Showing posts with label Bushcraft. Show all posts
Showing posts with label Bushcraft. Show all posts

Sunday, February 24, 2019

PENGETAHUAN DASAR MENDAKI GUNUNG | MANAGEMENT PERJALANAN & PERALATAN


Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota.

Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung-gunung populer dan “mudah” didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.

Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.
Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas (di bahas di materi Dasar Navigasi Darat) karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung, dan sebagainya.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain
Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.
Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.


Persiapan mendaki gunung

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan keterampilan.

Kesiapan mental.
Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

Kesiapan fisik.
Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

Kesiapan administrasi.
Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.

Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Perencanan pendakian.

Hal pertama yang ahrus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.

Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :

  • Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
  • Mempelajari medan yang akan ditempuh.
  • Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
  • Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
  • Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.


Perlengkapan dasar perjalanan

  • Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
  • Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
  • Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek, dll.
  • Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
  • Ransel / carrier.

Perlengkapan pembantu

  • Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
  • Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
  • Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
  • Jam tangan.


Packing atau menyusun perlengkapan kedalam Carrier / ransel.

  • Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
  • Masukkan dalam kantong plastik.
  • Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
  • Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
  • Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
  • Buat Checklist barang barang tersebut.



MANAGEMENT PERJALANAN & PERALATAN

Persiapan

Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How.

Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut:

Where (Dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan

Who (Siapa), apakah anda akan melakukan kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam- macam. When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan tersebut, berapa lama

Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :

  • Bagaimana kondisi lokasi
  • Bagaimana cuaca disana
  • Bagaimana perizinannya
  • Bagaimana mendapatkan air
  • Bagaimana pengaturan tugas panitia
  • Bagaimana acara akan berlangsung
  • Bagaimana materi yang disampaikan
  • dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan anda mengembangkannya lagi)

Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :

  • Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
  • Pengurusan perizinan
  • Pembagian tugas panitia
  • Persiapan kebutuhan acara
  • Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
  • dan lain sebagainya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Packing
Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.

Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :

Pada saat Backpack atau Carrier dipakai, beban terberat harus jatuh ke pundak. Mengapa beban harus jatuh kepundak ? Ini disebabkan dalam melakukan perjalanan (misalnya pendakian) kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban Backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.


Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak. Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.

Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :

  • Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.
  • Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
  • Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: senter, rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.
  • Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar Carrier, karena barang diluar Carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam Carrier.

Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.


Memilih dan Menempatkan Barang

Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa, contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier.

Matras ; Sebisa mungkin matras disimpan didalam carrier jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Matras bisa digunakan sebagai rangka Carrier sehingga bisa berdiri tegak proporsional dan mempunyai estetika bagus, sehingga enak di pandang mata. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, di samping, di atas atau di bawah Carrier, memang kelihatannya bagus, gagah. Tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.

Kantung Plastik dan Trash bag ; Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam carrier anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.

Menyimpan Pakaian ;

Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab. Ini hal yang wajib, apalagi di musim penghujan. Karena walaupun Carrier kita kedap air, tetap saja beresiko untuk menjadi basah atau lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih.

Menyimpan Makanan ;

Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.

Menyimpan Korek Api Batangan ;
Magnesium Flint Stone
Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.
Jadul kali yaa.. mungkin sekarang susah menemukan bekas tempat roll film, bahkan mungkin sudah tidak ada. Silahkan disiasati dengan benda lain, yang terpenting kedap air. Dari toples bekas Vitamin IPPI yang murah meriah mungkin bisa dimanfaatkan.
Sekarang mungkin bisa di ganti dengan korek gas atau magnesium flint stone sebagai pemantik api.

Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;

Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat carrier digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.

Perlengkapan Pribadi Alam Bebas

Outdoor activity atau kegiatan alam bebas merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat. Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat. Sebagai contoh, sebuah referensi pernah mencatat bahwa salah satu kegiatan alam bebas yaitu rock climbing [panjat tebing] merupakan jenis olahraga yang resiko kematiannya merupakan peringkat ke-2 setelah olahraga balap mobil formula-1.
Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman.

Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai.
Salah satu “perisai diri” ketika melakukan aktivitas alam bebas adalah perlengkapan diri pribadi. Berikut digambarkan beberapa perlengkapan pribadi standard.

Tutup kepala/topi

Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau dingin perlu penutup kepala. Dalam keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala yang baik adalah yang juga dapat melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini pilihan terbaik adalah topi rimba atau topi yang punya pelindung keliling. Topi ini juga melindungi bagian sekeliling kepala dari goresan ranting dan duri di medan yang rimbun. Topi pet atau topi softball tidak direkomendasikan.
Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah tinggi, maka penutup kepala yang baik adlah yang dapat memberikan rasa hangat. Pilihannya adalah balaklava atau biasa disebut kupluk.

Syal-slayer
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai identitas organisasi, tetapi sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna ketika dalam keadaan darurat, baik digunakan untuk perban darurat atau sebagai alat peraga darurat. Oleh karenanya disarankan menggunakan syal/slayer yang berwarna mecolok dan terbuat dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air namun cepat kering.

Baju
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas tanpa baju [bayangkan kalau tanpa ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang baik adalah dari bahan yang dapat menyerap keringat, tidak disarankan menggunakan baju dari bahan nilon karena panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju dengan bahan demikian biasanya adalah planel atau paling tidak kaos dari bahan katun.
Pilihan warna untuk aktivitas lapangan seperti halnya juga slayer/syal adalah yang mencolok agar bia terjadi keadaan darurat [misalnya hilang] dapat dengan mudah diidentifikasi dan dikenali.
Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah melupakan baju salin/ganti, hal ini karena aktivitas lapangan akan sangat banyak mengeluarkan energi yang membuat badan kita berkeringat. Bawalah baju salain 2 atau 3 buah.



Celana
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi syarat ringan, mudah kering dan dapat menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans sangat tidak direkomendasikan karena berat dan susah kering dan membuat lecet. Celana yang baik adalah kain dengan tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak merembet atau robek memanjang]. Bila aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan juga baik bila menggunakan bahan dari parasut tipis.
Selain celana panjang, jangan lupa bahwa under-wear juga penting. jangan lupa juga untuk menyediakan serep ganti. Jangan sampai nanti di gunung atau hutan, under wear anda di putar side A dan Side B tanpa pernah di ganti..
Hayoooo.. siapa yang pernah ngalamin kayak gitu..??? Hahahahahaaaa...

Jaket
Salah satu perlengkapan penting dalam alam bebas adalah jaket. Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan matahari atau hujan.
Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket yang panjang sampai ke pangkal paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan penutup kepala [kupluk]. Akan sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu angsa-biasanya digunakan untuk kegiatan pendakian gunung es].

Slepping bag
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas setelah aktivitas yang melelahkan seharian. Tempat istirahat yang ideal adah dengan menggunakan slepping bag [kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga biasanya terbuat dari dua sisi, yaitu yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan yang hangat dan tebal disisi lain. Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat istirahat.

Sepatu
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak kaki sampai mata kaki, kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi bersekat halus. Gunakan sepatu yang dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya [menggunakan ban atau tali. Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena akan menyebabkan pergesekan kaki dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan sepatu juga harus dibarengi dengan kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan kaos kaki serep bial suatu saat basah.

Carrier / Backpack

Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlampau kecil, artinya mapu menampung perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Sesuaikan dengan kebutuhan dan medan yang akan dilintasi. Sebaiknya jangan menggunakan carrier yang mempunyai banyak kantong dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini akan menghambat pergerakan. Gunakan carrier yang ramping walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus diperhatikan jahitan-jahitannya, karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk sandang akan berakibat sangat fatal. Sekarang sudah banyak Carrier yang nyaman dan aman, tinggal berani saja menyiapkan Rupiah nya, hehehehee..

