Showing posts with label Pendakian. Show all posts
Showing posts with label Pendakian. Show all posts

Friday, August 16, 2019

Begini Kondisi Gunung Ciremai Seminggu Sebelum Kebakaran

Pendakian #TNGC #Ciremai via Jalur Apuy Seminggu sebelum kebakaran terjadi.
Kondisi Medan sangat kering dan sangat berdebu, apalagi di tambah angin yang demikian kencang mulai Pos 5 sampai dengan puncak. 


Tonton Video nya :




Puncak adalah Tujuan, tetapi jangan lupa tetap nikmati Prosesnya.

Saturday, July 6, 2019

Jenazah Thoriq, Survivor Gn. Piramid Bondowoso ditemukan terjepit pohon di bawah jurang

Proses evakuasi jenazah diduga siswa SMPN 4 Bondowoso bernama Thoriq Rizky Maulidan oleh tim SAR gabungan di sekitar Gunung Piramid, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, Sabtu, 6 Juli 2019, rampung.
Jenazah sudah berada di rumah sakit untuk proses identifikasi.

Thoriq Rizky Maulidan
Foto : Instagram

"Alhamdulillah proses evakuasi sudah selesai. Korban sudah berhasil dievakuasi dari lokasi penemuan, dan tim sudah sampai di Posko 1, posko bawah sendiri, sekitar pukul 16.00 (6 Juli 2019). Jenazah langsung dibawa ke RS dr Kusnadi," kata Komandan Tim Operasi Basarnas Jember, Rudy Prahara, dikonfirmasi wartawan.

Saat ditemukan, menurut Rudy, tubuh korban dalam kondisi utuh. Hanya mulai terjadi pembengkakan. "Posisinya tertelungkup terjepit di pohon. Kondisi tubuh masih utuh, mungkin sedikit bengkak, tapi masih utuh," ujarnya.

Gn. Piramid Bondowoso
Kendati begitu, identifikasi perlu dilakukan untuk memastikan jenazah yang ditemukan betul-betul atas nama Thoriq Rizky Maulidan, siswa SMP yang dilaporkan hilang saat mendaki, pada Minggu, 23 Juni 2019 lalu. "Untuk hasil iden (identifikasi) kami belum dapat update apakah betul itu korban yang selama ini Kita cari atau bukan," ujar Rudy.

Namun, berdasarkan tim yang menemukan pertama kali di lokasi, jenazah diduga kuat adalah Thoriq. Hal itu berdasarkan ciri-ciri pakaian dan barang terakhir yang dipakai almarhum saat mendaki Gunung Piramid bersama beberapa temannya. "Kalau barang-barang yang dipakai sesuai," ujarnya.

Barang yang masih melekat dan ditemukan di dekat korban, menurut Rudy, di antaranya jaket berwarna biru, celana jeans. "Dari pakaian disinyalir memang Thoriq, tapi kami belum bisa rilis karena juga masih menunggu (hasil identifikasi)," katanya.

Thoriq dilaporkan hilang pada Minggu, 23 Juni 2019 lalu. Bersama tiga temannya, Thoriq mendaki Gunung Piramid pada Minggu pagi untuk menikmati momen matahari tenggelam. Mereka tiba di puncak sekira pukul 16.00 WIB. Tiba-tiba kabut turun dan suasana gelap. Mereka memutuskan turun. Saat jalan turun itu, Thoriq terpisah dari rombongan dan hilang


Tuesday, March 26, 2019

Lapisan Salju Mencair, Ratusan Mayat Pendaki Muncul Ke Permukaan Gunung Everest

Puncak Gunung Everest
Hampir 300 pendaki gunung tewas di puncak sejak upaya pendakian pertama dan dua pertiga mayat diperkirakan masih terkubur di salju dan es.

Mayat-mayat dipindahkan di sisi gunung Cina, ke utara, saat musim semi dimulai.

Lebih dari 4.800 pendaki telah mendaki puncak tertinggi di Bumi.

