Showing posts with label DAS. Show all posts
Showing posts with label DAS. Show all posts

Saturday, March 30, 2019

Earth Hour Day" Bukan Sekedar Matikan Lampu

29 Maret "Earth Hour Day" Bukan Sekedar meMatikan Lampu.


 "Earth Hour" bukan sekadar mematikan lampu dan peralatan elektronik lainnya. "Tapi, lebih menekankan simbolisasi sebuah tindakan yang sederhana dan berdampak sangat besar terhadap lingkungan."

Satu rumah mematikan 10 Watt lampu tidak akan terasa efeknya. Tapi coba hitung jika kita semua, 100 juta rumah bersamaan mematikan lampu. Beban bumi akan berkurang dari pemakaian energi listrik terutama yang berasal dari energi kotor, Batubara.

Semua tindakan sederhana untuk mencintai alam dalam satu jam tetap merupakan bagian dari acara ini. "Satu tindakan setiap satu orang. Dampaknya baik untuk lingkungan secara luas,".

Dalam rangkaian HUT GEMPPA CJEA yang ke-30, Anggota Muda GEMPPA melaksanakan bersih sungai Ciwalen yang terletak di Pagerageung Tasikmalaya. Aksi ini juga dalam rangka memperingati Hari Air sedunia. Demikian disampaikan Sobur Suryana sebagai koordinator Lapangan ketika ditemui di lokasi.


Maulana Yusuf, salah satu peserta aksi mengajak seluruh masyarakat untuk melakukan konservasi air, baik di rumah, tempat kerja, sekolah, kampus, dan sebagainya,".

"Ini bukan sekadar acara seremonial. Kita bisa melakukan hal kecil dulu, seperti menanami pekarangan untuk resapan air, jangan membuang sampah sembarangan. Kita bisa pakai kantong atau tas sebagai tempat sampah sementara, dll.

Mudah mudahan aksi ini bisa menjadi pemicu bagi aksi aksi nyata lainnya dari berbagai elemen masyarakat. (G094)

Thursday, March 21, 2019

Kota Anda Mulai Kebanjiran ? Ada Yang Salah Dengan Sistem Drainase Kota Anda !!!

Drainase adalah pembuangan massa air secara alami atau buatan dari permukaan atau bawah permukaan dari suatu tempat. Pembuangan ini dapat dilakukan dengan mengalirkan, menguras, membuang, atau mengalihkan air. Irigasi dan drainase merupakan bagian penting dalam penataan sistem penyediaan air di bidang pertanian maupun tata ruang.

Sistem Drainase Harus Terintegrasi dari Hulu Ke Hilir
Saluran drainase sering kali dirujuk sebagai drainase saja karena secara teknis hampir semua drainase terkait dengan pembuatan saluran. Saluran drainase permukaan biasanya berupa parit , sementara untuk di bawah tanah disebut gorong-gorong.


Dalam lingkup rekayasa sipil, drainase dibatasi sebagai serangkaian bangunan air yang berfungsi untuk mengurangi dan/atau membuang kelebihan air dari suatu kawasan atau lahan, sehingga lahan dapat difungsikan secara optimal sesuai dengan kepentingan. Dalam tata ruang, drainase berperan penting untuk mengatur pasokan air demi pencegahan banjir. Drainase juga bagian dari usaha untuk mengontrol kualitas air tanah dalam kaitannya dengan salinitas (tingkat keasinan atau kadar garam dalam tanah).

Sistem Drainase yang baik dan benar di lihat dari berbagai aspek, baik teknik, lingkungan dan sebagainya telah di atur Pemerintah dalam Peraturan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 12/PRT/M/2014 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan.

Menurut Peraturan Pemerintah ini, Sistem Drainase Perkotaan adalah satu kesatuan sistem teknis dan non teknis dari Prasarana dan Sarana Drainase Perkotaan.
Prasarana Drainase adalah lengkungan atau saluran air di permukaan atau bawah tanah, baik yang terbentuk secara alami maupun di buat oleh manusia, yang berfungsi menyalurkan kelebihan air dari suatu kawasan ke badan air penerima.
Parit Bebas Sampah Menyalurkan kelebihan Air
Ke Kawasan Penerima


Sarana Drainase adalah Bangunan pelengkap yang merupakan bangunan yang ikut mengatur dan mengendalikan sistem aliran air hujan agar aman dan mudah melewati jalan, belokan daerah curam. Bangunan tersebut berupa gorong gorong, pertemuan saluran, bangunan terjunan, jembatan, tali tali air (selokan, saluran air, inlet air dari jalan ke gorong gorong), pompa, pintu air.