Alat masak, makan dan mandi
Trangia, Alat Masak Gunung Ideal
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat masak, makan dan mandi. Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita sangat perlu untuk menghemat waktu dan bahan memasak. Gunakan alat dari alumunium karena cepat panas, untuk ini nesting menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia ringkas dan serba guna. Juga perlu dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll) dan pastikan bahan bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin, spirtus, parafin, dll.
Jangan lupa juga siapkan tumbler minum sebagai bekal perjalanan [saat ini banyak tersedia model dan jenis tumbler].
Tumbler
Perlengkapan mandi juga sangat penting karena tidak jarang perjalanan dilakukan berhari-hari dengan tubuh penuh keringat. Bawalah alat mandi seperti sabun yang berkemasan tube agar mudah disimpan dan tidak perlu membuang sampah bungkusan disembarang tempat.

Obat-obatan dan Survival Kits

Mini Survival Kits
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting adalah obat-obatan, apalagi kalau pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu. Anda yang tahu dan anda yang wajib mengantisipasinya.
Disamping obat-obatan juga setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits.
Beberapa contoh survival kits adalah :
Mata pancing /kait Pisau / sangkur / vitrorinoc
Tali kecil
Senter
Cermin suryakanta, cermin kecil
Peluit
Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air [tube roll film]. mungkin sekarang bisa di ganti dengan pemantik api dari besi yaitu Magnesium Flint Stone.
Tablet garam,
Obat-obatan pribadi
Jarum + benang + peniti
Ponco / jas hujan / rain coat
Lain-lain



PENGETAHUAN DASAR MENDAKI GUNUNG | MANAGEMENT PERJALANAN & PERALATAN


Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota.

Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung-gunung populer dan “mudah” didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.


Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.
Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas (di bahas di materi Dasar Navigasi Darat) karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung, dan sebagainya.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain
Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.


Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.


Persiapan mendaki gunung

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan keterampilan.

Kesiapan mental.
Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

Kesiapan fisik.
Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

Kesiapan administrasi.
Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.

Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Perencanan pendakian.

Hal pertama yang ahrus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.

Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :


  • Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
  • Mempelajari medan yang akan ditempuh.
  • Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
  • Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
  • Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.


Perlengkapan dasar perjalanan

  • Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
  • Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
  • Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek, dll.
  • Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
  • Ransel / carrier.

Perlengkapan pembantu

  • Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
  • Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
  • Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
  • Jam tangan.


Packing atau menyusun perlengkapan kedalam Carrier / ransel.

  • Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
  • Masukkan dalam kantong plastik.
  • Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
  • Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
  • Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
  • Buat Checklist barang barang tersebut.



MANAGEMENT PERJALANAN & PERALATAN

Persiapan

Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H, yang kepanjangannya adalah WhereWhoWhyWhen dan How.

Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut:

Where (Dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan

Who (Siapa), apakah anda akan melakukan kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam- macam. When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan tersebut, berapa lama

Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :

  • Bagaimana kondisi lokasi
  • Bagaimana cuaca disana
  • Bagaimana perizinannya
  • Bagaimana mendapatkan air
  • Bagaimana pengaturan tugas panitia
  • Bagaimana acara akan berlangsung
  • Bagaimana materi yang disampaikan
  • dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan anda mengembangkannya lagi)

Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :

  • Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
  • Pengurusan perizinan
  • Pembagian tugas panitia
  • Persiapan kebutuhan acara
  • Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
  • dan lain sebagainya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Packing
Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.

Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :

Pada saat Backpack atau Carrier dipakai, beban terberat harus jatuh ke pundak. Mengapa beban harus jatuh kepundak ? Ini disebabkan dalam melakukan perjalanan (misalnya pendakian) kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban Backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.



Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak. Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.

Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :

  • Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.
  • Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
  • Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: senter, rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.
  • Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar Carrier, karena barang diluar Carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam Carrier.

Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.


