Showing posts with label Flora. Show all posts
Showing posts with label Flora. Show all posts

Sunday, July 14, 2019

Taman Nasional Komodo, Kawasan Lindung Situs Warisan Dunia (UNESCO).

Bapak Presiden Jokowi dan Ibu Negara di Pulau Rinca
Taman Nasional Komodo terletak di daerah administrasi Provinsi Nusa Tenggara Timur dan taman nasional ini juga sangat dekat dengan kepulauan Sumbawa provinsi Nusa Tenggara Barat.
Taman nasional ini terdiri atas tiga pulau besar, Pulau Komodo, Pulau Rinca, dan Pulau Padar serta beberapa pulau kecil.
Wilayah darat taman nasional ini 603 km² dan wilayah total adalah 1817 km².

Pada tahun 1980 Taman Nasional ini didirikan untuk melindungi komodo dan habitatnya. Di sana terdapat 277 spesies hewan yang merupakan perpaduan hewan yang berasal dari Asia dan Australia, yang terdiri dari 32 spesies mamalia, 128 spesies burung, dan 37 spesies reptilia. Bersama dengan komodo, setidaknya 25 spesies hewan darat dan burung termasuk hewan yang dilindungi, karena jumlahnya yang terbatas atau terbatasnya penyebaran mereka.

Selain itu, di kawasan ini terdapat pula terumbu karang. Setidaknya terdapat 253 spesies karang pembentuk terumbu yang ditemukan di sana, dengan sekitar 1.000 spesies ikan. Keindahan terumbu ini menarik minat wisatawan asing untuk berenang atau menyelam di perairan ini.
Pulau-pulau ini aslinya adalah pulau vulkanis. Jumlah penduduk di wilayah ini kurang lebih adalah 4.000 jiwa.

Pada tahun 1991 taman nasional ini diterima sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Pada tanggal 11 November 2011, New 7 Wonders telah mengumumkan pemenang sementara, dan Taman Nasional Komodo masuk kedalam jajaran pemenang tersebut bersama dengan, Hutan Amazon, Teluk Halong, Air Terjun Iguazu, Pulau Jeju, Sungai Bawah Tanah Puerto Princesa, dan Table Mountain. Taman Nasional Komodo mendapatkan suara terbanyak.


Kawasan Taman Nasional Komodo



Taman Nasional Komodo berada di antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores di kepulauan Indonesia Tengah. Secara administrative termasuk dalam Wilayah Kecamatan Komodo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kawasan ini ditetapkan sebagai Taman Nasional Komodo pada tanggal 6 Maret 1980 dan dinyatakan sebagai Cagar Manusia dan Biosfer pada tahun 1977 dan juga sebagai Situs Warisan Dunia oleh UNESCO pada tahun 1991, sebagai Simbol Nasional oleh Presiden RI pada tahun 1992, sebagai Kawasan Perlindungan Laut pada tahun 2000 dan juga sebagai salah satu Taman Nasional Model di Indonesia pada tahun 2006.

Taman Nasional Komodo memiliki luas 173.300 ha meliputi wilayah daratan dan lautan dengan lima pulau utama yakni Pulau Komodo, Pulau Padar, Pulau Rinca, Gili Motang, Nusa Kode dan juga pulau-pulau kecil lainnya. Kepulauan tersebut dinyatakan sebagai Taman nasional untuk melindungi Komodo yang terancam punah dan habitatnya serta keanekaragaman hayati di dalam wilayah tersebut. Taman lautnya dibentuk untuk melindungi biota laut yang sangat beragam yang terdapat disekitar kepulauan tersebut, termasuk yang terkaya di bumi.

Taman Nasional komodo terletak di kawasan Wallacea Indonesia. Kawasan Wallacea terbentuk dari pertemuan dua benua yang membentuk deretan unik kepulauan bergunung api, dan terdiri atas campuran burung serta hewan dari kedua benua Autralia dan Asia. Terdapat 254 spesies tumbuhan yang berasal dari Asia dan Australia di Taman Nasional Komodo. Selain itu, juga terdapat 58 jenis binatang dan 128 jenis burung. Perpaduan berbagai vegetasi di Taman Nasional Komodo memberikan lingkungan yang baik bagi berbagai jenis binatang dalam kawasan ini.

Terdapat empat kampung di dalam Taman Nasional Komodo. Pulau Komodo memiliki satu kampung yakni kampung Komodo; Pulau Rinca memiliki dua kampung yakni Rinca dan Kerora, dan Pulau Papagarang memiliki satu kampung yakni kampung Papagaran. Hingga tahun 2010, masyarakat yang tinggal di dalam kawasan berjumlah 4.251 orang dan sebagian besar masyarakat bermata pencaharian sebagai Nelayan. Mayoritas masyarakat memeluk agama Islam.

Sejarah Pengelolaan


Satwa Komodo menjadi terkenal di dunia ilmu pengetahuan sejak tahun 1911 ketika Peter Ouwens, seorang kurator pada Museum Zoologi Bogor, menerima laporan tentang penemuan satwa ini dari Perwira Pemerintah Hindia Belanda J.K.H. Van Steyn, yang selanjutnya diberi nama Varanus komodensis Ouwens pada tahun 1912 pada tulisan Pieter Antonie Ouwens yang berjudul "On a Large Species from The Island of Komodo".
Dari penemuan ini muncul kesadaran dari berbagai pihak untuk menjaga kelestarian satwa ini, hal ini terlihat adanya beberapa peraturan yang memuat upaya perlindungan Satwa Komodo, yaitu:

  1. SK. Sultan Bima tahun 1915 tentang Perlindungan Komodo (Verordening van het Sultanat van Bima).
  2. SK Pemerintah Daerah Manggarai tahun 1926 tentang Perlindungan Komodo (Besluit van het Zelfbestuur van het Landschap Manggarai).
  3. SK Residen Timor tahun 1927 tentang pengesahan SK Pemerintah Daerah Manggarai pada butir 2 di atas. 

Adapun kronologis pembentukan Taman Nasional Komodo adalah sebagai berikut:

  1. Zelfbestuur van Manggarai, verordening No. 32/24 September 1938 tentang Pembentukan Suaka Margasatwa Pulau Padar, Bagian Barat dan Selatan Pulau Rinca.
  2. Residen van Timor en onder horigheden No. 19/27 Januari 1939 (Pengesahan Peraturan Daerah pada butir 1).
  3. Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.66/Dep.Keh/1965 tanggal 21 Oktober 1965 tentang Penunjukkan Pulau Komodo sebagai Suaka Margasatwa seluas 31.000 Ha.
  4. Surat Keputusan Gubernur KDH Tk. I Nusa Tenggara Timur No.32 Tahun 1969 tanggal 24 Juni 1969 tentang penunjukkan Pulau Padar, Pulau Rinca dan Daratan Wae Wuul/Mburak sebagai Hutan Wisata/ Suaka Alam seluas 20.500 Ha.
  5. Surat Keputusan Dirjen Kehutanan No.97/Tap/Dit Bina/1970, tentang Pembentukan Seksi PPA di Labuan Bajo.
  6. Pengumuman Menteri Petanian tanggal 6 Maret 1980 tentang Pembentukan Taman Nasional Komodo.
  7. Keputusan Dirjen PHPA No.46/Kpts/VI-Sek/84 tanggal 11 Desember 1984 tentang Penunjukkan Wilayah Kerja Taman Nasional Komodo.
  8. Keputusan Menteri Kehutanan No.306/Kpts-II/92 tanggal 29 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Suaka Margasatwa Pulau Komodo, Pulau Rinca, Pulau Padar seluas 40.728 Ha serta Penunjukkan Perairan Laut di sekitarnya seluas 132.572 Ha yang terletak di Kabupaten Dati II Manggarai Provinsi Dati I Nusa Tenggara Timur menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional Komodo.
  9. Tahun 1992, Komodo ditetapkan oleh Presiden RI sebagai Simbol Satwa Nasional melalui Keppres No. 4 Tahun 1992 tanggal 9 Januari 1992.
  10. Tahun 1992, Perubahan fungsi Suaka Margasatwa Pulau Komodo, Pulau Rinca dan Pulau Padar seluas 40.728 Ha dan Penunjukan Perairan Laut seluas 132.572 Ha menjadi Taman Nasional Komodo.
  11. Tahun 2000, ditetapkan kawasan pelestarian alam perairan oleh Menteri Kehutanan dengan luas 132.572 Ha.
  12. Tahun 2006, Taman Nasional Komodo termasuk 21 Taman Nasional Model di Indonesia sesuai dengan SK Direktur Jenderal PHKA Nomor SK.128/IV-Sek/2006 tentang Perubahan Keputusan Direktur Jenderal PHKA Nomor SK.69/IV-Set/HO/2006 tentang penunjukkan 20 (Dua puluh) Taman Nasional sebagai Taman Nasional Model.

Keanekaragaman Hayati


Potensi Flora

Ekosistem Taman Nasional Komodo dipengaruhi oleh iklim yang dihasilkan dari musim kemarau panjang, suhu udara tinggi dan curah hujan rendah.
Disamping itu, Taman Nasional Komodo terletak dalam zonasi transisi antara flora dan fauna Asia dan Australia. Ekosistem perairannya dipengaruhi oleh dampak El-Nino/La Nina, yang berakibat memanasnya lapisan air laut di sekitarnya dan sering terjadi arus laut yang kuat.

Berikut adalah tipe-tipe vegetasi yang terdapat di Taman Nasional Komodo ;
  • Padang Rumput dan Hutan Savana Terdapat Padang Rumput dan Hutan Savana yang luasnya mencapai kurang lebih 70% dari luas Taman Nasional Komodo. Tumbuh berbagai jenis rumput di antaranya; Setaria adhaerens, Chloris barbata, Heteropogon contortus, Themeda gigantea dan Themeda gradiosa yang diselingi oleh pohon lontar (Borassus flobellifer) yang merupakan tumbuhan khas dari Tempat ini.
  • Hutan Tropis Musim (di bawah 500 m dpl) Sekitar 25% dari luas kawasan Komodo meruapakan vegetasi hutan tropis musim dengan jenis tumbuhan, antara lain : kesambi (Schleichera oleosa), asem (Tamarindus indica), kepuh (Sterculia foetida), dan beberapa jenis tumbuhan lainnya.
  • Hutan di atas 500 m dpl pada ketinggian di atas 500 m dpl. Di puncak-puncak bukit, vegetasinya antara lain; Collophyllum spectobile, Colona kostermansiana, Glycosmis pentaphylla, Ficus urupaceae, Mischarpus sundaicus, Podocarpus netrifolia, Teminalia zollingeri, Uvaria ruva, rotan (Callamus sp.), bambu (Bambusa sp.), dan pada tempat yang cukup teduh biasanya ditemukan lumut yang hidup menempel di bebatuan.
Potensi Fauna

Jenis-jenis Fauna yang terdapat di Taman Nasional Komodo antara lain;

Komodo (Varanus komodoensis)
Komodo hidup di beberapa pulau kecil di bagian tenggara Indonesia. Di dalam kawasan Taman Nasional Komodo, komodo hanya ditemukan di Pulau Komodo, Pulau Rinca, Gili Motang dan Nusa Kode. Komodo tidak ditemukan di tempat lain lagi di atas bumi ini, selain di tempat tadi. Saat ini, terdapat 2,793 ekor komodo di dalam kawasan Taman Nasional Komodo. 1,288 ekor terdapat di Pulau Komodo, 1,336 ekor di Pulau Rinca, 83 ekor di Gili Motang dan 86 ekor di Nusa Kode. Sedangkan di Pulau Padar komodo tidak ditemukan lagi.

Komodo (Varanus Komodoensis)
Komodo dapat ditemukan hampir di semua tempat di Komodo, Rinca, Gili Motang dan Nusa Kode. Mereka dapat ditemukan di hutan hujan, dalam Savanna dan di Pantai. Komodo adalah binatang pemakan daging atau karnivora. Komodo yang masih muda memangsa serangga, cecak dan burung sebagai makanannya. Komodo muda ini sampai berumur dua tahun menghabiskan sebagian besar waktu mereka di pohon untuk melindungi diri dari serangan komodo yang lebih besar atau predator lainnya seperti babi hutan.

Komodo dewasa memangsa rusa, babi hutan, kuda, dan kerbau air. Komodo juga memakan bangkai binatang. Komodo menggunakan lidahnya untuk mencium bau dan dapat mencium bau hingga jarak 5 km. Air liur komodo mengandung banyak bakteri mematikan. Terdapat lebih dari 60 jenis bakteri yang terdapat di dalam air liur komodo dan paling tidak salah satu di antaranya dapat menyebabkan keracunan pada darah. Mangsa yang digigit dapat mati dalam waktu sehari sampai beberapa minggu akibat keracunan dalam darahnya.
Musim kawin komodo terjadi pada bulan Juli - Agustus. Komodo betina dapat menghasilkan telur lebih dari 30 butir setiap sarang dan akan menetas 6 - 9 bulan kemudian.

Mamalia
Antara lain, rusa (Cervus timorensis), anjing hutan (Cuon alpinus), babi hutan (Sus scrofa), Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis), kuda liar (Equus caballus) dan kerbau liar (Bubalus bubalis), musang (Paradoxurus hermaphroditus), tikus besar Rinca (Ratus ritjanus), dan kalong buah (Cynopterus brachyotis dan Pteropsis sp.)

Burung
Tercatat terdapat 111 jenis burung, antara lain ; burung gosong (Megapodius reinwardt), kakatua jambul kuning (Cacatua sulphurea), perkutut (Geopelia streptriata), tekukur (Streptopelia chinensis), pergam hijau (Ducula aenea), Philemon buceroides, burung raja udang (Halcyon chloris), dan burung kacamata laut (Zosterops chloris).

Reptil
Terdapat 34 jenis Reptil. Disamping reptil Komodo, jenis reptil lainnya, antara lain; ular kobra (Naja naja), ular russel (Viperia russeli), ular pohon hijau (Trimeresurus albolabris), ular sanca (Python sp.), ular laut (Laticauda colubrina), kadal (Scinidae, Dibamidae, dan Varanidae), tokek (Gekko sp.), penyu sisik (Eretmochelys imbricata), dan penyu hijau (Chelonia mydas).

