Showing posts with label Bencana. Show all posts
Showing posts with label Bencana. Show all posts

Sunday, April 28, 2019

Darurat Banjir Dan Longsor Bengkulu, 17 Orang Meninggal Dunia.


BENGKULU - Upaya penanganan bencana banjir dan longsor yang melanda 9 kabupaten/kota di Provinsi Bengkulu terus dilakukan. Jumlah korban bertambah. Hingga 28/4/2019 pukul 19.00 WIB, tercatat 17 orang meninggal dunia, 9 orang hilang, 2 orang luka berat dan 2 orang luka ringan. Sebaran dari 17 orang meninggal dunia terdapat di Kabupaten Bengkulu Tengah 11 orang, Kota Bengkulu 3 orang, dan Kabupaten Kepahiang 3 orang. Tulis Sutopo Purwo Nugroho, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilis nya.

Sebanyak 12.000 orang mengungsi yang tersebar di banyak tempat dan 13.000 orang terdampak bencana. Jumlah ternak yang mati sebanyak 106 ekor sapi, 102 ekor kambing/domba dan 4 ekor kerbau. Sedangkan kerusakan fisik meliputi 184 rumah rusak, 7 fasilitas pendidikan dan 40 titik sarana prasarana infrastruktur.

Kepala BNPB setiba di Bengkulu langsung mendapat penjelasan dari Gubernur Bengkulu terkait dampak dan penanganan bencana. Kepala BNPB telah memerintahkan kepada Deputi Penanganan Darurat BNPB dan Deputi Logistik Peralatan BNPB untuk segera memenuhi kebutuhan darurat yang diperlukan.

Untuk membantu operasional penanganan darurat, Kepala BNPB Doni Monardo telah menyerahkan bantuan dana siap pakai sebesar Rp 2,25 milyar kepada Gubernur Bengkulu. Selanjutnya dana siap pakai tersebut akan diberikan kepada BPBD kabupaten/kota sesuai tingkat kerusakan akibat bencana.

"Bencana hidrometeorologi terus meningkat. Dampak ekonomi yang ditimbulkan juga cukup besar sehingga mengganggu pertumbuhan pembangunan. Selain faktor alam yaitu intensitas curah hujan yang meningkat, faktor antropogenik yaitu ulah tangan manusia yang merusak alam dan lingkungan lebih dominan menyebabkan bencana hidrometeorologi meningkat.

Deforestasi, degradasi hutan dan lingkungan, berkurangnya kawasan resapan air, lahan kritis, tingginya kerentanan, tata ruang yang tidak mengindahkan peta rawan bencana dan lainnya telah menyebabkan makin rentannya daerah-daerah terhadap banjir. Kita harus memulihkan alam. Merawat alam dan lingkungan. Jika alam seimbang maka siklus hidrologi juga akan seimbang. Kita jaga alam, alam jaga kita." Demikian disampaikan Kepala BNPB dalam arahannya kepada jajaran BPBD dan SKPD.

Sutopo menjelaskan, bahwa Kendala yang dihadapi dalam penanganan darurat saat ini adalah sulitnya untuk menjangkau ke lokasi titik-titik banjir dan longsor dikarenakan seluruh akses ke lokasi kejadian terputus total. Koordinasi dan komunikasi ke Kabupaten/ Kota cukup sulit dilakukan karena aliran listrik banyak yang terputus. Pendistribusian logistik terhambat karena akses jalan banyak yang terputus karena banjir dan longsor. Titik lokasi bencana banjir dan longsor sangat banyak sedangkan jarak antar titik banjir dan longsor berjauhan, sehingga menyulitkan untuk mencapai semua lokasi. Terbatasnya dana/anggaran yang memadai sehingga menyulitkan operasional penanganan bencana.

Kebutuhan mendesak saat ini adalah tenda pengungsian, perahu karet,  selimut, makanan siap saji, air bersih, family kid, peralatan bayi, lampu emergency, peralatan rumah tangga untuk membersihkan lumpur dan lingkungan, sanitasi, dan jembatan baley. Lanjut Sutopo.

BPBD masih melakukan pendataan dampak bencana dan penanganan bencana. Masyarakat dihimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan mengingat potensi hujan berintensitas tinggi masih dapat berpotensi terjadi di wilayah Indonesia.


Wednesday, March 20, 2019

Update Banjir Bandang Jayapura Papua, 79 Orang Meninggal Dunia 4.728 Orang Mengungsi

Pada tahun 2007 juga pernah terjadi hal serupa, hal ini tidak boleh terulang kembali. Apa yang menjadi penyebabnya, paling tidak ada tiga faktor, yakni pertama, karena faktor topografi, kedua faktor cuaca, karena curah hujan tinggi selama 5 jam 30 menit, dan ketiga akibat perbuatan manusia, yakni seperti pembangunan pemukiman, dan pengalihan fungsi lahan. Demikian disampaikan Kepala BNPB Doni Monardo pada kunjungannya ke Jayapura, Senin (18/3) dalam rangka meninjau lokasi pasca banjir bandang seperti lansir dari laman BNPB.
Kepala BNPB, Doni Monardo Meninjau Lokasi Pengungsian
Foto : FP. BNPB
Aster Kasdam 17 Cendrawasih, Andi Prihantono yang juga turut mendampingi Kepala BNPB mengatakan bahwa banjir bandang diakibatkan intensitas hujan deras dan 18.00-23.30 WIT dan Bupati sudah menetapkan status tanggap darurat sejak tanggal 17 Maret 2019, "Terhitung 14 hari masa tanggap darurat".


