah prasyarat untuk masyarakat yang sejahtera. Oleh karenanya bila DAS sehat, maka masyarakat yang hidup di Daerah Aliran Sungai tersebut akan sejahtera.





Kawasan Hulu Sungai Citanduy
Peran manusia sangat vital dalam menjaga Daerah Aliran Sungai tetap sehat dan berfungsi baik. Karena rusaknya Daerah Aliran Sungai dominan disebabkan akibat perilaku buruk manusia terhadap alam. Daerah Aliran Sungai merupakan wadah atau ekosistem dimana seluruh aktifitas manusia berada dengan segala dinamikanya. Untuk itu masyarakat dan komunitas komunitas pecinta lingkungan terutama pemerintah harus memperhatikan intervensi-intervensi yang manusia lakukan terhadap alam khususnya Daerah Aliran Sungai, agar kesetimbangan sistem ekologis yang ada tetap terjaga.

Longsor Di Mangunsewu, DAT DAS Citanduy
Karena perlu di ingat, bahwa hampir 75% Daerah Tangkapan Air Daerah Aliran Sungai adalah kawasan Hutan Industri yang di tanami pohon pinus, damar dan lain sebagainya yang apabila moratorium penebangan hutan di cabut maka kawasan tersebut akan menjadi penyebab kawasan yang rawan bencana hidrologis. Pemerintah pun harus konsisten dan cermat dalam penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), jangan sampai Daerah Tangkapan Air dialihfungsikan menjadi wilayah industri dan pemukiman atau fungsi lainnya yang akan mengganggu keseimbangan lingkungan.

Peta Daerah Tangkapan Air Sungai Citanduy Bagian Hulu

Setiap tahun akibat bencana hidrorologis yang terjadi menyebabkan petani merugi karena gagal panen, jatuhnya korban jiwa, rusaknya infrastruktur, kerugian finansial hingga ratusan milyar rupiah, dan bahkan menjadi penyebab penurunan kenyamanan dan kualitas hidup manusia yang tentunya bisa berdampak jangka panjang bagi kualitas generasi manusia Indonesia kedepan.
Oleh karenanya kelestarian Daerah Aliran Sungai harus dijaga dengan perspektif yang lebih luas yaitu pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara terpadu. Tidak hanya cukup dengan menanam pohon saja, namun juga harus memastikan terbentuknya tutupan vegetasi hutan terutama pada DTA (daerah tangkapan air) atau wilayah hulu sebuah Daerah Aliran Sungai. Selain itu pembangunan-pembangunan sarana fisik pencegah erosi-sedimentasi juga harus terus diperbanyak.





Pengelolaan Daerah Aliran Sungai bukan sekedar fokus pada upaya penanaman saja, tetapi lebih pada reorientasi gerakan rehabilitasi lahan sehingga Daerah Tangkapan Air DAS menjadi sebuah ekosistem, habitat bagi kehidupan. Memulihkan Kawasan Daerah Aliran Sungai sekaligus melestarikan Lingkungan Hidup di kawasan tersebut. Jika kawasan DAS Lestari menjadi ekositem hutan, maka Kawasan DAS tersebut akan menjadi sehat. Hutan atau Alam yang sehat akan mampu mengatur siklus hidrologi dengan baik, saat hujan tidak banjir dan ketika kemarau tidak kekeringan.


Tonton Video Berikut : 


Wednesday, January 23, 2019

BANJIR LANDA 53 KECAMATAN DI SULAWESI SELATAN, RIBUAN WARGA MENGUNGSI

Hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang dan gelombang pasang telah menyebabkan sungai-sungai meluap sehingga banjir di wilayah Sulawesi Selatan pada 22/1/2019 siang hari. Data sementara tercatat 53 kecamatan di 9 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami banjir yaitu di Kabupaten Jeneponto, Gowa, Maros, Soppeng, Barru, Wajo, Bantaeng, Pangkep dan Kota Makassar.


Dampak sementara akibat banjir, longsor dan angin kencang yang berhasil dihimpun Posko BNPB berdasarkan laporan dari BPBD, tercatat 8 orang meninggal dunia, 4 orang hilang, ribuan rumah terendam banjir, ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman, dan 10.021 hektar sawah terendam banjir. Korban meninggal dunia ditemukan di Jeneponto 5 orang dan Gowa 3 orang, sedangkan korban hilang terdapat di Jeneponto 3 orang dan Pangkep 1 orang. Hingga 23/1/2019 pukul 14.00 WIB banjir masih banyak melanda di daerah. Penanganan darurat dan pendataan masih terus dilakukan sehingga update data akan berubah. Demikian disampaikan Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilis resminya.