"Karena pemanasan global, lapisan es dan gletser meleleh dengan cepat dan mayat-mayat yang tetap terkubur selama bertahun-tahun kini menjadi terbuka dan muncul ke permukaan," kata Ang Tshering Sherpa, mantan presiden Asosiasi Pendaki Gunung Nepal Kepada BBC News.

"Kami telah merobohkan mayat beberapa pendaki gunung yang meninggal dalam beberapa tahun terakhir, tetapi yang lama yang terkubur sekarang keluar."



Dan seorang pejabat pemerintah yang bekerja sebagai petugas penghubung di Everest menambahkan: "Saya sendiri telah mengambil sekitar 10 mayat dalam beberapa tahun terakhir dari berbagai lokasi di Everest dan jelas semakin banyak dari mereka yang muncul sekarang."
Pejabat dengan Asosiasi Operator Ekspedisi Nepal (EOAN) mengatakan mereka menurunkan semua tali dari kamp yang lebih tinggi di pegunungan Everest dan Lhotse pada musim pendakian ini, tetapi berurusan dengan mayat tidak mudah.

Mereka menunjuk pada hukum Nepal yang mengharuskan keterlibatan lembaga pemerintah ketika berhadapan dengan badan-badan dan mengatakan itu adalah tantangan.

"Masalah ini perlu diprioritaskan oleh pemerintah dan industri pendakian gunung," kata Dambar Parajuli, presiden EOAN.

"Jika mereka bisa melakukannya di sisi Tibet Everest, kita bisa melakukannya di sini juga."

Tubuh yang Muncul Ke Permukaan

Pada 2017, tangan seorang pendaki gunung mati muncul di atas tanah di Camp 1.


Operator ekspedisi mengatakan mereka mengerahkan pendaki profesional dari komunitas Sherpa untuk menggerakkan mayat.

Pada tahun yang sama, tubuh lain muncul di permukaan Gletser Khumbu. Juga dikenal sebagai Air Terjun Khumbu, ini adalah tempat sebagian besar mayat telah muncul dalam beberapa tahun terakhir, kata para pendaki gunung.

Tempat lain yang telah melihat mayat menjadi terbuka adalah daerah Camp 4, juga disebut South Col, yang relatif datar.
"Tangan dan kaki mayat telah muncul di base camp juga dalam beberapa tahun terakhir," kata seorang pejabat dengan organisasi non-pemerintah yang aktif di wilayah tersebut seperti di lansir dari BBC News.

"Kami telah memperhatikan bahwa level es di dan sekitar base camp telah turun, dan itulah sebabnya mayat-mayat itu menjadi terbuka."

Gletser yang menipis

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gletser di wilayah Everest, seperti di sebagian besar Himalaya, mencair dan menipis dengan cepat.
Sebuah studi pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa kolam di Gletser Khumbu, yang harus diseberangi pendaki untuk mengukur puncak yang dahsyat - sedang meluas dan bergabung karena percepatan pencairan.

Tentara Nepal mengeringkan Danau Imja di dekat Gunung Everest pada tahun 2016 setelah airnya dari pencairan gletser yang cepat telah mencapai tingkat yang berbahaya.

Tim peneliti lain, termasuk anggota dari universitas Leeds dan Aberystwyth di Inggris, tahun lalu mengebor Gletser Khumbu dan menemukan es lebih hangat dari yang diperkirakan.
Es mencatat suhu minimum hanya -3,3C, dengan es paling dingin pun menjadi 2C lebih hangat daripada suhu udara tahunan rata-rata.


Namun, tidak semua mayat yang muncul dari bawah es adalah karena krisis glasial yang cepat.
Beberapa dari mereka terkena juga karena pergerakan Gletser Khumbu, kata pendaki gunung.
"Karena pergerakan Gletser Khumbu, kami dapat melihat mayat dari waktu ke waktu," kata Tshering Pandey Bhote, wakil presiden Asosiasi Pemandu Gunung Nasional Nepal.

"Tapi kebanyakan pendaki siap secara mental untuk menemukan pemandangan seperti itu."