                                                                                                  Halaman Selanjutnya >>>

Sunday, January 6, 2019

Teknik Bertahan Hidup | Survival ; Bagaimana Mempelajari "Bushcraft"

Seperti yang sudah di bahas di artikel sebelumnya link bahwa Bushcraft adalah Seni menggunakan sumber daya yang disediakan oleh alam kita untuk bertahan hidup dan berkembang didalamnya. Bushcraft adalah seni menggabungkan ilmu tentang cara terbaik untuk memanfaatkan tanaman dan hewan yang kita harapkan dengan menggunakan peralatan sederhana dan terbatas maupun menggunakan peralatan khusus.
Karena Bushcraft adalah "Back To Nature" atau kembali ke Alam.
Mempelajari keterampilan Bushcraft memberikan banyak manfaat untu kita diantaranya,
  1. Mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, 
  2. Meningkatkan kepercayaan diri
  3. Meningkatkan kemampuan bertahan hidup dalam keterbatasan teknologi
  4. Siap menghadapi masalah dan kejadian yang tidak terduga
Bushcraft adalah inti dari Survival, karena Survival lebih luas ruang lingkupnya. Menjalankan keterampilan Bushcraft membutuhkan waktu yang sedikit lebih lama yang tidak mungkin kita jalankan pada fase pertama kita mengalami kondisi survival atau dalam keadaan darurat.
Hal hal yang perlu kita pelajari dalam Bushcraft adalah sebagai berikut :



A. Perlindungan atau Bivack

Perlindungan yang Anda persiapkan untuk mempertahankan diri harus dilakukan, karena sangat dibutuhkan untuk melindungi diri terhadap faktor :
1.     cuaca (panas, dingin, hujan, sinar matahari)
2.     medan (lembah, rawa, tebing, sungai, dll)
3.     binatang (serangga, reptil, pemangsa, dll)
4.     tumbuhan dan air (yang membahayakan dan beracun)
5.     penyakit/cedera guna mencegah semakin memburuk yang berasal dari dalam tubuh sendiri

  Selain itu ada beberapa hal yang harus Anda ketahui dalam membuat perlindungan :
  Beberapa prinsip yang harus diketahui untuk membuat perlindungan, yaitu :
1.       cukup waktu, gunakan waktu yang cukup sebelum kemalaman.
2.       memprediksi kondisi cuaca (mendung, hujan, dll).
3.       material / bahan-bahannya cukup sesuai yang ada dan diinginkan, tidak bocor.
4.       kapasitas dan tingginya cukup untuk kenyamanan.
 
Bivack Alam
  Memilih tempat, hal-hal yang harus diperhatikan :
1.       arah angin
2.       datar tidak berkontur (cukup datar), penampang tanah miring, tidak daerah aliran air
3.       habitat binatang terutama serangga dan reptil
4.       daerah tumbuhan (pohon tua / kering mudah tumbang)

  Jenis perlindungan :

1. Artifisial yaitu perlindungan yang ada dan dibuat dari bahan-bahan yang ada dari sisa-sisa kecelakaan (reruntuhan / pecahan pesawat) atau perlengkapan yang ada pada kita, hal yang umum biasanya berupa jas hujan (ponco), parasut.
2. Alam yaitu perlindungan yang ada dan dibuat dari lingkungan alam sekitar lokasi kejadian. Perlindungan ini ada yang sudah ada (seperti gua, cekungan di bawah tebing), dan yang harus dibuat dari tumbuhan (batang, ranting dan daun)

B. A i r

Merupakan prioritas dalam kondisi survival, mengingat kebutuhan manusia akan air, kurang lebih 3 sampai dengan 5 liter, selain untuk dikonsumsi air juga digunakan untuk menjaga kebersihan tubuh. Dengan demikian anda harus dapat menemukan air, berhemat dalam penggunaannya, selalu menyimpan cadangan air dengan benar.

Sumber air :
Pada umumnya sumber air di hutan tropis dapat dijumpai di lembah, di sana bisa dipastikan terdapat sungai. Makin landai lembah tersebut biasanya makin kecil sungai dan makin ke hilir makin dapat dipastikan ada sungai.

Selain sungai di lembah, di hutan tropis juga terdapat daerah resapan air, kubangan, hal ini terjadi karena struktur topografi (tanah) yang membentuk terjadinya hal itu. Tumbuhan khas hutan tropis selalu memiliki kandungan simpanan air yang dapat dipergunakan dan layak diminum oleh manusia. Untuk mendapatkan sumber-sumber air, kita dapat mempelajarinya dari jejak binatang menyusui, karena selalu secara insting mencari sumber air yang cukup. Dengan demikian arah tujuan jejak binatang adalah ciri adanya air.