Kemiringan hutan antara 40 sampai dengan 90 derajat, yang gundul dan menyebabkan longsor. Hal ini harus kita antisipasi dengan memberikan solusi lain tanpa menebang kayu tapi mempunyai nilai ekonomis, seperti menanam pohon Matoa. "Sehingga tidak perlu lagi masyarakat menebangi pohon untuk mendapatkan ekonomi" himbau Kepala BNPB.

BNPB juga didampingi oleh perwakilan dari Kementerian Bappenas, Kemenko PMK, Kementerian Pekerjaan Umum Dan Perumahan Rakyat, BMKG, dan sebagainya.
BNPB memberikan bantuan 1 milyar untuk Kabupaten Jayapura, 250 juta untuk Kota Jayapura dan 250 juta untuk pemerintah provinsi Papua.

Kondisi Pasca Banir di Jayapura
Foto : Fp. BNPB



Update meninggal dunia pada 13.30 WIT,l sejumlah 79 orang. 72 orang di Kabupaten Jayapura dan 7 orang di Kota Jayapura, dan data pengungsi 4.728 orang.
Lokasi yang ditinjau Kepala BNPB dan pos pengungsian adalah Kodam, Lanud, Jembatan Kemiri, Posko Utama di kantor Bupati Jayapura, pos pengungsian di kantor bupati, RSUD Yoari, Puskesmas Sentani, Jembatan Kampung Harapan, RS Bhayangkara.

Kondisi Pasca Banir di Jayapura
Foto : Fp. BNPB



Monday, March 18, 2019

2 Gempa Berkekuatan M 5,8 Dan M 5,4 Guncang Lombok Timur, 2 Orang Meninggal Dunia dan Ratusan Rumah Rusak.


Gempabumi tektonik kembali mengguncang Lombok Timur. Gempa dengan kekuatan M 5,8 SR berpusat di darat pada 20 km arah utara Kota Selong Kabupaten Lombok Timur Provinsi Nusa Tenggara Barat pada kedalaman 10 km pada 17/3/2019 pukul 14.07 WIB. Selang dua menit kemudian pada pukul 14.09.19 WIB terjadi gempabumi susulan dengan M=5,2 dengan kedalaman 11 km.




BMKG mencatat gempabumi ini termasuk dalam klasifikasi gempabumi dangkal akibat aktivitas sesar lokal di sekitar Gunung Rinjani. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan bahwa gempabumi ini dipicu oleh penyesaran turun (normal fault).
Gempa dirasakan kuat selama 2-5 detik di Lombok Timur. Masyarakat panik dan berhamburan ke luar rumah. Beberapa bangunan ada yang roboh dan rusak.



Berdasarkan pendataan yang dilakukan BPBD Lombok Timur, dampak gempa telah menyebabkan 2 orang meninggal dunia, 44 orang luka-luka, 32 unit rumah roboh dan 499 unit rumah rusak sedang dan rusak ringan.


2 orang meninggal dunia adalah wisatawan asal Malaysia yang tertimpa material longsoran akibat adanya gempa di kawasan Air Terjun Tiu Kelep, Kabupaten Lombok Utara yang berada di bawah kaki Gunung Rinjani. Satu korban meninggal sudah diidentifikasi atas nama Tommy (14 tahun) warga Malaysia, sedangkan yang satunya belum dapat diindentifikasi. Korban luka-luka sebanyak 44 orang dimana 36 orang warga Indonesia dan 8 orang WNA Malaysia.
Sebanyak 36 wisatawan (22 wisatawan dari Malaysia dan 14 wisatawan nusantara) telah berhasil dievakuasi dari kawasan Air Terjun Tiu Kelep di Lombok Utara. Selain itu sekitar 50 orang berhasil dievakuasi dari Pos 2 ke Pos 3 di Gunung Rinjani dalam kondisi aman. Mereka adalah tim survai jalur pendakian Gunung Rinjani yang berasal dari TNGR, BPBD NTB, Geopark, Porter, PVMBG, Orplas, TO, TNI, dan Polri.


Saturday, March 16, 2019

Banjir Bandang Melanda Jayapura Papua, Puluhan Orang Meninggal Dunia

Banjir bandang yang melanda 9 kelurahanan di Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua pada 16/3/2019 pukul 21.30 WIT telah menimbulkan banyak korban dan kerusakan. Banjir melanda Kelurahan Barnabas Marweri, Piter Pangkatana, Kristian Pangakatan, Didimus Pangkatana, Andi Pangkatana, Yonasmanuri, Yulianus Pangkatana, Nelson Pangkatan, dan Nesmanuri.


Saat ini banjir telah surut meninggalkan lumpur, kayu-kayu gelondongan dan material yang terbawa banjir bandang. Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pencarian korban.


Hingga Minggu (17/3/2019) pukul 07.00 WIB, tercatat dampak banjir bandang sebanyak 14 orang meninggal dunia, dan 18 orang luka-luka. Kerusakan meliputi 9 rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, 1 mobil rusak atau hanyut, jembatan Doyo dan Kali Ular mengalami kerusakan, eekitar 150 rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, kerusakan 1 pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani. Dampak kerusakan masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan.