Tujuan dari diterbitkannya Peraturan Pemerintah ini adalah untuk mewujudkan Penyelenggaraan Sistem Drainase Perkotaan yang memenuhi persyaratan tertib administrasi, ketentuan teknis, ramah lingkungan dan memenuhi keandalan pelayanan. Sehingga dapat menciptakan lingkungan permukiman yang sehat dan bebas genangan serta dapat meningkatkan konservasi, pendayagunaan dan pengendalian air.

Sistem Drainase harus terintegrasi dari hulu sampai hilir. Jangan sampai pembuatan parit atau gorong gorong di satu Kota menghabiskan dana milyaran namun pada kenyataannya saat musim hujan datang masih saja terjadi genangan air atau banjir. Hal ini terjadi karena terhambatnya saluran drainase ke kawasan buangan air terhambat. Bisa karena terputusnya jalur akibat pengerjaan yang asal asalan atau bahkan kecurangan para kontraktor yang mengurangi bobot pekerjaan demi keuntungan yang lebih besar bagi pihak mereka. Mungkin akibat dari masyarakat sendiri yang belum paham peran peran mereka dalam menjaga lingkungannya. Misalnya masih membuang sampah ke dalam saluran drainase dan mendirikan bangunan di atas saluran saluran drainase.



Demi Kota dan Lingkungan kita tercinta, tempat kita hidup dan berkehidupan, mari saling mengingatkan betapa pentingnya menjaga menjaga lingkungan kita tetap bersih, bebas dari sampah dan limbah. Karena ketika musibah datang kita sendiri yang akan menanggung dan merasakan akibatnya.

Tonton video Berikut :



Saturday, March 16, 2019

Banjir Bandang Melanda Jayapura Papua, Puluhan Orang Meninggal Dunia

Banjir bandang yang melanda 9 kelurahanan di Kecamatan Sentani Kabupaten Jayapura Provinsi Papua pada 16/3/2019 pukul 21.30 WIT telah menimbulkan banyak korban dan kerusakan. Banjir melanda Kelurahan Barnabas Marweri, Piter Pangkatana, Kristian Pangakatan, Didimus Pangkatana, Andi Pangkatana, Yonasmanuri, Yulianus Pangkatana, Nelson Pangkatan, dan Nesmanuri.


Saat ini banjir telah surut meninggalkan lumpur, kayu-kayu gelondongan dan material yang terbawa banjir bandang. Tim SAR gabungan masih melakukan evakuasi dan pencarian korban.


Hingga Minggu (17/3/2019) pukul 07.00 WIB, tercatat dampak banjir bandang sebanyak 14 orang meninggal dunia, dan 18 orang luka-luka. Kerusakan meliputi 9 rumah rusak terdampak banjir di BTN Doyo Baru, 1 mobil rusak atau hanyut, jembatan Doyo dan Kali Ular mengalami kerusakan, eekitar 150 rumah terendam di BTN Bintang Timur Sentani, kerusakan 1 pesawat jenis Twin Otter di Lapangan Terbang Adventis Doyo Sentani. Dampak kerusakan masih akan bertambah karena pendataan masih dilakukan.

Beberapa warga sejak semalam mengungsi. Sekitar 50 orang di Kantor Bupati Jayapura Gunung Merah, 70 orang di Kediaman Bupati Jayapura, dan beberapa warga mengungsi di Kantor Basarnas Jayapura.

Tim SAR gabungan dari BPBD, TNI, Polri, Basarnas, SKPD, PMI dan relawan melakukan penanganan darurat. Posko akan didirikan. Sebagian bantuan disalurkan kepada masyarakat terdampak.




Melihat dampak banjir bandang dan landaan banjir bandang yang terjadi di Sentani, kemungkinan disebabkan adanya longsor di bagian hulu yang kemudian menerjang di bagian hilir. Karakteristik banjir bandang yang sering terjadi di Indonesia diawali adanya longsor di bagian hulu kemudian membendung sungai sehingga terjadi badan air atau bendungan alami. Karena volume air terus bertambah kemudian badan air atau bendung alami ini jebol dan menerjang di bagian bawah dengan membawa material-material kayu gelondongan, pohon, batu, lumpur dan lainnya dengan kecepatan aliran yang besar. Ini ditambah dengan curah hujan yang berintensitas tinggi dalam waktu cukup lama.