Selain itu apabila kita mengamati dengan seksama setiap ada sarang lebah atau tawon dapat dipastikan pada radius kurang lebih 100 meter terdapat sumber air. Setiap ada pohon pisang selalu ada sumber air.
Yang perlu menjadi perhatian bagi mencari air adalah persiapan sebelum berangkat menuju lokasi yang diperkirakan sumber air, dan harus memperkirakan waktu tempuh, jarak pergi dan kembali. Karena sangat tidak menguntungkan apabila Anda kemalaman di lembah.

1.       Jenis air yang bisa di minum :
a.  Tumbuhan yang beruas-ruas (bamboo, rotan), merambat (lumut) dan tumbuhan khusus (kantung semar, pisang, akar gantung)
b.      embun di daun lebar
c.       kondensasi (proses pengembunan dari tanaman/daun)
d.      air hujan (tampungan air)
e.      sungai
      ciri : – bisa diminum langsung syaratnya tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa.



2.       Mengolah air yang tidak bisa diminum langsung karena bau, berwarna, berlumpur, berasa (asam tinggi)
a.       menyaring dengan kain, arang kayu dan kerikil secara perlahan
b.      memasak sampai steril

C. A p i

Mempunyai banyak manfaat antara lain untuk masak, penerangan, penghangat, penyemangat, membuat tanda atau sinyal Api yang anda buat usahakan tetap menyala walaupun kecil semua ini untuk pertimbangan hemat bahan bakar, agar tahan lama (seterusnya), terlebih lagi yang harus dijaga dari kebakaran hutan.

Selain itu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu :
1.       Prinsip membuat api unsurnya adalah panas, udara dan bahan bakar.

Tips membuat : kumpulkan dahulu bahan bakar, ranting kecil, dahan pohon, daun dan lumut kering. Lalu bentuklah susunan.

Saran : lumut kering dan daun sebagai pemicu pertama yang akan membakar ranting kecil, diharapkan dapat membakar dahan pohon. Apabila memungkinkan gunakan bahan bakar cair (avtur, oli) dari sisa tangki yang tidak meledak, fiber, karet, spon atau busa dari interior pesawat (helikopter) agar lebih memudahkan menyalakan api unggun, dan ingat perlu dihemat.

2.       Pemilihan lokasi
a.       jangan membuat api di daerah berhumus karena mudah terbakar, apabila memang terpaksa perlu digali sampai lapisan humus yang lembab dan basah. Jaga api tidak merambat ke humus kering yang lain.
b.      upayakan api tidak langsung tertempa angina (terlebih angin kencang)
c.       tidak terlalu jauh dari tempat perlindungan
d.      jangan membuat api di daerah aliran air (di waktu hujan), akan padam

3.       Pengamanan dan perawatan
a.       sebelum meninggalkan api unggun yakinkan api sudah padam betul.
b.      jauhkan bahan bakar dari api
c.       api yang terbaik digunakan hanya untuk memasak


D. Makanan

Hal-hal yang perlu diperhatikan untuk makanan terutama apabila tidak ada makanan sisa dari pesawat (helikopter) maka kita harus mencari dari lingkungan yang ada disekitarnya, bisa berupa tumbuhan dan binatang. Tak jarang akan mendapat kesukaran terutama binatang, bagaiama cara menangkapnya.