Beberapa warga sejak semalam mengungsi. Sekitar 50 orang di Kantor Bupati Jayapura Gunung Merah, 70 orang di Kediaman Bupati Jayapura, dan beberapa warga mengungsi di Kantor Basarnas Jayapura.

Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI dan relawan melakukan penanganan darurat. Posko akan didirikan. Sebagian bantuan disalurkan kepada masyarakat terdampak.




Melihat dampak banjir bandang dan landaan banjir bandang yang terjadi di Sentani, kemungkinan disebabkan adanya longsor di bagian hulu yang kemudian menerjang di bagian hilir. Karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami. Karena volume air terus bertambah kemudian badan air atau bendung alami ini jebol dan menerjang di bagian bawah dengan membawa material-material kayu gelondongan, pohon, batu, lumpur dan lainnya dengan kecepatan aliran yang besar. Ini ditambah dengan curah hujan yang berintensitas tinggi dalam waktu cukup lama.

Friday, February 15, 2019

Longsor Di Ciomas Bogor, 4 Orang Meninggal Dunia

Hujan deras sepanjang Jumat (15/2/2019) petang hingga malam mengakibatkan longsornya pondasi rumah warga setinggi 5 meter di Kampung Ciapus Permeha RT 02/RW 05 Desa Sukamakmur, Kecamatan Ciomas, Kota Bogor.
Akibat peristiwa tersebut, satu unit rumah hancur total tertimpa material longsoran berupa batu dan beton yang menimbun sembilan penghuni di dalamnya.

Peristiwa tersebut diketahui sekitar pukul 22.30 WIB, menimpa rumah ibu Nur yang dihuni sembilan orang. Kejadian itu pun mengakibatkan seluruh bagian rumah rata dengan tanah.
Setelah dilakukan evakuasi terhadap ke-9 korban oleh Tim Reaksi Cepat (TRC) Desa Sukamakmur, Kecamatan Ciomas, ditemukan empat orang meninggal dan lima orang selamat, yang kemudian dilarikan ke RS Ummi Empang Kota Bogor.






Berikut Korban Meninggal Dunia :
1. Ibu Nurhayati (60)
2. Imelda yanti (13)
3. Dea Aprilia (8)
4. M.Wildan (3)


Dan korban selamat saat ini Sabtu (16/2/2019) masih di rawat di RS Ummi ada 5 orang, yaitu:
1. Santi Fitri Dewi (27),
2. Asep saepuloh  (35) ,
3. Hariyanti  (33) ,
4. Dani ( 35),
5. Septi (9 bln)


Sementara itu, upaya evakuasi dan pemindahan puing bangunan hingga Sabtu (16/2/2019) pagi masih diLakukan warga secara bergotong-royong.
Kepala Bidang Kesiapsiagaan dan  Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor, Dede Armansyah menjelaskan, pihaknya sudah mengantisipasi sejak Jumat sore dan saat ini tengah melakukan pemeriksaan di TKP.
"Sudah kita antisipasi dan menghimbau masyarakat untuk waspada dan ini terjadi tengah malam di tengah korbannya sedang tertidur , bantuan makanan , pakaian , selimut sudah kita kirim ke lokasi," jelas Dede Armansyah, Sabtu (16/2/2019) 

Longsor terjadi akibat aliran air hujan  mengendap di turap tebingan setinggi 5 meter yang membentengi rumah hingga jebol dan menimbun mereka.





Monday, February 11, 2019

9 Bencana Puting Beliung Di Penghujung Tahun 2018 Dan Awal Tahun 2019 | Indonesian Tornado's

Puting beliung adalah angin yang berputar dengan kecepatan lebih dari 63 km/jam yang bergerak secara garis lurus dengan lama kejadian maksimum 5 menit. Orang awam menyebut angin puting beliung adalah angin Leysus, di daerah Sumatera disebut Angin Bohorok dan masih ada sebutan lainnya. Angin jenis lain dengan ukuran lebih besar yang ada di Amerika yaitu Tornado mempunyai kecepatan sampai 320 km/jam dan berdiameter 500 meter. Angin puting beliung sering terjadi pada siang hari atau sore hari pada musim pancaroba. Angin ini dapat menghancurkan apa saja yang diterjangnya, karena dengan pusarannya benda yang terlewati terangkat dan terlempar.

Berikut Angin Puting Beliung yang menerjang Indonesia dalam kurun waktu 3 bulan, Nopember 2018 sampai dengan Januari 2019.



1. Angin puting beliung melanda Desa Dawuhan, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, Sabtu 17 Nopember 2018 sore sekitar pukul 16.00 WIB. Berdasarkan data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Brebes, puting beliung merusak 16 bangunan rumah dan gedung olahraga.
2. Dua desa di Kecamatan Sumbermalang, Kabupaten Situbondo, diterjang angin puting beliung yang disertai hujan deras, Minggu 18 Nopember 2018 sore. Akibat hembusan angin puting beliung tersebut yang disertai hujan deras, sebanyak 270 rumah warga di Desa Baderan dan Desa Taman Kursi, Kecamatan Sumbermalang, rusak ringan. Tak hanya rumah yang rusak, puluhan pohon juga tumbang diterjang angin puting beliung tersebut.