Tuesday, February 12, 2019

Rumput Akar Wangi (Vetiver) Untuk Konservasi Tanah, Air Serta Perlindungan Lingkungan

Akar wangi atau narwastu (serai wangi, rumput akar wangi, vetiver, Chrysopogon zizanioides syn. Vetiveria zizanioides, Andropogon zizanioides) adalah sejenis rumput yang berasal dari India. Tumbuhan ini dapat tumbuh sepanjang tahun, dan dikenal orang sejak lama sebagai sumber wangi-wangian. Tumbuhan ini termasuk dalam famili Poaceae, dan masih sekeluarga dengan serai atau padi.
Keharuman akar wangi yang bisa bertahan hingga tahunan ini bisa disuling menjadi minyak akar wangi yang laku di pasar luar negeri. Tanaman akar wangi (Vetiveria zizanioides) termasuk keluarga Gramineae, berumpun lebat, akar tinggal bercabang banyak dan berwarna kuning pucat atau abu-abu sampai merah tua. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik pada tanah dengan ketinggian antara 1.000-2.000 mdpl dengan produksi 15-30 ton per tahun. 

Rumput Akar Wangi

Bagian tanaman yang digunakan sebagai bahan baku pembuat minyak yaitu akar tanaman. Akar yang digunakan sebagai bahan baku diperoleh dari tanaman berumur 9-12 bulan. Sementara manfaat lainnya adalah sebagai antiseptik, antispasmodik, pemanas dan sedatif pada sistem saraf, dan merangsang sistem peredaran darah yang lancar serta sebagai bahan kerajinan tangan. Selain sebagai bahan kerajinan tangan dan minyak, Daun akar wangi juga dapat digunakan sebagai pengusir serangga.
Akarnya yang dikeringkan secara tradisional dikenal sebagai pengharum lemari penyimpan pakaian atau barang-barang penting, seperti batik dan keris. Aroma wangi ini berasal dari minyak atsiri yang dihasilkan pada bagian akar.

Rumput vetiver untuk konservasi tanah, air serta perlindungan lingkungan




Nah, selain merupakan komoditas perdagangan dan dan industri pewangi seperti di bahas di atas, akar wangi juga mempunyai manfaat yang sungguh dahsyat dalam dalam konservasi tanah dan air terutama untuk di lereng lereng perbukitan yang curam, Hulu Daerah Aliran Sungai dan pinggir pinggir jalan yang rawan longsor.

Vetiver telah ditanam di Indonesia selama bertahun-tahun, beberapa studi menyatakan telah lebih dari 1.000 tahun (Greenfield, 2002) tetapi setidaknya dari 200 tahun yang lalu (Dafforn, 2002), telah dibudidayakan terutama untuk memproduksi minyak akar wangi untuk di ekspor. Rumput ditanam di lerang-lereng pegunungan vulkanik dan saat dipanen, meninggalkan sisa galian yang dalam yang menyebabkan erosi yang luas. Hal ini memberikan reputasi buruk pada vetiver dan menciptakan kesan bahwa vetiver “menyebabkan erosi”, sehingga budidaya vetiver dilarang di beberapa daerah di Jawa. (National Academy Press. Halaman 16. 1993)

Rumput Akar Wangi atau Vetiveria Ziazionides adalah rumput tropis yang memiliki banyak kelebihan.  Akar-akar vetiver  yang masuk ke dalam tanah akan berfungsi seperti kolom-kolom beton yang menahan tanah agar tidak longsor sehingga tanah menjadi stabil. Barisan vetiver menahan material erosi di belakang tubuhnya sehingga mengurangi kecuraman dan akhirnya membentuk teras-teras yang lebih landai.

Rumput Akar Wangi atau Vetiveria Ziazionides adalah rumput tropis yang memiliki banyak kelebihan.  Akar-akar vetiver  yang masuk ke dalam tanah akan berfungsi seperti kolom-kolom beton yang menahan tanah agar tidak longsor sehingga tanah menjadi stabil. Barisan vetiver menahan material erosi di belakang tubuhnya sehingga mengurangi kecuraman dan akhirnya membentuk teras-teras yang lebih landai.