Potensi Flora

Terdapat di teluk yang terlindungi dari hempasan gelombang. Jenis vegetasinya, antara lain; Rhizophora sp., Rhizophora mucronata, dan Lumnitzera racemosa merupakan jenis vegetasi yang dominan. Namun secara umum terdapat pula api-api (Avicennia marina), Bruguiera sp., Capparis seplaria, Ceriops tagal, dan Sonneratia alba. Komunitas Mangrove di Taman Nasional Komodo merupakan penghalang/benteng fisik alami terhadap Erosi Tanah dan akarnya menjadi tempat pembiakan, berpijah, dan daerah perlindungan bagi ikan, kepiting, udang, dan moluska.

Potensi Sumber Daya Perikanan

Terumbu karang di perairan Taman Nasional Komodo termasuk yang terindah di dunia. Berbagai bentuk dan warna karang keras dan karang lunak sangat menarik untuk dilihat.


Terdapat lebih dari 1000 jenis ikan, 260 jenis karang dan 70 jenis bunga karang (sponge) dan banyak Invertebrata lain yang dapat dijumpai di banyak tecorampat di Taman Nasional Komodo. Acropora spp, Favites sp, Leptoria sp, Fungia sp, Sarcophyton sp dan Xenia sp adalah jenis karang yang umum dijumpai.

Selain itu dapat dijumpai juga berbagai jenis spesies gorgonians, sea fan, sea pens, anemon dengan clown fish, Bintang Laut, christmas tree worms, kima (Tridacna sp), lobster, nudibranchs, dll. Berbagai ikan karang hidup di sini, di antaranya Chaetodon spp, Amychiprion spp, 8 jenis kereapu dan Napoleon (Chelinus undulatus). Selain itu perairan Taman Nasional Komodo merupakan jalur Migrasi 5 jenis Paus, 10 jenis Lumba-lumba dan Duyung (Dugong Dugon).

Objek Daya Tarik Wisata Alam

Daya tarik utama Taman Nasional Komodo yaitu adanya reptil raksasa purba Biawak Komodo (Varanus komodoensis), tetapi keaslian dan kekhasan alamnya, khususnya panorama Savana dan Panorama bawah laut, merupakan daya tarik pendukung yang potensial. Wisata bahari misalnya, memancing, snorkeling, diving, kano, bersampan. Sedangkan di daratan, potensi wisata alam yang bisa dilakukan adalah pengamatan satwa, hiking, dan camping. Mengunjungi Taman Nasional Komodo dan menikmati pemandangan alam yang sangat menawan merupakan pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.

Objek wisata yang menarik di antaranya;

Loh Buaya
Loh Liang di Pulau Komodo
Loh Liang merupakan pintu masuk dan daerah wisata utama di Pulau Komodo. Aktivitas yang dapat dilakukan di Loh Liang antara lain pengamatan satwa komodo, rusa, babi hutan, pengamatan burung, pendakian (Loh Liang - Gunung Ara), penjelajahan (Loh Liang - Loh Sebita), Photo hunting, video shooting, Menyelam dan snorkeling di Pantai Merah (Pink beach). Pantai Merah merupakan pantai dangkal yang indah dengan terumbu karang yang menawan. Aktivitas yang biasa dilakukan oleh turis yang berkunjung adalah snorkeling, diving dan mandi matahari.

Loh Sebita
merupakan daerah mangrove dan aktivitas yang cukup menarik untuk dilakukan adalah pengamatan burung serta treking. Di Loh Liang terdapat fasilitas yang tersedia bagi pengunjung yakni pondok wisata, pusat informasi, cafetaria, dermaga, shelter dan jalan setapak.

Loh Buaya

Merupakan pusat kunjungan wisatawan di Pulau Rinca. Pengunjung dapat menyaksikan hutan bakau, padang savana serta satwa liar misalnya komodo, rusa timor, kerbau liar, monyet ekor panjang, kuda liar serta berbagai jenis burung.


Aktivitas yang ditawarkan kepada pengunjung di Loh Buaya antara lain pengamatan satwa liar, penjelajahan (Loh Buaya - Wae Waso, Loh Buaya - Golo Kode), photo hunting, video shooting, pengamatan kalong di Pulau Kalong (depan Kampung Rinca) dan pengamatan batu balok di kampung Rinca. Fasilitas yang tersedia di Loh Buaya antara lain pondok wisata, cafetaria, shelter dan jalan setapak.

Di Pulau Kalong, aktivitas yang dapat dilakukan antara lain pengamatan koloni kelelawar dalam jumlah yang cukup besar. Pengamatan paling menarik dilakukan pada saat sore hari ketika kelelawar mulai keluar untuk mencari makan. Dari puncak bukit yang dikenal dengan Golo Kode, pengunjung dapat menyaksikan panorama dan bentang alam yang cukup fantastik karena keterwakilan berbagai tipe ekosistem dapat disaksikan dari tempat ini.

Pulau Padar

Pesona Pulau Padar
Padar adalah Pulau kecil yang terletak di antara pulau Komodo dan Pulau Rinca. Pulau Padar memiliki pantai yang sangat indah dan tempat yang sangat baik untuk menyelam dan snorkling.

Zonasi

Tipe-tipe Zonasi di Taman Nasional Komodo;



  1. Zona Inti, zona ini memiliki luas 34.311 Ha dan merupakan zona yang mutlak dilindungi, di dalamnya tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia, kecuali yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, pendidikan dan penelitian
  2. Zona Rimba, zona ini memiliki luas 66.921,08 Ha merupakan zona yang di dalamnya tidak diperbolehkan adanya aktivitas manusia sebagaimana pada zona inti kecuali kegiatan wisata alam terbatas.
  3. Zona Perlindungan Bahari, zona ini memiliki luas 36.308 Ha adalah daerah dari garis pantai sampai 500 m ke arah luar dari garis isodepth 20 m sekeliling bats karang dan pulau, kecuali pada zona pemanfaatan tradisional bahari. Pada zona ini tidak boleh dilakukan kegiatan pengambilan hasil laut, seperti halnya pada zona inti kecuali kegiatan wisata alam terbatas.
  4. Zona Pemanfaatan Wisata Daratan, zona ini memiliki luas 824 Ha dan diperuntukkan secara intensif hanya bagi wisata alam daratan.
  5. Zona Pemanfatan Wisata Bahari, zona ini memiliki luas 1.584 Ha dan diperuntukkan secara intensif bagi wisata alam perairan.
  6. Zona Pemanfaatan Tradisional Daratan, zona ini memiliki luas 879 Ha, zona yang dapat dilakukan kegiatan untuk mengakomodasi kebutuhan dasar penduduk asli dalam kawasan dengan izin hak khusus pemanfaatan oleh Kepala Balai TN. Komodo.
  7. Zona Pemanfaatan Tradisional Bahari, zona ini memiliki luas 17.308 Ha, zona yang dapat dilakukan kegiatan untuk mengakomodasi kebutuhan dasar penduduk asli dalam kawasan dengan izin hak khusus pemanfaatan oleh Kepala Balai TN. Komodo. Pada zona ini dapat dilakukan pengambilan hasil laut dengan alat yang ramah lingkungan (pancing, bagan, huhate, dan paying).
  8. Zona Khusus Permukiman, zona ini memiliki luas 298 Ha, zona untuk bermukim hanya bagi penduduk asli dengan peraturan tertentu dari kepala Balai TN. Komodo bekerja sama dengan pemerintah daerah setempat.
  9. Zona Khusus Pelagis, zona ini memiliki luas 59.601 hektare. Pada zona ini dapat dilakukan kegiatan penangkapan ikan dan pengambilan hasil laut lainnya yang tidak dilindungi dengan alat yang amah lingkungan (pancing, bagan, huhate, dan payang) serta kegiatan wisata/ rekreasi.