1.       Jenisnya :
a.  Tumbuhan (botanical)
Memiliki kandungan karbohidrat dan berguna untuk memperlancar pencernaan, dapat diperoleh dari : buah, batang, daun (pucuk), umbi, jamur. Jenis tumbuhan yang dapat dimakan di hutan tropis sangat beragam, namun yang harus menjadi perhatian adalah rasa yang sama sekali tidak umum bagi lidah manusia, dan juga ada beberapa tumbuhan yang beracun, kiranya dengan cara tidak hanya mengkonsumsi satu jenis. Sebagaimana pengalaman di hutan tropis dalam memilih buah-buahan, daun, tumbuhan yang dimakan oleh binatang menyusui dapat dipastikan tidak beracun, buah yang berbulu, bergetah putih susu, berwarna menyolok cenderung mengandung racun.
  Tumbuhan bermanfaat sebagai : Perlindungan, Makanan, Sumber air dan Obat-obatan.
b.    Hewan (zoologi)
Memiliki kandungan lemak dan protein yang berguna untuk meningkatkan metabolisme tubuh, dapat diperoleh dari : reptil, mamalia, unggas, ikan dan lainnya.
Masalah yang timbul adalah bagaimana cara memperolehnya, jangan sampai Anda lelah dan putus asa karena sulit memperolehnya. Disini Anda harus menjadi pemburu dengan cara membuat jebakan, memancing, menombak.
Untuk melakukan perburuan dibutuhkan :
1)      Keterampilan, untuk membuat alat berburu, jenis hewan dan lokasinya.
2)      Keuletan, untuk menghadapai kegagalan apabila tidak berhasil.
3)  Kesabaran, untuk menghindari dari keputusasaan dapat atau tidak, selain itu dibutuhkan dalam menunggu, mencek tiap alat berburu.
4)  Ketelitian diperlukan karena Anda harus mengamati jejak, tempat / lintasan binatang mencari sumber air. Selain itu dibutuhkan juga dalam proses perancangan dan pembuatan alat berburu (jebakan, kail, tombak).

2.       Memperoleh Makanan.
(lokasi, cara memilih, cara menagkap)
a.   Daerah lembah, biasanya tempat binatang seperti reptil, unggas, mamalia, daerah punggungan biasanya digunakan untuk lintasan binatang mamalia.
b.  Lokasi dipilih berdasarkan pertimbangan berikut ini : pertama adalah keselamatan Anda lalu jarak dan waktu tempuh dari lokasi perlindungan, tingkat kesulitan medan dilalui, kemungkinan ditemukannya binatang yang anda harapkan.
c.  Khususnya di sungai; ikan gemar berada di arus kecil karena jumlah oksigen lebih banyak dibanding arus tenang dan menggenang, belokan sungai adalah daerah yang sangat digemari terutama pada pertemuan arus dengan air tenang.
d.  Dalam memilih lokasi habitat unggas khususnya yang tidak bisa terbang, biasanya di daerah yang bersemak.
Tips : Pelajari waktu-waktu binatang keluar dari sarangnya untuk minum atau mencari makanan.

3.       Pengolahan.
(membersihkan, memasak dan mengawetkan)

Sebelum Anda memakan tumbuhan dan binatang, terlebih dahulu harus dibersihkan agar bagian yang tidak bisa dimakan dipisahkan dahulu (keras, kotor, bergetah dan sulit diolah).

Tumbuhan yang perlu dimasak / direbus terlebih dahulu :
a.  batang pakis, pucuk daun pakis
b.  umbi-umbian (paku tanah, ubi liar)
c.   jamur
d.  umbut muda batang (pisang, sagu)


Salah satu cara memasak nasi tanpa alat masak, berikut video nya :

4.       Cara mengawetkan hasil buruan :
a.  Di jemur (dikeringkan)
b.  Di asap
c.   Di asinkan

Keterangan :
simpanlah hasil buruan dengan baik, yaitu dengan cara digantung di dahan pohon yang tidak jauh dari tempat perlindungan agar tidak dapat di ambil oleh binatang (monyet, tupai, kus-kus, babi hutan) hindari semut. Penyimpanan yang terlalu lama akan menyebabkan pembusukan dan baunya mengundang binatang.

Tips : di hutan tropis, keanekaragaman tumbuhan yang dapat dimakan cukup tinggi namun jenisnya sedikit. Dalam kondisi suvival makanlah berbagai macam jenis tanaman, jangan terpaku pada satu jenis.