Manfaat Teknologi Rumput Vetiver

1. Menahan laju air run-off dan material erosi
2. Memperlambat aliran endapan yang terbawa run-off di titik A sehingga tertumpuk di titik B.
3. Air terus mengalir menuruni lereng C yang lebih rendah. Akar tanaman (D) mengikat tanah di bawah tanaman hingga kedalaman 3 meter.
4. Dengan membentuk “tiang” yang rapat dan dalam di dalam tanah, akar-akar ini mencegah terjadinya erosi dan longsor.

Mekanisme Kerja Teknologi Rumput Vetiver
  1. Akar-akar vetiver  yang masuk ke dalam tanah akan berfungsi seperti kolom-kolom beton yang menahan tanah agar tidak longsor sehingga tanah menjadi stabil.
  2. Barisan vetiver menahan material erosi di belakang tubuhnya sehingga mengurangi kecuraman dan akhirnya membentuk teras-teras yang lebih landai.


Keunggulan
  1. Mencegah erosi dan longsoran secara vegetatif (green construction)
  2. Murah dan mudah dalam pelaksanaan dan pemeliharaan
  3. Efektif dalam jangka panjang untuk mengatasi permasalahan longsoran pada permukaan lereng jalan

 Karakteristik Morfologis Vetiver




  1. Rumput Vetiver tidak memiliki geragih ataupun rimpang. Akarnya yang terstruktur baik dan masif dapat tumbuh dengan sangat cepat. Panjangnya dapat  mencapai 3-4m di tahun pertama. Akar yang dalam ini membuat Vetiver sangat bagus ketika musim kering dan sulit untuk terseret arus yang kuat.
  2. Batangnya yang kaku dan tegak mampu tetap berdiri meskipun di arus yang dalam.
  3. Tahan terhadap hama, penyakit, dan api
  4. Ketika ditanam rapat, tanaman pagarnya yang lebat berguna sebagai penyaring sedimen yang efektif dan penyebar air.
  5. Tunas baru yang berkembang dari mahkota dalam tanahnya membuat Vetiver tahan terhadap api, salju, lalu lintas, dan tekanan penggembalaan yang berat.
  6. Akar akar baru tumbuh dari tunas bakal anakan ketika terkubur oleh sedimen  yang terperangkap. Vetiver akan tetap tumbuh dengan lanau (endapan didasar  sungai) yang terkumpul dan akhirnya membentuk teras, jika sedimen yang terperangkap tidak dipindahkan.

Karakteristik Fisiologis
  1. Toleran terhadap perbedaan iklim seperti kekeringan berkepanjangan, banjir, perendaman dan cuaca ekstrim dari -14 derajat Celcius sampai +55 derajat Celcius.
  2. Mampu tumbuh kembali dengan cepat setelah terkena dampak kekeringan, cuaca beku, keadaan yang salin dan kondisi yang merugikan setelah cuaca membaik atau setelah amelioran tanah ditambahkan.
  3. Toleran terhadap beragam pH tanah dari 3.3 sampai 12.5 tanpa pembugaran tanah.
  4. Toleran terhadap herbisida dan pestisida tinggi.
  5. Sangat efisien dalam menyerap nutrisi tanah yang larut seperti N dan P dan logam berat dalam air yang terpolusi.
  6. Sangat toleran terhadap keasaman, alkalinitas, salinitas, soldisitas dan magnesium dalam tingkat menengah tinggi.
  7. Sangat toleran terhadap Al, Mn dan logam berat seperti As, Cd, Cr, Ni, Pb, Hg, Se dan Zn didalam tanah.

Karakteristik Ekologis




Meskipun Vetiver sangat toleran terhadap beberapa keadaan ekstrim tanah dan  iklim seperti disebutkan diatas, seperti umumnya rumput, Vetiver tidak toleran  terhadap tempat teduh. Keteduhan akan mengurangi pertumbuhannya dan dalam  kasus ekstrim bisa jadi membunuh Vetiver. Karenanya Vetiver sebaiknya ditanam  di lingkungan yang terbuka dan bebas dari rumput liar. Pengendalian terhadap  rumput liar bisa jadi diperlukan selama masa awal pertumbuhan. Pada tanah yang  mudah terkikis dan tidak stabil, Vetiver akan mengurangi erosi lebih dulu,  menstabilkan tanah yang terkikis (khususnya lereng yang curam), kemudian  dikarenakan kelembaban dan nutrisi yang tersimpan, meningkatkan  mikrolingkungannya sehingga tanaman lain atau dari benih yang ditaburkan lainnya  bisa ditanam setelahnya. Dikarenakan karakteristik tersebut Vetiver bisa disebut sebagai tanaman perawat pada tanah yang sakit.