Sutopo melanjutkan, Di Kabupaten Jeneponto, banjir melanda 21 desa di 10 kecamatan yaitu Kecamatan Arung Keke, Bangkala, Bangkala Barat, Batang, Binamu, Tamalatea, Tarowang, Kelara, dan Turatea dengan tinggi banjir 50 – 200 centimenter. Banjir akibat hujan deras sehingga sungai-sungai meluap, diantaranya Sungai Topa, Allu, Bululoe, Tamanroya, Kanawaya, dan Tarowang. Dampak yang ditimbulkan adalah 5 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, 5 rumah hanyut, 51 rumah rusak berat, ribuan warga mengungsi dan ribuan rumah terendam banjir. Evakuasi, pencarian, penyelamatan dan distribusi bantuan masih terus dilakukan. Banyak warga yang mengungsi sementara di atap rumah sambil menunggu dievakuasi. Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.

Di Kota Makassar, banjir melanda 14 kecamatan yaitu Kecamatan Biringkanaya, Bontoloa, Kampung Sangkarang, Makassar, Mamajang, Manggala, Mariso, Pankkukang, Rampocini, Tallo, Tamalanrea, Tamalate, Ujung Pandang, dan Ujung Tanah. Sekitar 1.000 jiwa warga mengungsi. Banjir juga disebabkan hujan deras kemudian sungai-sungai yang bermuara di Kota Makassar meluap.

Di Kabupaten Gowa, banjir melalanda 7 kecamatan yaitu Somba Opu, Bontomanannu, Pattalasang, Parangloe, Palangga, Tombolonggo, dan Manuju. Sekain hujan deras, banjir juga disebabkan dibukanya pintu Waduk Bili-Bili karena terus meningkat volume air di waduk sehingga untuk mengamankan waduk maka debit aliran keluar dari Waduk Bili-Bili ditingkatkan.

Tercatat 3 orang meninggal dunia, 45 orang luka-luka, 2.121 orang mengungsi yang tersebar di 13 titik pengungsian, lebih dari 500 unit rumah terendam banjir setinggi 50 – 200 centimeter ddari dampak banjir di Gowa. Banjir juga menyebabkan 2 jembatan rusak berat sehingga tidak dapat digunakan yaitu jembatan Jenelata di Desa Moncong Loe Kecamatan Manuju dan jembatan di Dusun Limoa Desa Patalikang Kecamatan Manuju. Hujan deras juga memicu longsor di beberapa tempat sehingga menutup jalan dan merusak beberapa rumah.

Sementara itu banjir di Kabupaten Marros melanda 11 kecamatan. Lebih dari 1.400 orang mengungsi. Pendataan masih dilakukan. Listrik padam sehingga komunikasi juga putus. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan Pusdalops BPBD. Tim Reaksi Cepat BNPB mendampingi BPBD. Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh tim gabungan. BPBD bersama , TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.
Perahu karet dan bantuan permakanan untuk pengungsi masih diperlukan. Korban hilang masih dilakukan pencarian. Kondisi hujan yang masih berlangsung dan luasnya wilayah yang terkena banjir cukup menyulitkan dalam penanganan.



Hujan ekstrem yang turun sejak 22/1/2019 di beberapa wilayah Sulawesi Selatan menyebabkan banjir. Tercatat di beberapa stasiun penakar hujan milik Kementerian PU Pera dan BMKG mencatat di Pos 1 Bawangkaraeng 308 milimeter per hari, Lengkese 329 milimeter per hari, KD-1 234 milimeter per hari, Limbungan 328 milimeter per hari, dan Bili-Bili 88 milimeter per hari. Intensitas curah hujan setebal ini tergolong ekstrem sehingga kondisi permukaan tanah tidak mampu menampung semuanya dan sungai juga tidak mampu mengatuskan aliran permukaan, akibatnya banjir.

Saat ini debit dan volume Waduk Bili-Bili terus menurun. Hingga 23/1/2019 pukul 14.00 WIB, tinggi muka air Waduk Bili-Bili sudah mulai ada penurunan menjadi 100,64 meter, volume waduk 277,55 juta meter kubik, dan inflow sekitar 927,77 meter kubik per detik. Meskipun masih dalam batas Siaga namun kondisinya terus mengalami penurunan.

Pemerintah daerah dan masyarakat dihimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir dan tanah longsor. BMKG telah menyebarkan peringatan dini hujan lebat selama 23 – 30 Januari 2019. Sebagian besar wilayah Indonesia puncak hujan berlangsung selama Januari hingga Februari 2019. Secara statistik dari data kejadian bencana selama 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa selama bulan Januari dan Februari adalah puncak dari kejadian bencana hidrometeorologi yaitu banjir, longsor dan puting beliung. Polanya mengikuti dari pola curah hujan.

Support by :

Popular Posts