Mayat Sebagai 'Landmark'


Beberapa mayat di sektor ketinggian yang lebih tinggi di Gunung Everest juga menjadi landmark bagi para pendaki gunung.
Salah satu titik arah seperti itu adalah "sepatu hijau" di dekat puncak.
Mereka merujuk pada seorang pendaki yang meninggal di bawah batu yang menggantung. Sepatu bot hijau miliknya, masih berdiri, menghadapi rute pendakian.
Beberapa ahli pendakian mengatakan jenazah itu kemudian dipindahkan sementara pejabat pariwisata Nepal mengatakan mereka tidak memiliki informasi apakah jenazah masih terlihat.

Memulihkan dan memindahkan mayat dari kamp-kamp yang lebih tinggi bisa jadi mahal dan sulit.

Para ahli mengatakan biayanya $ 40.000 hingga $ 80.000 untuk menurunkan mayat.

"Salah satu pemulihan yang paling menantang adalah dari ketinggian 8.700m, di dekat puncak," kata Ang Tshering Sherpa, mantan presiden NMA.
"Tubuh itu benar-benar beku dan beratnya 150 kg dan harus dipulihkan dari tempat yang sulit di ketinggian itu."
Para ahli mengatakan setiap keputusan tentang apa yang harus dilakukan dengan mayat di gunung juga merupakan masalah yang sangat pribadi.

"Kebanyakan pendaki suka dibiarkan di gunung jika mereka mati," kata Alan Arnette, seorang pendaki gunung terkemuka yang juga menulis tentang pendakian gunung.

"Jadi akan dianggap tidak sopan jika memindahkan mereka kecuali mereka perlu dipindahkan dari jalur pendakian atau atas permintaan keluarga mereka."

Sunday, February 24, 2019

PENGETAHUAN DASAR MENDAKI GUNUNG | MANAGEMENT PERJALANAN & PERALATAN


Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota.

Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung-gunung populer dan “mudah” didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.

Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.
Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas (di bahas di materi Dasar Navigasi Darat) karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung, dan sebagainya.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain
Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.
Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.


Persiapan mendaki gunung

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan keterampilan.

Kesiapan mental.
Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

Kesiapan fisik.
Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

Kesiapan administrasi.
Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.

Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Perencanan pendakian.

Hal pertama yang ahrus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.

Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :

  • Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
  • Mempelajari medan yang akan ditempuh.
  • Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
  • Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
  • Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.


Perlengkapan dasar perjalanan

  • Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
  • Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
  • Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek, dll.
  • Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
  • Ransel / carrier.

Perlengkapan pembantu

  • Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
  • Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
  • Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
  • Jam tangan.


Packing atau menyusun perlengkapan kedalam Carrier / ransel.

  • Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
  • Masukkan dalam kantong plastik.
  • Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
  • Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
  • Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
  • Buat Checklist barang barang tersebut.



MANAGEMENT PERJALANAN & PERALATAN

Persiapan

Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H, yang kepanjangannya adalah Where, Who, Why, When dan How.

Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut:

Where (Dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan

Who (Siapa), apakah anda akan melakukan kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam- macam. When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan tersebut, berapa lama

Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :

  • Bagaimana kondisi lokasi
  • Bagaimana cuaca disana
  • Bagaimana perizinannya
  • Bagaimana mendapatkan air
  • Bagaimana pengaturan tugas panitia
  • Bagaimana acara akan berlangsung
  • Bagaimana materi yang disampaikan
  • dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan anda mengembangkannya lagi)

Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :

  • Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
  • Pengurusan perizinan
  • Pembagian tugas panitia
  • Persiapan kebutuhan acara
  • Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
  • dan lain sebagainya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Packing
Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.

Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :

Pada saat Backpack atau Carrier dipakai, beban terberat harus jatuh ke pundak. Mengapa beban harus jatuh kepundak ? Ini disebabkan dalam melakukan perjalanan (misalnya pendakian) kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban Backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.


Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak. Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.

Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :

  • Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.
  • Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
  • Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: senter, rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.
  • Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar Carrier, karena barang diluar Carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam Carrier.

Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.


Memilih dan Menempatkan Barang

Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa, contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier.