Ketika ditanam pada satu deretan, tumbuhan Vetiver akan membentuk tanaman pagar yang sangat efektif untuk memperlambat dan menyebarkan limpasan air,  mengurangi erosi tanah, mempertahankan kelembaban tanah dan memerangkap  sedimen serta zat-zat kimia pertanian. Meskipun tanaman pagar manapun bisa  melakukannya, rumput Vetiver, karena keajaibannya dan ciri morfologis dan   fisiologis uniknya, bisa melakukannya dengan lebih baik dibanding sistem lain yang telah diuji coba.
Selebihnya, akar Vetiver yang sangat dalam dan masif mengikat tanah dan pada  saat yang sama membuatnya sangat sulit untuk dihanyutkan oleh arus yang sangat  deras. Akarnya yang dalam sekali dan cepat tumbuh juga membuat Vetiver sangat toleran terhadap kekeringan dan sangat cocok untuk stabilisasi lereng curam.
Sistem Vertiver Di Jalan Tol Cipularang
Letusan gunung berapi, tsunami, banjir, gempa bumi, tanah longsor dan bencana alam lainnya merenggut ribuan nyawa setiap tahun di seluruh kepulauan Indonesia. Ribuan orang bermigrasi ke kota setiap tahun karena, dalam banyak kasus, penurunan produktivitas lahan pertanian, terutama di lereng gunung. Jika lahan pertanian yang marginal, lereng pegunungan vulkanik dan garis pantai ditanami vetiver, tidak hanya lahan pertanian menjadi lebih produktif, meminimalkan erosi serta konservasi tanah dan air sebelum terjadi bencana yang tak terduga, tetapi nyawa manusia juga akan diselamatkan dan lahan pedesaan yang berharga dan sungai akan terlindungi. Lahan pertanian yang lebih produktif akan menghasilkan mata pencaharian yang lebih baik untuk generasi sekarang dan masa depan di daerah pedesaan – dan dapat menjadi insentif bagi para migran perkotaan untuk kembali ke desa-desa mereka.

Tonton Video Perjalanan Di Hutan Hujan berikut


Teknologi Sistem Vetiver adalah alat sederhana, murah, efektif dan menguntungkan lingkungan yang dapat mendorong pembangunan sosial dan ekonomi yang berkelanjutan di Indonesia. Hal ini sekarang sedang diadopsi oleh Departemen Pekerjaan Umum, Pertanian, Kehutanan dan Industri, serta perguruan tinggi untuk memperbaiki infrastruktur, lahan pertanian, hutan dan DAS yang pasti akan memerangi perubahan iklim dan mempromosikan ketahanan pangan yang berkelanjutan dan kemandirian.

Monday, February 11, 2019

Peran Komunitas Dalam Pengelolaan Lingkungan DAS Termasuk Pengelolaan Limbah Domestik

Sungai Citanduy merupakan salah satu sungai yang ada di Jawa Barat, melintasi kabupaten Ciamis, KabupatenTasikmalaya, Kota Tasikmalaya, Kota Banjar dan bermuara di Segara Anakan Cilacap Jawa Tengah. Hulu Sungai Citanduy terletak di Pegunungan Cakrabuana yang memiliki titik puncak tertinggi 1721 m. Aliran sungai Citanduy mempunyai luas 350.000 Ha, 57% dari luas tersebut merupakan lahan pertanian, sedangkan 33% berupa hutan dan perkebunan. Topografi dari wilayah sungai Citanduy yang merupakan daerah yang rata sekitar 30%, daerah bukit dan bergelombang sekitar 50% dan sisanya sekitar 20% mempunyai karakteristik berupa tebing atau lereng dengan tekstur tanah yang mudah tererosi. Data tersebut merujuk dari data Dinas Pekerjaan Umum tahun 2006 (DPU, 2006). Bayangkan perubahan topografi yang terjadi sampai saat ini.

Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, secara kasat mata kondisi sungai Cikidang mengalami kualitas penurunan yang sangat signifikant terutama jika dilihat dari kualitas lingkungan di sekitar kawasan sungai yang dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat setempat. Hampir di sepanjang sungai terdapat pemandangan yang sangat memprihatinkan dengan sampah berserakan yang tidak dikelola. Sampah plastik menjadi primadona utama penghuni sungai.