3. Minggu 18 Nopember 2018, Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah. BPBD Kabupaten Karanganyar mencatat setidaknya ada 3 rumah dan 1 kandang ternak warga dilaporkan mengalami kerusakan di Dusun Sawit, Desa Wukirsawit, Kecamatan Jatiyoso.
4. Minggu 18 Nopember 2018 Sidoarjo Jawa Timur. Data BPBD Sidoarjo, 372 rumah rusak berada di Desa Kajeksan, 22 rumah di Desa Kepunten, 26 rumah di Desa Kemantren, 11 rumah di Grinting, 8 rumah di Grabagan, 7 rumah di Singopadu, dan 1 rumah di Kepadangan adalah yang tercatat berada di wilayah Kecamatan Tulangan. Sidoarjo
5.  6 Desember 2018, Bogor Jawa Barat sekitar pukul 15.00 WIB. Angin puting beliung yang melanda wilayah selatan Kota Bogor, Jawa Barat, menyebabkan satu orang tewas karena mobilnya tertimpa pohon tumbang. Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, puting beliung yang disertai hujan deras menyebabkan pohon-pohon tumbang di Kelurahan Cipaku, Kelurahan Batutulis, Kelurahan Pamoyanan dan Kelurahan Lawanggintung. Sebanyak 50 unit rumah mengalami kerusakan dan sekitar 6 unit kendaraan ringsek karena pohon tumbang.
6. 30 Desember 2018, Pangurugan Cirebon pukul 16.15 WIB. Saat angin puting beliung terjang Desa Pangurugan Kulon Kec Pangurugan Kabupaten Cirebon. Satu (1) orang meninggal dunia, sembilan orang luka-luka dan 165 rumah rusak.

Tonton Video Kompilasi Bencana Puting Beliung





7.  11 Januari 2019, Rancaekek Bandung Jawa Barat, Sebanyak 640 unit rumah rusak akibat puting beliung, korban luka berat sebanyak 1 orang, dan luka ringan 15 orang. Selain itu, 82 keluarga mengungsi akibat bencana itu.
8. 24 Januari 2019, Sukoharjo Jawa Tengah. Bencana puting beliung ini merusak atap rumah, antara lain di Kelurahan Sukoharjo sebanyak 50 unit, Kelurahan Jetis 25 unit dan Kelurahan Gayam sebanyak 25 unit. Selain itu, dilaporkan atap rumah yang terbuat dari seng terbang disapu puting beliung. Tak hanya itu, empat rumah rusak karena tertimpa pohon tumbang. Tidak ada korban jiwa dalam bencana itu.
9. 24 Januari 2019, Maluku Tenggara. Data BPBD mennyebutkan tiga rumah warga mengalami rusak parah, dan lima rumah lainnya mengalami kerusakan sedang dan ringan serta satu kubah masjid rusak parah.

Demikian Bencana Puting beliung dalam kurun waktu 3 bulan diakhir tahun 2018 dan awal tahun 2019. Semoga kita semua semakin waspada terhadap segala jenis potensi bencana.

Wednesday, February 6, 2019

PETISI !!! TOLAK PENURUNAN FUNGSI CAGAR ALAM MENJADI TAMAN WISATA ALAM

Apa untungnya punya tempat wisata, di tengah korban bencana

Nampaknya sudah semakin terasa ancaman mendekati kita yang masih merasa aman. Apalagi yang memang sudah terdampak & menjadi penghuni dampak bencana tersebut. Apapun alasannya, kejadian longsor, banjir bandang, banjir di pemukiman / perkotaan. Menjadi acara ceremonial bagi mereka yang terlebih dahulu memilihnya. Bukan tanpa alasan, rekayasa teknis atau pemecahan masalah dari banyaknya bencana tersebut pun menjadi ladang bagi mereka yang terbiasa menyusun & menganggarkan solusi hari ini, lalu menjadi masalah di kemudian hari.

Dangkalnya cara berpikir seorang manusia dapat mewariskan berbagai bencana bagi anak cucu kita kelak. Sebut saja banjir, merupakan genangan air yang tak lagi mampu dibendung dengan rekayasa sementara. Hal ini sebagai wujud dari kekuatan salah satu elemen semesta, air. Rumusnya sangat mudah: Banjir atau Genangan = Curah Hujan – (Resapan + Penguapan)

Maka, tidak bisa kita menafikan kehadiran sungai yang terbagi menjadi daerah Hulu sungai, daerah tengah sungai, dan hilir sungai. Jika dilihat 3 hal tersebut, maka perlu kita memprioritaskan penyelesaian berbagai masalah yang mengakar, salah satu masalahnya di bagian hulu sungai.



Sungai Citarum, selain memiliki Hulu Sungai di Cisanti, Citarum pun dialiri pula oleh sungai di daerah lainnya. Salah satunya sungai yang berada di Kawasan Cagar Alam Kamojang. Dengan bantuan Area Resapan Cagar Alam Kamojang pun banjir masih dirasakan sangat merugikan banyak pihak khususnya Kabupaten Bandung. Namun, Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK) sebagai pihak yang berwenang telah melakukan pembiaran kerusakan di Cagar Alam tersebut. Parahnya lagi, KLHK menurunkan fungsi Cagar Alam Kamojang menjadi Taman Wisata Alam seluas 2.931 hektar. Tak bisa dibayangkan luasan & besaran dampak dari berkurang dan menghilangnya Area Resapan tersebut.