Saturday, May 18, 2019

Elang Bondol (Haliastur Indus), Maskot Kota Jakarta Yang Terancam Punah

Elang bondol (Haliastur indus) berukuran sedang (43-51 cm), memiliki sayap yang lebar dengan ekor pendek dan membulat ketika membentang. Bagian kepala, leher, dada dan perut berwarna putih, sisanya berwarna merah bata pucat, bagian ujung bulu primer berwarna hitam, dan tungkai berwarna kuning. Pada individu anak secara keseluruhan berwarna coklat gelap, pada beberapa bagian bergaris-garis putih mengkilap. Ia memiliki paruh melengkung dengan ujung runcing untuk merobek atau mengoyak mangsa, dan cakarnya tajam untuk mencengkeram sama seperti pada elang yang lain pada umumnya.

Ealang Bondol di Manado Sulawesi Utara
Foto arifrahman, Wikipedia



Sebarannya mulai dari India, Cina selatan, Asia tenggara, Indonesia, Australia. Di Indonesia, penyebaran nya ada di Sumatera, Kalimantan, Jawa, Bali, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku, Papua. Sedangkan di Indonesia dan India, dapat ditemukan di daerah pedalaman. Di Kalimantan sendiri, elang bondol dapat di temui di Kapuas Hulu, Kalimantan Barat.

Elang bondol lebih mirip burung pemakan bangkai dibanding burung pemangsa, namun burung ini memangsa buruan kecil seperti ikan, kepiting, kerang, katak, pengerat, reptil, dan bahkan serangga. Elang bondol mencari makan di atas daratan maupun di atas permukaan air, burung ini terbang melayang di ketinggian 20 - 50 meter di atas permukaan.

Elang bondol menangkap mangsanya di atas permukaan air dengan cakarnya, burung ini tidak menyelam ke dalam air. Elang bondol juga memakan bangkai dari sisa-sisa makanan dan sampah sehingga burung ini cukup umum ditemukan di sekitar pelabuhan dan pesisir tempat pengolahan ikan. Walaupun sering memakan bangkai, elang bondol bukanlah pemangsa yang pasif. Burung ini mendirus burung-burung pantai di area pantai berlumpur sambil terbang untuk mengidentifikasi kelamahan, dapat menyerang pemangsa yang lebih besar seperti elang-laut dada-putih untuk mencuri makanan. Elang bondol memakan tangkapannya saat terbang untuk menghindari pencurian.


Haliastur Indus menangkap mangsa
Habitat terbaik untuk elang bondol adalah area tepi laut yang berlumpur seperti hutan mangrove, muara sungai, dan pesisir pantai. Burung ini juga dapat ditemukan di lahan basah seperti sawah dan rawa. Dengan habitat dekat perairan, elang bondol adalah pemangsa ikan yang lihai. Ia bisa memakan aneka jenis ikan, baik ikan tawar maupun laut dengan cara menangkapnya dari atas permukaan air. Elang bondol merupakan burung yang dilindungi, sama seperti burung pemangsa lainnya. "Mungkin Elang Bondol belum masuk rentan punah. Tetapi populasi (hewan) pemangsa pada umumnya tidak banyak. Seperti kebanyakan hewan dilindungi lainnya yang terancam punah, ancaman populasi elang bondol juga disebabkan manusia. Terlebih karena perburuan ilegal, pencemaran lingkungan dan menyempitnya habitat asli.

Elang Bondol dilindungi oleh pemerintah melalui Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi. Berdasarkan IUCN 2014 CITIES dan Apendiks II, Elang Bondol terhitung sebagai hewan berisiko rendah. Burung ini sering diburu untuk dijual, sehingga terancam punah.

Elang Bondol (Haliastur Indus)


Berkembang biak pada bulan Januari-Agustus, dan Mei-Juli. Dierami selama 28-35 hari. Anakan mulai belajar terbang dan meninggalkan sarang umur 40-56 hari, menjadi dewasa mandiri setelah 2 bulan kemudian. Dalam satu kali bertelur, Elang Bondol menghasilkan 1 - 4 butir telur yang dieraminya selama 28 - 35 hari. Ciri telur Elang Bondol adalah putih, dengan sedikit bintik merah.

Populasi jenis ini bertumbuh secara lambat, karena jumlah telur yang dihasilkan sedikit dan tidak semua dapat bertahan hidup dengan alasan pecah akibat jatuh dari pohon. Selain itu, Elang Bondol di Pulau Kotok dominan pejantan, sehingga perkembangbiakan lambat.
Jumlah burung betina sedikit, karena banyak yang mati akibat stres. Mereka lebih banyak dikerangkeng oleh pemburu.

Pada tahun 1989, elang bondol dan salak condet dijadikan sebagai maskot kota Jakarta. Penetapan si Elang Bondol menjadi maskot kota Jakarta, bermula dari Keputusan Gubernur No. 1796 Tahun 1989. Gubernur Ali Sadikin menetapkan elang berwarna coklat dan berkepala putih dengan posisi bertengger pada sebuah ranting sambil mencengkeram salak Condet sebagai maskot Jakarta.
Adapun filosofi dipilihnya elang bondol karena burung tersebut salah satu jenis burung yang dapat hidup lama, bahkan hingga 70 tahun. Selain itu, elang bondol termasuk dalam jenis unggas yang tangguh dan pantang menyerah pada keadaan. Sehingga diharapkan Jakarta dapat menjadi kota yang tangguh dan tetap mempertahankan eksistensinya.


Elang Bondol menggenggam Salak Condet
Hal itu bisa dilihat di kawasan Cempaka Putih. Di sana terdapat sebuah patung tegak berdiri, yakni patung "burung bondol membawa salak condet". Disadari atau tidak, kita yang sering naik atau melihat Bus TransJakarta pasti  tidak asing lagi dengan Elang bondol menggenggam Salak Condet karena ada di setiap body bus keluaran lama.
Habitat Elang Bondol di Jakarta berada di Kepulauan Seribu.

Di India, dianggap sebagai representasi kontemporer Garuda, burung suci Wisnu. Di Malaysia, Pulau Langkawi setelah burung ('kawi' menunjukkan sebuah batu seperti-oker used yang digunakan untuk menghias tembikar, dan mengarah pada warna bulu primer burung).

Sebuah fabel dari tengah Pulau Bougainville menceritakan seorang ibu yang meninggalkan anaknya di bawah pohon pisang sambil berkebun, dan si bayi melayang ke langit sambil menangis dan berubah menjadi Kaa'nang, yaitu elang bondol, Dan kalungnya berubah menjadi bulu burung.