Seperti telah disampaikan pada artikel Kondisi Daerah Tangkapan Air Hulu DAS Citanduy sebelumnya, bahwa Sungai Citanduy di daerah hulu adalah pertemuan dua sungai besar yaitu Citanduy dan Sungai Cikidang, yang bertemu di daerah Tanjungsari kecamatan Sukaresik. Debit air kedua sungai ini hampir sama besarnya sehingga jika terjadi hujan deras di kedua hulu sungai tersebut akan mengakibatkan tersendatnya aliran air akibat benturan kedua sungai di wilayah pertemuan. Dan tentu saja akibatnya adalah , banjir besar yang melanda hampir sebagian besar wilayah Desa Tanjungsari Kecamatan Sukaresik. Bahkan menurut Sobur Suryana salah satu Valounteer dan aktivis Lingkungan Hidup di Kabupaten Tasikmalaya, dalam satu tahun bisa terjadi 3 kali banjir. Sungguh luar biasa, betapa setiap tahun warga selalu dihantui ketakutan akan datangnya banjir yang tentu saja akan membawa kerugian materi yang tidak sedikit terutama jika sang banjir datang di saat padi sedang menguning menjelang panen datang.

Obstacle di Sungai Citanduy
Melihat Fenomena seperti di atas, kami yang mengaku aktivis Lingkungan Hidup bersama Valounteer dan warga di Desa Tanjungsari Kecamatan Sukaresik Kabupaten Tasikmalaya merasa terpanggil untuk membuat suatu sistem pengelolaan Lingkungan terutama Daerah Aliran Sungai (DAS) dan bagaimana mengelola sampah domestik di lingkungan mereka.
Langkah pertama yang dilakukan adalah membentuk Komunitas Desa Tanggap Bencana (Destana) dan Komunitas EcoVillage untuk mewadahi pergerakan mereka.

Strategi pemberdayaan yang dilakukan oleh komunitas pemuda antara lain melalui perecanaan, program dan aksi, penguatan kelembagaan dan management organisasi, pengembangan jejaring dan kerjasama, serta peningkatan kapasitas SDM. Perencanaaan program serta aksi dilakukan dengan melakukan sosialisasi, pendampingan dan pengembangan jaringan dan kerjasama. Sosialisasi dan pendampingan dilakukan dengan menentukan kelompok sasaran yaitu komunitas ibu-ibu rumah tangga/PKK, Komunitas pemuda dan karang taruna. Sedangkan pengembangan jaringan dan kerjasama seperti yang sudah dilakukan yaitu berkoordinasinya Destana dengan BPBD Kabupaten Tasikmalaya.


Penerapan konkrit dalam pengelolaan DAS Citanduy yaitu dalam bentuk penanaman pohon di sekitar daerah resapan dan tangkapan air serta bantaran-bantaran sungai Citanduy dan Cikidang yang rutin dilakukan hampir setiap 3 bulan 1 kali. Di samping penanaman pohon, pembersihan sungai pun kerap dilakukan untuk menyingkirkan obstacle obstacle yang bisa mengakibatkan sungai terganggu alirannya akibat menumpuknya sampah di tempat tersebut.
Dalam bidang penanganan sampah domestik, di sini juga telah di rintis satu bank sampah yang mudah-mudahan bisa dikembangkan dan dipertahankan.






Meskipun hal ini tidak lantas membuat 100% kawasan Desa Tanjungsari bebas dari banjir yang selalu datang. Karena kenyataannya hal ini masih terus saja terjadi walaupun program yang dilaksanakan sudah mau memasuki tahun kedua. Dan sampah bawaan sungai Citanduy dan Cikidang dari arah hulu pun masih terus berdatangan. Namun hal itu tidak menyurutkan tekad untuk tetap berkarya dan bekerja demi Sungai dan Lingkungan.
Kami berprinsip, biarlah dari arah hulu terus mengalirkan sampah ke wilayah kami. Tapi Kami akan berusaha semaksimal mungkin bahwa tidak ada limbah dan sampah yang akan terbawa ke hilir dari wilayah kami. Mudah mudahan hal ini bisa meminimalisir konsentrasi sampah di sungai bagian hilir. Dan mudah mudah, apa yang kami lakukan akan diikuti oleh sahabat sahabat kami yang berada di bagian hulu maupun hilir sungai ini.