Pun, Sungai Cimanuk, 34 nyawa melayang akibat banjir bandang. Akibat kencangnya deras sungai sebagai indikasi dari hilangnya fungsi resapan di daerah ketinggian di Garut. Padahal dibantu dengan adanya fungsi resapan dari Kawasan Cagar Alam Papandayan. Lagi-lagi hilangnya nyawa saudara kita di Garut, tidak menghentikan KLHK untuk menurunkan fungsi Cagar Alam Papandayan menjadi Taman Wisata Alam. Apakah kehadiran Taman Wisata Alam meminimalisir banjir bandang & nyawa yang melayang karenanya?

Baca juga : Bencana Hidrologi Mengintai, Pulihkan Hulu Daerah Aliran Sungai !!!

Cagar Alam menurut Undang-Undang Nomor 5/1990, mempunyai fungsi pokok sebagai kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa beserta ekosistemnya, juga berfungsi sebagai wilayah perlindungan sistem penyangga kehidupan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8. Bahkan dalam Pasal 37 ayat 2, Bab Peran Serta Rakyat, disebutkan; Dalam mengembangkan peran serta rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (1), Pemerintah menumbuhkan dan meningkatkan sadar konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya di kalangan rakyat melalui pendidikan dan penyuluhan. Namun hal itu nihil dilakukan pemerintah yang diwakilkan kepada Kementerian Lingkungan Hidup & Kehutanan (KLHK). Sebaliknya, KLHK sebagai pihak yang berwenang melakukan pembiaran kerusakan di Cagar Alam. Seyogyanya mempertahankan Status sebuah Kawasan sebagaimana mestinya, ternyata malah menurunkan Status berikut Fungsi sebuah Kawasan Cagar Alam menjadi Taman Wisata Alam. TOLAK SK.25/MENLHK/SETJEN/PLA.2/1/2018

Mari, selamatkan nyawa kita.


Sumber Informasi:

sadarkawasan.com


SETUJUI PETISI INI !

Tolak Penurunan Fungsi Cagar Alam Menjadi Taman Wisata Alam

Wednesday, January 23, 2019

BANJIR LANDA 53 KECAMATAN DI SULAWESI SELATAN, RIBUAN WARGA MENGUNGSI

Hujan berintensitas tinggi disertai angin kencang dan gelombang pasang telah menyebabkan sungai-sungai meluap sehingga banjir di wilayah Sulawesi Selatan pada 22/1/2019 siang hari. Data sementara tercatat 53 kecamatan di 9 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Sulawesi Selatan yang mengalami banjir yaitu di Kabupaten Jeneponto, Gowa, Maros, Soppeng, Barru, Wajo, Bantaeng, Pangkep dan Kota Makassar.


Dampak sementara akibat banjir, longsor dan angin kencang yang berhasil dihimpun Posko BNPB berdasarkan laporan dari BPBD, tercatat 8 orang meninggal dunia, 4 orang hilang, ribuan rumah terendam banjir, ribuan warga mengungsi ke tempat yang lebih aman, dan 10.021 hektar sawah terendam banjir. Korban meninggal dunia ditemukan di Jeneponto 5 orang dan Gowa 3 orang, sedangkan korban hilang terdapat di Jeneponto 3 orang dan Pangkep 1 orang. Hingga 23/1/2019 pukul 14.00 WIB banjir masih banyak melanda di daerah. Penanganan darurat dan pendataan masih terus dilakukan sehingga update data akan berubah. Demikian disampaikan Sutopo Purwo Nugroho Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB dalam rilis resminya.



Sutopo melanjutkan, Di Kabupaten Jeneponto, banjir melanda 21 desa di 10 kecamatan yaitu Kecamatan Arung Keke, Bangkala, Bangkala Barat, Batang, Binamu, Tamalatea, Tarowang, Kelara, dan Turatea dengan tinggi banjir 50 – 200 centimenter. Banjir akibat hujan deras sehingga sungai-sungai meluap, diantaranya Sungai Topa, Allu, Bululoe, Tamanroya, Kanawaya, dan Tarowang. Dampak yang ditimbulkan adalah 5 orang meninggal dunia, 3 orang hilang, 5 rumah hanyut, 51 rumah rusak berat, ribuan warga mengungsi dan ribuan rumah terendam banjir. Evakuasi, pencarian, penyelamatan dan distribusi bantuan masih terus dilakukan. Banyak warga yang mengungsi sementara di atap rumah sambil menunggu dievakuasi. Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.

Di Kota Makassar, banjir melanda 14 kecamatan yaitu Kecamatan Biringkanaya, Bontoloa, Kampung Sangkarang, Makassar, Mamajang, Manggala, Mariso, Pankkukang, Rampocini, Tallo, Tamalanrea, Tamalate, Ujung Pandang, dan Ujung Tanah. Sekitar 1.000 jiwa warga mengungsi. Banjir juga disebabkan hujan deras kemudian sungai-sungai yang bermuara di Kota Makassar meluap.

Di Kabupaten Gowa, banjir melalanda 7 kecamatan yaitu Somba Opu, Bontomanannu, Pattalasang, Parangloe, Palangga, Tombolonggo, dan Manuju. Sekain hujan deras, banjir juga disebabkan dibukanya pintu Waduk Bili-Bili karena terus meningkat volume air di waduk sehingga untuk mengamankan waduk maka debit aliran keluar dari Waduk Bili-Bili ditingkatkan.