Klasifikasi ilmiah
Kingdom:Animalia
Filum:Chordata
Kelas:Aves
Ordo:Accipitriformes
Famili:Accipitridae
Genus:Haliastur
Spesies:H. indus
Nama binomial
Haliastur indus



Wednesday, May 15, 2019

Mengenal Surili, Hewan Endemik Jawa Barat Yang Terancam Punah

Penduduk Jawa Barat pasti tidak asing dan sering mendengar hewan yang bernama "SURILI" ? Sering mendengar tetapi belum tentu pernah melihat fisiknya apalagi di alam bebas.
Surili pernah menjadi maskot perhelatan Pekan Olah Raga Nasional pada tahun 2016 di Jawa Barat.
Surili (Presbytis comata) adalah spesies primata endemik dari Jawa Barat.
Sebenarnya ada sembilan jenis Surili (Presbytis) di Indonesia, yang hidup di pulau Sumatra, Jawa, dan Kalimantan, tetapi yang paling dikenal adalah surili Jawa (Presbytis comata).

Presbytis comata
Surili Jawa dalam bahasa Inggris dinamai dengan beberapa nama seperti Javan Surili, Grizzled Leaf Monkey, Java Leaf Monkey, dan Javan Grizzled Langur, adapun dalam penamaan lokal mereka dikenal dengan nama Lutung Surili Jawa.
Satwa ini masuk dalam daftar merah International Union For Conservation Of Nature (IUCN) dan Apendix II CITIES sebagai satwa terancam punah karena populasinya diperkirakan berjumlah kurang dari 2.500 individu dewasa pada tahun 2008.

Surili Jawa, Wikipedia
Pemerintah melalui Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Memasukan Satwa dari keluarga Cercopithecidae genus Presbytis ini ke dalam daftar satwa dilindungi yang tertuang dalam Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.92/MENLHK/SETJEN/KUM.1/8/2018 Tentang Perubahan Atas Menteri Lingkungan Hidup Dan Kehutanan Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 Tentang Jenis Tumbuhan Dan Satwa Yang Dilindungi.
Perburuan liar dan kerusakan hutan akibat ulah manusia disinyalir menjadi faktor utama spesies ini semakin terancam keberadaanya di alam. Dulu, Surili Jawa hidup menyebar di seluruh Pulau Jawa. Namun, seiring berjalannya waktu, populasinya menyusut drastis. Alih fungsi hutan menjadi lahan pertanian dan pemukiman menjadi sebab utama.
Keberadaan Satwa Surili saat ini hanya terpantau di kawasan kawasan Suaka dan Cagar Alam. Mudah-mudahan masih ada kawanan surili di hutan hutan sekitar kita yang luput dari sasaran para pemburu yang tidak bertanggungjawab.

Maraknya kawasan wisata Alam yang berdampingan dengan hutan hutan tradisional dan Kawasan suaka serta Cagar Alam saat ini, semakin mengganggu Habitat surili akibat ramainya aktivitas manusia. Dikhawatirkan aktivitas manusia tersebut dapat berdampak terhadap kelangsungan hidup populasi surili. Karena Surili merupakan spesies yang pemalu dan paling waspada di lingkungannya, mereka sangat sensitif terhadap kehadiran predator dan manusia, bila dibandingkan dengan Lutung Jawa (Trachypithecus auratus) dan Owa Jawa (Hylobates moloch).

Surili, Foto Dok TNGC
Data Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) yang memiliki kekayaan keanekaragaman fauna salah satunya dari jenis primata. Primata di TNGC yang memiliki ciri fisik khas adalah Surili (Presbytis comata). Pendugaan populasi hasil monitoring Balai TNGC pada 2012 hingga 2017 terdapat 29 kelompok dari 177 individu. Lokasi penemuan Surili di TNGC memiliki ketinggian yang bervariasi mulai 730 meter diatas permukaan air laut (mdpl) hingga 2.015 mdpl. Surili di kawasan TNGC pada umumnya menempati tiga tipe ekosistem sebagai habitatnya, yakni hutan dataran rendah, hutan sub pegunungan, dan hutan pegunungan. Namun monitoring terakhir tahun 2017 menjumpai Surili berada pada ekosistem sub alpin diketinggian >2.400 mdpl.

Pada tahun 2016, bersamaan dengan pelaksanaan Pekan Olah Raga Nasional di Jawa Barat, telah di lepasliarkan sepasang Surili, Lili dan Lala oleh Pemerintah Propinsi Jawa Barat melalui Balai Besar Konservasi Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Propinsi Jawa Barat di Kawasan Cagar Alam Patengan. Melengkapi keberadaan enam kelompok Surili yang telah ada sebelumya.
Surili hidup berkelompok dengan jumlah anggota antara 5 sampai 10 ekor. Setiap kelompok biasanya terdiri atas satu jantan dengan satu atau lebih betina.  Dengan demikian, ia menjadi pejantan dan mengawini seluruh betina yang ada di kelompoknya.

Maskot PON Jabar 2016
Surili jawa termasuk ke dalam keluarga Cercopithecidae genus Presbytis. Surili jawa memiliki ukuran tubuh sedang sampai besar. Ciri-ciri khas monyet ini yang membedakan dengan primata lainnya adalah warna bulu abu-abu diseluruh bagian tubuh, namun berwarna putih di bagian dada. Rambut yang menutupi tubuh cukup panjang dan tebal, rambut di kepala memiliki jambul berujung runcing, alis meremang kaku mengarah ke depan.

Secara morfologi, Surili berukuran kecil dan mempunyai ekor yang panjang. Perubahan warna terjadi mulai dari anak yang baru lahir menuju dewasa. Warna tubuh surili dewasa yaitu hitam atau coklat dan keabuan, mulai dari kepala sampai bagian punggung. Sedangkan untuk warna rambut jambul dan kepala berwarna hitam. Kemudian bagian rambut yang tumbuh di bawah dagu, dada dan perut (ventral), lanjut ke bagian datum lengan dan kaki dan ekor, keseluruhan berwarna putih.
Warna kulit muka surili dan telinganya berwarna hitam pekat agak kemerahan. Surili memiliki iris mata coklat gelap dan rambut alis yang tumbuh mengarah ke depan.

Presbytis comata
Untuk anak Surili yang baru lahir akan berwarna putih dan memiliki garis hitam mulai dari kepala hingga bagian ekor.
Berat tubuh Surili rata-rata berbobot 6.5 kg, dengan panjang tubuh betina dan jantan hampir sama yaitu berkisaran 430-600 mm dan memiliki panjang ekor 560-720 mm. Surili termasuk binatang diurnal yaitu aktif pada siang hari. Sebagian besar aktifitasnya, termasuk tidur, dilakukan di atas dan tergantung dengan adanya pohon (arboreal).

Surili hidup di kawasan hutan hujan tropis primer maupun sekunder mulai dari hutan pantai (ketinggian 0 meter) sampai hutan pegunungan (ketinggian sampai 2000 meter diatas permukaan laut). Seringkali juga surili dijumpai di perbatasan antara hutan dengan kebun penduduk.
Surili biasa dijumpai di kawasan hutan Jawa Barat dan ditemukan pada ketinggian rata-rata 25 meter di kanopi hutan bagian atas. Hutan dengan beragam pohon rindang cocok sebagai habitat Surili. Sebagai hewan arboreal, Surili akan menjelajah dari pohon yang satu ke pohon yang lainnya. Dalam sepekan, ia bisa menjelajah beberapa pohon di areal hutan, pekan berikutnya ia akan kembali ke pohon pertama yang ia jelajahi.