Peran Komunitas Dalam Pengelolaan Limbah Domestik

Fenomena lingkungan, yang jenuh akibat semakin meningkatnya baik volume maupun jenis limbah rumah tangga baik organik atau non organik. Keberadaan limbah sampah dirasakan kian menjadi permasalahan lingkungan yang harus mulai dipikirkan pemecahan penanganannya secara mandiri di tingkat lingkungan. Karena, tidak mungkin selalu mengandalkan pihak lain, dalam hal ini pemerintah, untuk menangani sampah. Apalagi di pedesaan, pengelolaan sampah biasanya tidak terjangkau karena jauh dari fasilitas pembuangan sampah yang ditangani oleh pemerintah. Akhirnya mau tidak mau masyarakat sendirilah yang harus mengelola sampah secara mandiri. Dengan sentuhan kreatifitas, sebenarnya sampah dapat dijadikan peluang ekonomi dengan menggunakan model pemilahan, pengolahan daur ulang sehingga memiliki daya jual di pasaran.

Selengkapnya di Peran Komunitas Lingkungan Hidup Dalam Pengelolaan Limbah Domestik


Saturday, February 9, 2019

BENCANA HIDROLOGI MENGINTAI, PULIHKAN HULU DAERAH ALIRAN SUNGAI !!!

Banyak bagian hulu Daerah Aliran Sungai (DAS) berupa lahan kritis atau tidak tertutup vegetasi akibat perilaku manusia seperti penebangan pohon ilegal atau penggunaan lereng-lereng bukit untuk kegiatan pertanian semusim. Hal ini menyebabkan fungsi hidrologi Daerah Aliran Sungai, yaitu kemampuan menyerap dan menyimpan dan mengalirkan air menjadi menurun, sehingga bencana hidrologis seperti tanah longsor, banjir dan kekeringan yang merugikan masyarakat dapat lebih mudah terjadi.

Indikator dari sebuah DAS yang sehat ialah tersedianya air dalam kuantitas dan kualitas yang memadai untuk berbagai keperluan, terjaganya kesuburan tanah dan produktifitas lahan, serta berkurangnya bencana-bencana hidrologis seperti banjir, tanah longsor dan kekeringan. Semua ini adalah prasyarat untuk masyarakat yang sejahtera. Oleh karenanya bila DAS sehat, maka masyarakat yang hidup di Daerah Aliran Sungai tersebut akan sejahtera.





Kawasan Hulu Sungai Citanduy
Peran manusia sangat vital dalam menjaga Daerah Aliran Sungai tetap sehat dan berfungsi baik. Karena rusaknya Daerah Aliran Sungai dominan disebabkan akibat perilaku buruk manusia terhadap alam. Daerah Aliran Sungai merupakan wadah atau ekosistem dimana seluruh aktifitas manusia berada dengan segala dinamikanya. Untuk itu masyarakat dan komunitas komunitas pecinta lingkungan terutama pemerintah harus memperhatikan intervensi-intervensi yang manusia lakukan terhadap alam khususnya Daerah Aliran Sungai, agar kesetimbangan sistem ekologis yang ada tetap terjaga.

Longsor Di Mangunsewu, DAT DAS Citanduy
Karena perlu di ingat, bahwa hampir 75% Daerah Tangkapan Air Daerah Aliran Sungai adalah kawasan Hutan Industri yang di tanami pohon pinus, damar dan lain sebagainya yang apabila moratorium penebangan hutan di cabut maka kawasan tersebut akan menjadi penyebab kawasan yang rawan bencana hidrologis. Pemerintah pun harus konsisten dan cermat dalam penetapan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW), jangan sampai Daerah Tangkapan Air dialihfungsikan menjadi wilayah industri dan pemukiman atau fungsi lainnya yang akan mengganggu keseimbangan lingkungan.

Peta Daerah Tangkapan Air Sungai Citanduy Bagian Hulu

Setiap tahun akibat bencana hidrorologis yang terjadi menyebabkan petani merugi karena gagal panen, jatuhnya korban jiwa, rusaknya infrastruktur, kerugian finansial hingga ratusan milyar rupiah, dan bahkan menjadi penyebab penurunan kenyamanan dan kualitas hidup manusia yang tentunya bisa berdampak jangka panjang bagi kualitas generasi manusia Indonesia kedepan.
Oleh karenanya kelestarian Daerah Aliran Sungai harus dijaga dengan perspektif yang lebih luas yaitu pengelolaan Daerah Aliran Sungai secara terpadu. Tidak hanya cukup dengan menanam pohon saja, namun juga harus memastikan terbentuknya tutupan vegetasi hutan terutama pada DTA (daerah tangkapan air) atau wilayah hulu sebuah Daerah Aliran Sungai. Selain itu pembangunan-pembangunan sarana fisik pencegah erosi-sedimentasi juga harus terus diperbanyak.