Tercatat 3 orang meninggal dunia, 45 orang luka-luka, 2.121 orang mengungsi yang tersebar di 13 titik pengungsian, lebih dari 500 unit rumah terendam banjir setinggi 50 – 200 centimeter ddari dampak banjir di Gowa. Banjir juga menyebabkan 2 jembatan rusak berat sehingga tidak dapat digunakan yaitu jembatan Jenelata di Desa Moncong Loe Kecamatan Manuju dan jembatan di Dusun Limoa Desa Patalikang Kecamatan Manuju. Hujan deras juga memicu longsor di beberapa tempat sehingga menutup jalan dan merusak beberapa rumah.

Sementara itu banjir di Kabupaten Marros melanda 11 kecamatan. Lebih dari 1.400 orang mengungsi. Pendataan masih dilakukan. Listrik padam sehingga komunikasi juga putus. Posko BNPB terus berkoordinasi dengan Pusdalops BPBD. Tim Reaksi Cepat BNPB mendampingi BPBD. Penanganan darurat masih terus dilakukan oleh tim gabungan. BPBD bersama , TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI, Tagana, relawan dan lainnya melakukan penanganan darurat.
Perahu karet dan bantuan permakanan untuk pengungsi masih diperlukan. Korban hilang masih dilakukan pencarian. Kondisi hujan yang masih berlangsung dan luasnya wilayah yang terkena banjir cukup menyulitkan dalam penanganan.



Hujan ekstrem yang turun sejak 22/1/2019 di beberapa wilayah Sulawesi Selatan menyebabkan banjir. Tercatat di beberapa stasiun penakar hujan milik Kementerian PU Pera dan BMKG mencatat di Pos 1 Bawangkaraeng 308 milimeter per hari, Lengkese 329 milimeter per hari, KD-1 234 milimeter per hari, Limbungan 328 milimeter per hari, dan Bili-Bili 88 milimeter per hari. Intensitas curah hujan setebal ini tergolong ekstrem sehingga kondisi permukaan tanah tidak mampu menampung semuanya dan sungai juga tidak mampu mengatuskan aliran permukaan, akibatnya banjir.

Saat ini debit dan volume Waduk Bili-Bili terus menurun. Hingga 23/1/2019 pukul 14.00 WIB, tinggi muka air Waduk Bili-Bili sudah mulai ada penurunan menjadi 100,64 meter, volume waduk 277,55 juta meter kubik, dan inflow sekitar 927,77 meter kubik per detik. Meskipun masih dalam batas Siaga namun kondisinya terus mengalami penurunan.

Pemerintah daerah dan masyarakat dihimbau untuk terus meningkatkan kewaspadaan menghadapi banjir dan tanah longsor. BMKG telah menyebarkan peringatan dini hujan lebat selama 23 – 30 Januari 2019. Sebagian besar wilayah Indonesia puncak hujan berlangsung selama Januari hingga Februari 2019. Secara statistik dari data kejadian bencana selama 20 tahun terakhir menunjukkan bahwa selama bulan Januari dan Februari adalah puncak dari kejadian bencana hidrometeorologi yaitu banjir, longsor dan puting beliung. Polanya mengikuti dari pola curah hujan.

Tuesday, January 22, 2019

WASPADAI POTENSI BENCANA HIDROMETEOROLOGI AKIBAT HUJAN LEBAT AKHIR JANUARI 2019

Potensi Bencana Hidrometeorologi di beberapa wilayah 23 - 30 Januari 2019


Melanjutkan dari himbauan yang telah dikeluarkan sebelumnya pada tanggal 16 Januari 2019, BMKG kembali menghimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan SIAGA dalam menghadapi periode puncak musim hujan 2019. Khususnya akan dampak dari curah hujan tinggi yang akan memicu Bencana Hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang dan angin kencang yang meningkat pada akhir Januari 2019.

Berdasarkan hasil analisis dinamika atmosfer (22/01/2019), terpantau masih terdapat aliran massa udara basah dari Samudera Hindia yang masuk ke wilayah Jawa, kalimantan, Bali, NTB hingga NTT. Bersamaan dengan itu, masih kuatnya Monsun Dingin Asia beserta hangatnya Suhu Muka Laut di wilayah perairan Indonesia menyebabkan tingkat penguapan dan pertumbuhan awan cukup tinggi. Dari pantuan pergerakan angin, BMKG mendeteksi adanya daerah pertemuan angin yang konsisten dalam beberapa hari terakhir memanjang dari wilayah Sumatera bagia Selatan, Laut Jawa, Jawa Timur, Bali, hingga NTB dan NTT. Demikian disampaikan Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Drs. R. Mulyono R. Prabowo M.Sc dalam siaran Persnya di Jakarta, 22 Januari 2019.



Secara khusus, BMKG melalui Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) di Jakarta tengah memonitor adanya tiga bibit badai tropis di dekat wilayah Indonesia. Salah satu bibit siklon yang saat ini berada di Laut Timor ( 94S) berpotensi meningkat menjadi siklon tropis dalam 3 hari kedepan dan mengakibatkan potensi cuaca ekstrem berupa angin kencang yang dapat mencapai diatas 25 knot terjadi di wilayah Indonesia seperti Riau, Kep. Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Tenggara dan Sulawesi Selatan.




Berikut adalah Wilayah-wilayah yang berpotensi Hujan Lebat untuk periode 23 - 26 Januari 2019, antara lain: Aceh, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali,  NTB, NTT, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Papua Barat, Papua.

Sedangkan Wilayah-wilayah yang berpotensi Hujan lebat untuk periode 27 - 30 Januari 2019, antara lain: Sumatera Selatan, Bangka Belitung, Bengkulu, Lampung, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB, NTT, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengara, Maluku, Papua Barat, dan Papua.