Jika pohon di suatu kawasan tidak membuatnya nyaman, Surili akan mencari tempat baru. Di saat pencarian area baru inilah tidak jarang surili harus menempuh perjalanan darat. Sedangkan kondisi hutan tidak selamanya saling terkoneksi. Hutan bisa terpotong karena adanya penebangan, perkebunan, lahan perumahan warga, dan lainnya. Semua itu membuat kawasan hutan tempat surili makin mengecil. Maka untuk mempertahankan hidup, terlebih jika populasinya meningkat dimana luasan hutan dan ketersediaan sudah tidak memadai, menuntut kelompok surili harus berpisah dan mencari kawasan baru.

Surili adalah fauna herbivora yang menyukai daun muda, kuncup bunga, buah-buahan dan biji-bijian, serta sesekali memakan serangga, jamur dan tanah. Komposisi makanannya 70 persen daun, sisanya makan biji dan buah. Surili adalah salah satu penyebar biji terbaik di hutan. Jadi yang menumbuhkan pohon-pohon baru salah satunya adalah Surili.
Sesekali Surili Jawa turun ke tanah untuk memakan tanah guna membantu proses pencernaannya.


Wednesday, May 8, 2019

Kekayaan Flora Dan Fauna Gunung Guntur Papandayan, 10 Individu Macan Tutul Jawa Terekam Kamera Pengawas

Foto : Dokumen CI Indonesia
Jakarta, 30 April 2019 – Survei Macan Tutul Jawa yang dilaksanakan oleh Conservation International (CI) Indonesia, Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan Chevron di Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi (KPHK) Guntur Papandayan, Jawa Barat berhasil mendeteksi 10 individu dari satwa yang terancam punah itu. Monitoring yang dilaksanakan oleh CI Indonesia selama periode 2016 sampai akhir 2018 memastikan bahwa seluruh individu Macan tutul jawa (Panthera pardus melas) itu terekam oleh kamera perangkap (camera trap) yang terpasang di 60 lokasi pada areal seluas 120 kilometer persegi.

Berdasarkan informasi yang dianalisis dari kamera, keberadaan Macan tutul jawa terdeteksi pada ketinggian antara 1.114-2.635 m dpl. Hal ini terjadi karena sebagian besar kawasan KPHK Guntur Papandayan termasuk ekosistem hutan hujan pegunungan dataran tinggi. Hasil pemotretan juga menunjukkan Macan tutul jawa terdeteksi aktif sepanjang hari, baik pagi-siang-hingga malam hari. Waktu terfoto tertinggi antara jam 6-8 pagi (15%) dan terendah pada jam 10-12  (3,3%).


Foto : Dokumen CI Indonesia
Senior Manager Terrestrial Program CI Indonesia Anton Ario mengungkapkan bahwa pihaknya dan BBKSDA membutuhkan waktu melakukan identifikasi yang benar untuk mengetahui jumlah individu macan tutul di Guntur Papandayan, sehingga publikasi baru dapat dilakukan bulan April. “Setiap individu Macan tutul jawa dapat dibedakan satu sama lain berdasarkan ukuran tubuh, jenis kelamin dan pola totol di tubuh masing-masing individu,” kata Anton. Berdasarkan hasil identifikasi itu, terdeteksi 10 individu yang terdiri dari 3 individu jantan dewasa, dan 7 individu betina dewasa. Perangkap kamera menghasilkan jumlah total foto satwa sebanyak 1.214 foto, diantaranya macan tutul jawa sebanyak 83 foto. Selama periode pemasangan camera trap di KPHK Guntur Papandayan, diperoleh 26 jenis satwa, 21 diantaranya jenis mamalia, dan 5 jenis burung.

Menurut Anton hasil perangkap kamera menggambarkan bahwa KPHK Guntur Papandayan masih merupakan habitat macan tutul jawa yang cukup baik, walaupun kawasan itu mendapatkan tekanan dari perambahan hutan dan laju pertambahan penduduk di sekitarnya. Gunung Guntur dan Papandayan adalah bagian dari salah satu lanskap penting bagi kawasan prioritas konservasi di Jawa Barat yang berisi keanekaragaman flora dan rumah bagi beberapa spesies satwa unik dan terancam punah seperti Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili (Presbytis comata), Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas) dan Jawa Kukang (Nycticebus javanicus).


Sebagai pelengkap gambaran lokasi survei, KPHK Guntur Papandayan terletak pada dua wilayah kabupaten yaitu Kabupaten Bandung dan Garut. KPHK merupakan wilayah pengelolaan hutan yang seluruh atau sebagian besar wilayahnya terdiri dari hutan konservasi yang dikelola secara efisien untuk menunjang sistem penyangga kehidupan, mengawetkan keanekaragaman hayati dan memanfaatkannya secara lestari.  Penetapan KPHK Guntur Papandayan berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan RI No: SK.984/Menhut-II/2013, tentang penetapan wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Konservasi Guntur Papandayan, yang terletak di Kabupaten Bandung dan Kabupaten Garut, Jawa Barat seluas ± 15.318 hektar.

Foto : Dokumen CI Indonesia
KPHK Guntur Papandayan memiliki topografi bergelombang, berbukit dan bergunung serta tebing yang terjal, yang meliputi dua gunung api aktif yaitu Gunung Guntur (±2.250 m dpl) dan Gunung Papandayan (±2.665 mdpl).  Curah hujan berkisar antara rata-rata 2.500 – 3,000 mm/tahun. Jenis-jenis flora yang terdapat di dalam kawasan diantaranya Jamuju (Podocarpus imbricatus), Puspa (Schima walichii), Saninten (Castanopsis argentea), Pasang (Quercus ptatycorpa), Kihujan (Engelhardia spicata), Manglid (Magnolia sp,), Cantigi (Vaccinium sp.), Suagi (Vaccinium varingifolium), Edelweis (Anaphalis javanica).


Jenis-jenis fauna yang telah teridentifikasi antara lain Babi hutan (Sus scrofa), Kijang (Muntiacus muntjak), Kancil (Tragulus javanicus),  Macan Tutul Jawa (Panthera pardus melas), Ajag (Cuon alpinus), Musang luwak (Paradoxurus hermaproditus), Musang leher kuning (Martes flavigula),  Biul selentek (Melogale orientalis),  Linsang (Prionodon linsang) Trenggiling (Manis javanica), Surili (Presbytis comata), Lutung Jawa (Trachypithecus auratus), Elang Jawa (Nisaetus bartelsi), Elang-ular bido (Spilornis cheela bido), Elang hitam (Ictinaetus malayensis), Elang brontok (Spizaetus cirrhatus).

Thursday, January 10, 2019

Memperingati Hari Sejuta Pohon

Kenyataan sesungguhnya bahwa Pohon semakin hari semakin berkurang di sekitar kita. Kalau tidak percaya silahkan lihat sekeliling anda. Pohon pohon yang dulu rindang di pinggir jalan kampung kita hilang entah kemana. Bahkan pohon Nangka, pohon sawo yang dulu ada di belakang atau samping rumah kita pun tinggal kenangan, sudah tidak berbekas lagi.

Mungkin ada yang belum tahu tentang pentingnya Pohon untuk keberlangsungan hidup kita. Karena ternyata masih banyak orang orang yang tidak bertanggungjawab yang menebang pohon seenaknya, membakar dan menebangi hutan demi keuntungan pribadi.