Matras ; Sebisa mungkin matras disimpan didalam carrier jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Matras bisa digunakan sebagai rangka Carrier sehingga bisa berdiri tegak proporsional dan mempunyai estetika bagus, sehingga enak di pandang mata. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, di samping, di atas atau di bawah Carrier, memang kelihatannya bagus, gagah. Tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.

Kantung Plastik dan Trash bag ; Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam carrier anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.

Menyimpan Pakaian ;

Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab. Ini hal yang wajib, apalagi di musim penghujan. Karena walaupun Carrier kita kedap air, tetap saja beresiko untuk menjadi basah atau lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih.

Menyimpan Makanan ;

Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.

Menyimpan Korek Api Batangan ;
Magnesium Flint Stone
Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.
Jadul kali yaa.. mungkin sekarang susah menemukan bekas tempat roll film, bahkan mungkin sudah tidak ada. Silahkan disiasati dengan benda lain, yang terpenting kedap air. Dari toples bekas Vitamin IPPI yang murah meriah mungkin bisa dimanfaatkan.
Sekarang mungkin bisa di ganti dengan korek gas atau magnesium flint stone sebagai pemantik api.

Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;

Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat carrier digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.

Perlengkapan Pribadi Alam Bebas

Outdoor activity atau kegiatan alam bebas merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat. Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat. Sebagai contoh, sebuah referensi pernah mencatat bahwa salah satu kegiatan alam bebas yaitu rock climbing [panjat tebing] merupakan jenis olahraga yang resiko kematiannya merupakan peringkat ke-2 setelah olahraga balap mobil formula-1.
Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman.

Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai.
Salah satu “perisai diri” ketika melakukan aktivitas alam bebas adalah perlengkapan diri pribadi. Berikut digambarkan beberapa perlengkapan pribadi standard.

Tutup kepala/topi

Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau dingin perlu penutup kepala. Dalam keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala yang baik adalah yang juga dapat melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini pilihan terbaik adalah topi rimba atau topi yang punya pelindung keliling. Topi ini juga melindungi bagian sekeliling kepala dari goresan ranting dan duri di medan yang rimbun. Topi pet atau topi softball tidak direkomendasikan.
Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah tinggi, maka penutup kepala yang baik adlah yang dapat memberikan rasa hangat. Pilihannya adalah balaklava atau biasa disebut kupluk.

Syal-slayer
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai identitas organisasi, tetapi sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna ketika dalam keadaan darurat, baik digunakan untuk perban darurat atau sebagai alat peraga darurat. Oleh karenanya disarankan menggunakan syal/slayer yang berwarna mecolok dan terbuat dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air namun cepat kering.

Baju
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas tanpa baju [bayangkan kalau tanpa ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang baik adalah dari bahan yang dapat menyerap keringat, tidak disarankan menggunakan baju dari bahan nilon karena panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju dengan bahan demikian biasanya adalah planel atau paling tidak kaos dari bahan katun.
Pilihan warna untuk aktivitas lapangan seperti halnya juga slayer/syal adalah yang mencolok agar bia terjadi keadaan darurat [misalnya hilang] dapat dengan mudah diidentifikasi dan dikenali.
Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah melupakan baju salin/ganti, hal ini karena aktivitas lapangan akan sangat banyak mengeluarkan energi yang membuat badan kita berkeringat. Bawalah baju salain 2 atau 3 buah.



Celana
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi syarat ringan, mudah kering dan dapat menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans sangat tidak direkomendasikan karena berat dan susah kering dan membuat lecet. Celana yang baik adalah kain dengan tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak merembet atau robek memanjang]. Bila aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan juga baik bila menggunakan bahan dari parasut tipis.
Selain celana panjang, jangan lupa bahwa under-wear juga penting. jangan lupa juga untuk menyediakan serep ganti. Jangan sampai nanti di gunung atau hutan, under wear anda di putar side A dan Side B tanpa pernah di ganti..
Hayoooo.. siapa yang pernah ngalamin kayak gitu..??? Hahahahahaaaa...