Tonton Video Kampanye Materi Pendidikan Menghadapi Tsunami



Menurut Mulyono, Tidak hanya hujan lebat, masyarakat nelayan dan pesisir juga perlu mewaspadai potensi gelombang tinggi 2.5 hingga 4.0 meter diperkirakan terjadi di Perairan Barat P. Simeulue Hingga Kep. Mentawai, Perairan P. Enggano Hingga Barat Lampung, Selat Sunda bagian Selatan, Perairan Selatan Banten Hingga Jawa Tengah, Samudra Hindia Barat Sumatra Hingga Jawa Tenga, Perairan Utara Kep. Anambas Dan Laut Natuna, Laut Jawa bagian Tengah, Laut Bali, Perairan Selatan Baubau - Kep. Wakatobi, Laut Banda bagian Selatan, Perairan Kep. Sermata - Kep. Babar, Laut Arafuru bagian Barat. Potensi gelombang tinggi 4.0 hingga 6.0 meter diperkirakan terjadi di Laut Cina Selatan Dan Laut Natuna Utara, Perairan Utara Kep. Natuna, Laut Jawa Bagian Timur Hingga Laut Sumbawa, Selat Makassar Bagian Selatan, Perairan Selatan Jawa Timur Hingga P. Rote, Selat Bali - Selat, Lombok - Selat Alas Bagian Selatan, Samudra Hindia Selatan Jawa Timur Hingga NTT, Perairan Utara Flores, Perairan Kep. Sabalana - Kep. Selayar, Laut Flores, Laut Sawu Dan Laut Timor Selatan NTT.

Masyarakat dihimbau agar tetap waspada dan berhati-hati terhadap dampak yang dapat ditimbulkan dari curah hujan tinggi dan angin kencang yang akan terjadi pada akhir Januari 2019 ini. Antara lain Potensi Banjir, Tanah Longsor, Banjir Bandang, Genangan, Angin Kencang, Pohon Pumbang dan jalan licin. Masyarakat agar tetap memperbarui informasi dari BMKG serta instansi terkait untuk memastikan Mitigasi Bencana Hidrometeorologi dapat dilakukan dengan baik.

Informasi cuaca terkini dapat diakses melalui : - http://www.bmkg.go.id; - Akun IG dan twitter @infobmkg; - aplikasi iOS dan android "Info BMKG"; atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat.

Saturday, January 5, 2019

Update Waspada Tsunami Selat Sunda


Bedasarkan informasi Badan Geologi terkait perkembangan erupsi Gunung Anak Krakatau, serta dengan mempertimbangkan kondisi lereng/tebing dasar laut ataupun kondisi potensi kegempaan di Selat Sunda, maka zona waspada tsunami masih diterapkan dalam radius 500 m dari tepi pantai yang berada pada elevasi rendah (elevasi kurang dari 5 m di atas permukaan laut).

Masyarakat diminta tetap tenang dan waspada, dalam beraktivitas di pantai/pesisir Selat Sunda, dalam radius 500 m dari tepi pantai yang berada pada elevasi rendah. Demikian disampaikan oleh Deputi Bidang Geofisika BMKG Dr. Ir. Muhamad Sadly, M. Eng dalam konferensi pers di Jakarta Senin, 5 Januari 2018.


Masyarakat juga di minta untukuntuk  memonitor perkembangan informasi terkait kewaspadaan bahaya tsunami, melalui website, aplikasi mobile dan media sosial *InfoBMKG*, serta memonitor perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui aplikasi *MAGMA INDONESIA* Badan Geologi-ESDM, agar tidak terpancing dengan informasi / isu yang menyesatkan.

Muhamad Sadly melanjutkan, BMKG beserta Badan Geologi dengan dukungan TNI dan Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman masih tetap terus memantau, dan akan terus menyampaikan informasi perkembangannya.


Monday, December 17, 2018

Tumbuh Siklon Tropis "KENANGA", Masyarakat Di Minta Waspada Terhadap Potensi Hujan Besar dan Angin Kencang.


Jakarta.   Sebuah bibit siklon terdeteksi berkembang sejak tanggal 12 Desember 2018 di wilayah Samudera Hindia dan akhirnya telah menjadi siklon tropis pada Sabtu 15 Desember 2018 pada jarak sekitar 1.400 km dari Bengkulu sebelah barat daya pulau Sumatera. Siklon tropis, yang kemudian diberi nama siklon tropis "KENANGA", ini terbentuk di wilayah yang masih menjadi tanggung jawab Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Jakarta. Hasil analisis menunjukkan siklon tropis ini memiliki kecepatan angin maksimum di dekat pusat siklonnya mencapai 40 knot atau sekitar 75 km/jam.

Berdasarkan pantauan terkini, siklon tropis ini akan cenderung bergerak ke arah barat daya menjauhi wilayah Indonesia dan diprakirakan berada sekitar 2.754 km dari wilayah Indonesia dalam 72 jam kedepan. *Siklon ini akan memberikan dampak tidak langsung berupa peningkatan kecepatan angin di sebagian wilayah pesisir barat pulau Sumatera dan peningkatan ketinggian gelombang 2,5 - 4,0 meter di perairan Kep. Mentawai hingga Selat Sunda. Demikian disampaikan oleh Deputi Bidang Meteorologi BMKG Drs R. Mulyono R. Prabowo M.Sc.