Pohon merupakan faktor penting untuk keberlangsungan kehidupan di bumi ini. Betapa menakjubkan peran pohon dalam menurunkan pencemaran udara akibat Karbondioksida (CO2) yang berasal dari sisa pembakaran pabrik pabrik tidak ramah lingkungan yang masih menggunakan bahan bakar fosil, asap kendaraan, dan lain lain.

Pohon sebagai paru paru Bumi bisa menetralisir udara dari partikel partikel kotor dan juga menghasilkan Oksigen (O2) yang kita hirup setiap saat.
Saat bernafas tentu kita bisa merasakan bagaimana menghirup udara di daerah yang masih banyak pepohonan dengan di perkotaan yang sudah jarang sekali pohon.

Pohon juga memiliki peranan besar dalam menyediakan sumber air bagi kehidupan sekaligus mencegah terjadinya bencana alam. 60% - 80% air hujan yang turun di serap dan di simpan oleh pepohonan. Sehingga saat hujan turun air tidak langsung meluncur deras ke sungai yang bisa mengakibatkan longsor dan banjir serta bencana lainnya. Air hujan akan tertahan dan di simpan di akar akar pepohonan untuk cadangan musim kemarau yang akan datang.

Mari Jadikan Hari Sejuta Pohon ini sebagai momentum kita untuk terus menjaga Pohon dan Hutan agar tetap lestari.
Mulailah dari halaman rumah kita, dengan menanam tanaman kecil, tanaman hias, sayuran, obat obatan herbal agar rumah kelihatan lebih hijau dan asri.

Lestari Pohon ku..
Lestari Alam ku..
Lestari Bumi ku...

Sunday, January 6, 2019

Teknik Bertahan Hidup | Survival ; Bagaimana Mempelajari "Bushcraft"

Seperti yang sudah di bahas di artikel sebelumnya link bahwa Bushcraft adalah Seni menggunakan sumber daya yang disediakan oleh alam kita untuk bertahan hidup dan berkembang didalamnya. Bushcraft adalah seni menggabungkan ilmu tentang cara terbaik untuk memanfaatkan tanaman dan hewan yang kita harapkan dengan menggunakan peralatan sederhana dan terbatas maupun menggunakan peralatan khusus.
Karena Bushcraft adalah "Back To Nature" atau kembali ke Alam.
Mempelajari keterampilan Bushcraft memberikan banyak manfaat untu kita diantaranya,
  1. Mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, 
  2. Meningkatkan kepercayaan diri
  3. Meningkatkan kemampuan bertahan hidup dalam keterbatasan teknologi
  4. Siap menghadapi masalah dan kejadian yang tidak terduga
Bushcraft adalah inti dari Survival, karena Survival lebih luas ruang lingkupnya. Menjalankan keterampilan Bushcraft membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama yang tidak mungkin kita jalankan pada fase pertama kita mengalami kondisi survival atau dalam keadaan darurat.
Hal hal yang perlu kita pelajari dalam Bushcraft adalah sebagai berikut :



A. Perlindungan atau Bivack

Perlindungan yang Anda persiapkan untuk mempertahankan diri harus dilakukan, karena sangat dibutuhkan untuk melindungi diri terhadap faktor :
1.     cuaca (panas, dingin, hujan, sinar matahari)
2.     medan (lembah, rawa, tebing, sungai, dll)
3.     binatang (serangga, reptil, pemangsa, dll)
4.     tumbuhan dan air (yang membahayakan dan beracun)
5.     penyakit/cedera guna mencegah semakin memburuk yang berasal dari dalam tubuh sendiri

  Selain itu ada beberapa hal yang harus Anda ketahui dalam membuat perlindungan :
  Beberapa prinsip yang harus diketahui untuk membuat perlindungan, yaitu :
1.       cukup waktu, gunakan waktu yang cukup sebelum kemalaman.
2.       memprediksi kondisi cuaca (mendung, hujan, dll).
3.       material / bahan-bahannya cukup sesuai yang ada dan diinginkan, tidak bocor.
4.       kapasitas dan tingginya cukup untuk kenyamanan.
 
Bivack Alam
  Memilih tempat, hal-hal yang harus diperhatikan :
1.       arah angin
2.       datar tidak berkontur (cukup datar), penampang tanah miring, tidak daerah aliran air
3.       habitat binatang terutama serangga dan reptil
4.       daerah tumbuhan (pohon tua / kering mudah tumbang)

  Jenis perlindungan :

1. Artifisial yaitu perlindungan yang ada dan dibuat dari bahan-bahan yang ada dari sisa-sisa kecelakaan (reruntuhan / pecahan pesawat) atau perlengkapan yang ada pada kita, hal yang umum biasanya berupa jas hujan (ponco), parasut.
2. Alam yaitu perlindungan yang ada dan dibuat dari lingkungan alam sekitar lokasi kejadian. Perlindungan ini ada yang sudah ada (seperti gua, cekungan di bawah tebing), dan yang harus dibuat dari tumbuhan (batang, ranting dan daun)

B. A i r

Merupakan prioritas dalam kondisi survival, mengingat kebutuhan manusia akan air, kurang lebih 3 sampai dengan 5 liter, selain untuk dikonsumsi air juga digunakan untuk menjaga kebersihan tubuh. Dengan demikian anda harus dapat menemukan air, berhemat dalam penggunaannya, selalu menyimpan cadangan air dengan benar.

Sumber air :
Pada umumnya sumber air di hutan tropis dapat dijumpai di lembah, di sana bisa dipastikan terdapat sungai. Makin landai lembah tersebut biasanya makin kecil sungai dan makin ke hilir makin dapat dipastikan ada sungai.

Selain sungai di lembah, di hutan tropis juga terdapat daerah resapan air, kubangan, hal ini terjadi karena struktur topografi (tanah) yang membentuk terjadinya hal itu. Tumbuhan khas hutan tropis selalu memiliki kandungan simpanan air yang dapat dipergunakan dan layak diminum oleh manusia. Untuk mendapatkan sumber-sumber air, kita dapat mempelajarinya dari jejak binatang menyusui, karena selalu secara insting mencari sumber air yang cukup. Dengan demikian arah tujuan jejak binatang adalah ciri adanya air.

Selain itu apabila kita mengamati dengan seksama setiap ada sarang lebah atau tawon dapat dipastikan pada radius kurang lebih 100 meter terdapat sumber air. Setiap ada pohon pisang selalu ada sumber air.
Yang perlu menjadi perhatian bagi mencari air adalah persiapan sebelum berangkat menuju lokasi yang diperkirakan sumber air, dan harus memperkirakan waktu tempuh, jarak pergi dan kembali. Karena sangat tidak menguntungkan apabila Anda kemalaman di lembah.

1.       Jenis air yang bisa di minum :
a.  Tumbuhan yang beruas-ruas (bamboo, rotan), merambat (lumut) dan tumbuhan khusus (kantung semar, pisang, akar gantung)
b.      embun di daun lebar
c.       kondensasi (proses pengembunan dari tanaman/daun)
d.      air hujan (tampungan air)
e.      sungai
      ciri : – bisa diminum langsung syaratnya tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.