Sumber makanan di daerah rendah lebih banyak dibandingkan di daerah pegunungan (hutan). Untuk daearah pegunungan sebagai sumber bahan makanan prioritas utama adalah : Pertama di lembah, Kedua di lereng dan Ketiga di punggungan


Mengenal Praktis Hewan Dan Tumbuhan

Pengenalan terhadap jenis tumbuhan dan hewan yang dapat dimanfaatkan dalam kondisi survival sangat perlu. Pembahasan hanya dibatasi untuk mengenal tumbuhan dan hewan di gunung, hutan, sungai serta disesuaikan dengan kondisi alam di Indonesia umumnya.. Berikut ini kita bahas satu persatu : Mengenal Praktis Hewan Dan Tumbuhan


Hutan Kita Terancam Sunyi Akibat Maraknya Perburuan Burung..


Melihat maraknya perburuan burung akhir akhir ini, mungkin tidak lama lagi lingkungan hutan kita akan terkena fenomena Hutan Sunyi atau lebih dikenal dengan "Silent Forest" .
Tanda tanda tersebut sudah terlihat dari kondisi hutan saat ini terutama kawasan hutan yang baru baru ini penulis kunjungi.

Kawasan hutan Gunung Cakra Buana merupakan kawasan perbukitan khas hutan hujan Jawa Barat dengan kondisi hutan masih bagus karena masih adanya moratorium penebangan hutan. Dengan puncak tertinggi 1721 mdpl, 3 tahun lalu kawasan ini masih ramai dengan suara kicau dan kepakan sayap burung burung liar.




Namun sekarang, hampir 4 hari 3 malam berada di kawasan ini sampai jauh ke dalam hutan jarang sekali melihat burung berlompatan dari dahan ke dahan, bahkan mendengar suaranyanya pun hanya pagi pagi jam 6, itu pun dari kejauhan.

Di perkampungan sempat berbicara dengan penduduk setempat tentang fenomena ini. dan mereka pun mengakui bahwa memang saat ini sudah jarang sekali burung bisa ditemui di kawasan ini, apalagi di perkampungan.
Menurutnya, orang yang berburu burung bukan penduduk kampung sekitar hutan, mereka datang dari jauh dari kota kota kabupaten yang ada di sekitar kawasan hutan.
Gawatnya lagi, perburuan bukan hanya menggunakan senapan angin bahkan banyak yang mempergunakan jaring untuk menangkap burung burung tersebut.

Permburu tidak pernah melihat umur atau jenis kelamin, mereka asal tembak asal jaring saja. Tidak mau tahu burung tersebut lagi bertelur, mengerami atau bahkan sedang mencari makan untuk anak anaknya. kalu begini terus lama kelamaan burung burung di kawasan kita akan punah karena perbuatan merusak mereka.

Sekarang Burung burung berpindah ke kota kota, perkampungan perkampungan dan dipaksa tinggal di dalam sangkar. Padahal seharusnya burung itu hidup di alam liar, biarkan mereka menjalankan tugas ekologis mereka. melakukan penyerbukan dan menebar benih benih kehidupan, biji bijian dari sisa makanan mereka. Biarkan mereka menyeimbangkan ekosistem, dengan ikut mengurangi serangga serangga pengganggu tanaman para petani.




Larangan untuk berburu Jenis burung tertentu mungkin belum dikeluarkan Pemerintah Pusat dikarenakan di daerah lain di Indonesia jenis burung tersebut masih banyak keberadaannya. Namun dengan melihat lingkungan hutan sekitar kita hampir menjadi Hutan Sunyi (silent forest) maka alangkah lebih baiknya kalau kita segera meminta dan mendorong tokoh tokoh kampung untuk segera mengeluarkan peraturan kampung tentang larangan berburu di hutan atau lingkungan sekitar kita. Atau dengan Peraturan Desa yang dikeluarkan oleh Pemerintahan Desa setempat.

Mari Tanamkan bersama sama pentingnya memahami menjaga keseimbangan alam demi anak cucu kita. Jangan biarkan Anak Cucu kita tidak pernah mendengar kicau Burung Di alam liar, habitat alaminya.
Karena kehadiran burung merupakan indikator alami yang menunjukan bahwa lingkungan tersebut masih asri.

Tonton Video Perjalanannya :



Support by :

Popular Posts