Mulyono menambahkan, Peningkatan kecepatan angin, yang cenderung disebabkan oleh aliran massa udara dari selatan Indonesia bagian Tengah, juga diprakirakan dapat terjadi di pulau Jawa bagian selatan meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, NTB dan NTT. Dominasi massa udara dari selatan cenderung mengurangi curah hujan di sebagian wilayah pulau Sumatera dan Jawa. Namun, sebaliknya meningkatkan intensitas hujan di wilayah Indonesia bagian tengah dan timur. *Wilayah yang berpotensi hujan lebat pada periode 17 - 19 Desember 2018 antara lain: Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, Sulawesi Barat, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, Papua

Masih menurut Mulyono, Pada periode 20 - 23 Desember 2018, kembali harus waspada untuk wilayah Sumatera, Jawa dan Kalimantan.* Diprakirakan aliran udara dingin dari Asia akan kembali masuk wilayah Indonesia dan membentuk area konvergensi serta kembali memicu peningkatan curah hujan di wilayah Indonesia bagian barat. Wilayah yang berpotensi hujan lebat pada periode ini antara lain: Sumatera Barat, Bengkulu, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Bangka Belitung, Kep. Riau, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah.

BMKG menghimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi bencana hidrometeorologis seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, dan angin kencang terutama untuk wilayah-wilayah yang telah mendapat hujan berintensitas tinggi dalam beberapa hari. Selain itu masyarakat yang beraktifitas di perairan khususnya selatan Pulau Sumatera juga agar mewaspadai potensi gelombang tinggi dan angin kencang.

Bagi masyarakat yang hendak memperoleh informasi terkini, BMKG membuka layanan informasi cuaca 24 jam, yaitu melalui:
- call center 021-6546315/18;
http://www.bmkg.go.id
- follow @infobmkg;
atau dapat langsung menghubungi kantor BMKG terdekat, pungkas Mulyono. (G-094)


Monday, August 14, 2017

SESAR LEMBANG, ANCAMAN NYATA BANDUNG RAYA

Di wilayah Kota Bandung memang terdapat struktur Sesar Lembang dengan panjang jalur sesar yang mencapai 30 km. Hasil kajian menunjukkan bahwa laju pergeseran Sesar Lembang mencapai 5,0 mm/tahun, sementara itu hasil monitoring BMKG juga menunjukkan adanya beberapa aktivitas seismik dengan kekuatan kecil. Adanya potensi gempabumi di jalur Sesar Lembang dengan magnitudo maksimum M=6,8 merupakan hasil kajian para ahli, sehingga kita patut mengapresiasi hasil penelitian tersebut. Demikian disampaikan Dr. Ir. Muhamad Sadly, M.Eng, Deputi Bidang Geofisika BMKG dalam Siaran Pers nya di Jakarta, tanggal 14 Agustus 2017.


Muhamad Sadly menjelaskan, bahwa Hasil pemodelan peta tingkat guncangan (shakemap) oleh BMKG dengan skenario gempa dengan kekuatan M=6,8 dengan kedalaman hiposenter 10 km di zona Sesar Lembang (garis hitam tebal), menunjukkan bahwa dampak gempa dapat mencapai skala intensitas VII-VIII MMI (setara dengan percepatan tanah maksimum 0,2 – 0,4 g) dengan diskripsi terjadi kerusakan ringan pada bangunan dengan konstruksi yang kuat. Dinding tembok dapat lepas dari rangka, monument/menara roboh, dan air menjadi keruh. Sementara untuk bangunan sederhana non struktural dapat terjadi kerusakan berat hingga dapat menyebabkan bangunan roboh. Secara umum skala intensitas VII-VIII MMI dapat mengakibatkan terjadinya goncangan sangat kuat dengan kerusakan sedang hingga berat.


Dengan adanya hasil kajian sesar aktif oleh beberapa ahli akhir-akhir ini, maka penting kiranya pemerintah memperhatikan peta rawan bencana sebelum merencanakan penataan ruang dan wilayah. Perlu ada upaya serius dari berbagai pihak dalam mendukung dan memperkuat penerapan building code dalam membangun struktur bangunan tahan gempa. Saat ini building code Indonesia mengacu kepada peraturan SNI 1726-2012. Upaya pembaharuan peraturan ini sedang dalam proses melalui Tim Pusat Studi Gempa Nasional (PUSGEN) yang melibatkan lintas bidang dan lintas sektoral dimana BMKG berperan aktif di dalamnya.

Adanya hasil kajian potensi bencana, jangan sampai membuat masyarakat yang bermukim di dekat jalur sesar terus dicekam rasa khawatir. Warga masyarakat harus meningkatkan kemampuan dalam memahami cara penyelamatan saat terjadi gempa dan mengikuti arahan pemerintah dalam melakukan evakuasi. Kegiatan sosialisasi di daerah rawan harus digalakkan, karena dapat membuat masyarakat lebih siap dalam menghadapi bencana. Kesiapan dalam menghadapi bencana terbukti dapat memperkecil jumlah korban.

Selanjutnya Muhamad Sadly menghimbau Kepada masyarakat agar tetap tenang dan tidak mudah terpancing isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Pastikan informasi gempabumi berasal dari lembaga resmi pemerintah dalam hal ini BMKG. Untuk mendapatkan informasi tersebut dapat mengunjungi website BMKG (http://www.bmkg.go.id) dan media sosial resmi BMKG.

Support by :

Popular Posts