2.       Mengolah air yang tidak bisa diminum langsung karena bau, berwarna, berlumpur, berasa (asam tinggi)
a.       menyaring dengan kain, arang kayu dan kerikil secara perlahan
b.      memasak sampai steril

C. A p i

Mempunyai banyak manfaat antara lain untuk masak, penerangan, penghangat, penyemangat, membuat tanda atau sinyal Api yang anda buat usahakan tetap menyala walaupun kecil semua ini untuk pertimbangan hemat bahan bakar, agar tahan lama (seterusnya), terlebih lagi yang harus dijaga dari kebakaran hutan.

Selain itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
1.       Prinsip membuat api unsurnya adalah panas, udara dan bahan bakar.

Tips membuat : kumpulkan dahulu bahan bakar, ranting kecil, dahan pohon, daun dan lumut kering. Lalu bentuklah susunan.

Saran : lumut kering dan daun sebagai pemicu pertama yang akan membakar ranting kecil, diharapkan dapat membakar dahan pohon. Apabila memungkinkan gunakan bahan bakar cair (avtur, oli) dari sisa tangki yang tidak meledak, fiber, karet, spon atau busa dari interior pesawat (helikopter) agar lebih memudahkan menyalakan api unggun, dan ingat perlu dihemat.

2.       Pemilihan lokasi
a.       jangan membuat api di daerah berhumus karena mudah terbakar, apabila memang terpaksa perlu digali sampai lapisan humus yang lembab dan basah. Jaga api tidak merambat ke humus kering yang lain.
b.      upayakan api tidak langsung tertempa angina (terlebih angin kencang)
c.       tidak terlalu jauh dari tempat perlindungan
d.      jangan membuat api di daerah aliran air (di waktu hujan), akan padam

3.       Pengamanan dan perawatan
a.       sebelum meninggalkan api unggun yakinkan api sudah padam betul.
b.      jauhkan bahan bakar dari api
c.       api yang terbaik digunakan hanya untuk memasak


D. Makanan

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk makanan terutama apabila tidak ada makanan sisa dari pesawat (helikopter) maka kita harus mencari dari lingkungan yang ada disekitarnya, bisa berupa tumbuhan dan binatang. Tak jarang akan mendapat kesukaran terutama binatang, bagaiama cara menangkapnya.

1.       Jenisnya :
a.  Tumbuhan (botanical)
Memiliki kandungan karbohidrat dan berguna untuk memperlancar pencernaan, dapat diperoleh dari : buah, batang, daun (pucuk), umbi, jamur. Jenis tumbuhan yang dapat dimakan di hutan tropis sangat beragam, namun yang harus menjadi perhatian adalah rasa yang sama sekali tidak umum bagi lidah manusia, dan juga ada beberapa tumbuhan yang beracun, kiranya dengan cara tidak hanya mengkonsumsi satu jenis. Sebagaimana pengalaman di hutan tropis dalam memilih buah-buahan, daun, tumbuhan yang dimakan oleh binatang menyusui dapat dipastikan tidak beracun, buah yang berbulu, bergetah putih susu, berwarna menyolok cenderung mengandung racun.
  Tumbuhan bermanfaat sebagai : Perlindungan, Makanan, Sumber air dan Obat-obatan.
b.    Hewan (zoologi)
Memiliki kandungan lemak dan protein yang berguna untuk meningkatkan metabolisme tubuh, dapat diperoleh dari : reptil, mamalia, unggas, ikan dan lainnya.
Masalah yang timbul adalah bagaimana cara memperolehnya, jangan sampai Anda lelah dan putus asa karena sulit memperolehnya. Disini Anda harus menjadi pemburu dengan cara membuat jebakan, memancing, menombak.
Untuk melakukan perburuan dibutuhkan :
1)      Keterampilan, untuk membuat alat berburu, jenis hewan dan lokasinya.
2)      Keuletan, untuk menghadapai kegagalan apabila tidak berhasil.
3)  Kesabaran, untuk menghindari dari keputusasaan dapat atau tidak, selain itu dibutuhkan dalam menunggu, mencek tiap alat berburu.
4)  Ketelitian diperlukan karena Anda harus mengamati jejak, tempat / lintasan binatang mencari sumber air. Selain itu dibutuhkan juga dalam proses perancangan dan pembuatan alat berburu (jebakan, kail, tombak).

2.       Memperoleh Makanan.
(lokasi, cara memilih, cara menagkap)
a.   Daerah lembah, biasanya tempat binatang seperti reptil, unggas, mamalia, daerah punggungan biasanya digunakan untuk lintasan binatang mamalia.
b.  Lokasi dipilih berdasarkan pertimbangan berikut ini : pertama adalah keselamatan Anda lalu jarak dan waktu tempuh dari lokasi perlindungan, tingkat kesulitan medan dilalui, kemungkinan ditemukannya binatang yang anda harapkan.
c.  Khususnya di sungai; ikan gemar berada di arus kecil karena jumlah oksigen lebih banyak dibanding arus tenang dan menggenang, belokan sungai adalah daerah yang sangat digemari terutama pada pertemuan arus dengan air tenang.
d.  Dalam memilih lokasi habitat unggas khususnya yang tidak bisa terbang, biasanya di daerah yang bersemak.
Tips : Pelajari waktu-waktu binatang keluar dari sarangnya untuk minum atau mencari makanan.

3.       Pengolahan.
(membersihkan, memasak dan mengawetkan)

Sebelum Anda memakan tumbuhan dan binatang, terlebih dahulu harus dibersihkan agar bagian yang tidak bisa dimakan dipisahkan dahulu (keras, kotor, bergetah dan sulit diolah).

Tumbuhan yang perlu dimasak / direbus terlebih dahulu :
a.  batang pakis, pucuk daun pakis
b.  umbi-umbian (paku tanah, ubi liar)
c.   jamur
d.  umbut muda batang (pisang, sagu)


Salah satu cara memasak nasi tanpa alat masak, berikut video nya :

4.       Cara mengawetkan hasil buruan :
a.  Di jemur (dikeringkan)
b.  Di asap
c.   Di asinkan

Keterangan :
simpanlah hasil buruan dengan baik, yaitu dengan cara digantung di dahan pohon yang tidak jauh dari tempat perlindungan agar tidak dapat di ambil oleh binatang (monyet, tupai, kus-kus, babi hutan) hindari semut. Penyimpanan yang terlalu lama akan menyebabkan pembusukan dan baunya mengundang binatang.

Tips : di hutan tropis, keanekaragaman tumbuhan yang dapat dimakan cukup tinggi namun jenisnya sedikit. Dalam kondisi suvival makanlah berbagai macam jenis tanaman, jangan terpaku pada satu jenis.

Sumber makanan di daerah rendah lebih banyak dibandingkan di daerah pegunungan (hutan). Untuk daearah pegunungan sebagai sumber bahan makanan prioritas utama adalah : Pertama di lembah, Kedua di lereng dan Ketiga di punggungan


Mengenal Praktis Hewan Dan Tumbuhan

Pengenalan terhadap jenis tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan dalam kondisi survival sangat perlu. Pembahasan hanya dibatasi untuk mengenal tumbuhan dan hewan di gunung, hutan, sungai serta disesuaikan dengan kondisi alam di Indonesia umumnya.. Berikut ini kita bahas satu persatu : Mengenal Praktis Hewan Dan Tumbuhan


Support by :

Popular Posts