Pengelolaan Daerah Aliran Sungai bukan sekedar fokus pada upaya penanaman saja, tetapi lebih pada reorientasi gerakan rehabilitasi lahan sehingga Daerah Tangkapan Air DAS menjadi sebuah ekosistem, habitat bagi kehidupan. Memulihkan Kawasan Daerah Aliran Sungai sekaligus melestarikan Lingkungan Hidup di kawasan tersebut. Jika kawasan DAS Lestari menjadi ekositem hutan, maka Kawasan DAS tersebut akan menjadi sehat. Hutan atau Alam yang sehat akan mampu mengatur siklus hidrologi dengan baik, saat hujan tidak banjir dan ketika kemarau tidak kekeringan.


Tonton Video Berikut : 


Thursday, January 17, 2019

Permasalahan Sampah Di Daerah Aliran Sungai

Pertemuan Sungai Cikidang dan Sungai Citanduy

Daerah Aliran sungai (DAS) merupakan modal pembangunan nasional yang sangat penting dan bermanfaat bagi kehidupan dan penghidupan manusia. Namun dalam kenyataannya tidak jarang kawasan ini di pandang sebagai tempat pembuangan akhir dari sampah sampah yang dihasilkan terutama dari sampah rumah tangga (limbah domestik). Baik dari dapur rumah tangga atau bahkan dari industri rumah tangga.

Perilaku dan persepsi masyarakat setempat yang masih belum berorientasi pada pentingnya mengelola limbah domestik terutama kawasan daerah aliran sungai dapat berdampak buruk terhadap kualitas lingkungan dan kualitas air yang menjadi sumber penghidupan manusia.
Jika kondisi ini dibiarkan terus menerus maka akan beresiko pada terjadinya kerusakan lingkungan yang menyebabkan terjadinya bencana alam seperti banjir dan akan berpengaruh pada buruknya kualitas air sungai yang menjadi sumber kehidupan bagi sebagian besar masyarakat yang mayoritas menyandarkan diri pada sektor pertanian dan perikanan.



Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan terhadap beberapa anak sungai yang bermuara di sungai Cikidang, secara kasat mata kondisi anak sungai mengalami kualitas penurunan yang sangat signifikant terutama jika dilihat dari kualitas lingkungan di sekitar kawasan sungai yang dijadikan sebagai tempat pembuangan sampah oleh masyarakat setempat. Hampir di sepanjang sungai terdapat pemandangan yang sangat memprihatinkan dengan sampah berserakan yang tidak dikelola. Belum lagi anak sungai yang melintasi sentra industri tahu dan tempe di mana mereka membuang limbah pengolahan langsung ke sungai. Indikasi lain dapat dilihat dari warna air yang cenderung kehijauan dan berbusa di musim kemarau serta banyaknya sampah plastik yang tersangkut dan bau air yang menyengat.

Isu strategis dalam bidang lingkungan salah satunya didasarkan pada alasan bahwa terjadinya bencana alam banjir dan tanah longsor setiap tahun telah menimbulkan banyak kerugian dan menyengsarakan banyak warga. Kondisi anomali cuaca dan perubahan iklim akibat pemanasan global ditambah sikap dan perilaku masyarakat yang apatis terhadap perubahan perubahan yang terjadi di lingkungan sekitar memperparah terjadinya permasalahan-permasalahan lingkungan yang berdampak pada semakin intensnya bencana alam seperti banjir, tanah longsor, erosi, badai tropis dan kekeringan.
Tonton Video Materi Pendidikan Siaga Tsunami

Persoalan sikap apatis dan perilaku masyarakat ini menarik untuk dikaji lebih mendalam terutama dalam kaitan semakin kompleksnya fenomena sampah yang ada di sekitar kawasan Daerah Aliran sungai (DAS). Jika ini terus dibiarkan persoalan banjir bukan hanya sekedar masalah fenomena alam akibat perubahan iklim dan pemanasan global, namun juga disebabkan karena masih rendahnya sikap dan perilaku masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.

Support by :

Popular Posts