Jaket
Salah satu perlengkapan penting dalam alam bebas adalah jaket. Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan matahari atau hujan.
Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket yang panjang sampai ke pangkal paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan penutup kepala [kupluk]. Akan sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu angsa-biasanya digunakan untuk kegiatan pendakian gunung es].

Slepping bag
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas setelah aktivitas yang melelahkan seharian. Tempat istirahat yang ideal adah dengan menggunakan slepping bag [kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga biasanya terbuat dari dua sisi, yaitu yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan yang hangat dan tebal disisi lain. Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat istirahat.

Sepatu
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak kaki sampai mata kaki, kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi bersekat halus. Gunakan sepatu yang dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya [menggunakan ban atau tali. Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena akan menyebabkan pergesekan kaki dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan sepatu juga harus dibarengi dengan kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan kaos kaki serep bial suatu saat basah.

Carrier / Backpack

Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlampau kecil, artinya mapu menampung perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Sesuaikan dengan kebutuhan dan medan yang akan dilintasi. Sebaiknya jangan menggunakan carrier yang mempunyai banyak kantong dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini akan menghambat pergerakan. Gunakan carrier yang ramping walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus diperhatikan jahitan-jahitannya, karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk sandang akan berakibat sangat fatal. Sekarang sudah banyak Carrier yang nyaman dan aman, tinggal berani saja menyiapkan Rupiah nya, hehehehee..

Alat masak, makan dan mandi
Trangia, Alat Masak Gunung Ideal
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat masak, makan dan mandi. Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita sangat perlu untuk menghemat waktu dan bahan memasak. Gunakan alat dari alumunium karena cepat panas, untuk ini nesting menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia ringkas dan serba guna. Juga perlu dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll) dan pastikan bahan bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin, spirtus, parafin, dll.
Jangan lupa juga siapkan tumbler minum sebagai bekal perjalanan [saat ini banyak tersedia model dan jenis tumbler].
Tumbler
Perlengkapan mandi juga sangat penting karena tidak jarang perjalanan dilakukan berhari-hari dengan tubuh penuh keringat. Bawalah alat mandi seperti sabun yang berkemasan tube agar mudah disimpan dan tidak perlu membuang sampah bungkusan disembarang tempat.

Obat-obatan dan Survival Kits

Mini Survival Kits
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting adalah obat-obatan, apalagi kalau pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu. Anda yang tahu dan anda yang wajib mengantisipasinya.
Disamping obat-obatan juga setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits.
Beberapa contoh survival kits adalah :
Mata pancing /kait Pisau / sangkur / vitrorinoc
Tali kecil
Senter
Cermin suryakanta, cermin kecil
Peluit
Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air [tube roll film]. mungkin sekarang bisa di ganti dengan pemantik api dari besi yaitu Magnesium Flint Stone.
Tablet garam,
Obat-obatan pribadi
Jarum + benang + peniti
Ponco / jas hujan / rain coat
Lain-lain



PENGETAHUAN DASAR MENDAKI GUNUNG | MANAGEMENT PERJALANAN & PERALATAN

Memilih dan Menempatkan Barang

Dalam memilih barang yang akan dibawa pergi mendaki atau kegiatan alam bebas selalu cari alat/perlengkapan yang berfungsi ganda, tujuannya apalagi kalau bukan untuk meringankan berat beban yang harus anda bawa, contoh : Alumunium foil, bisa untuk pengganti piring, bisa untuk membungkus sisa nasi untuk dimakan nanti, dan yang penting bisa dilipat hingga tidak memakan tempat di carrier.

Matras ; Sebisa mungkin matras disimpan didalam carrier jika akan pergi kelokasi yang hutannya lebat, atau jika akan membuka jalur pendakian baru. Matras bisa digunakan sebagai rangka Carrier sehingga bisa berdiri tegak proporsional dan mempunyai estetika bagus, sehingga enak di pandang mata. Banyak rekan pendaki yang lebih senang mengikatkan matras diluar, di samping, di atas atau di bawah Carrier, memang kelihatannya bagus, gagah. Tetapi jika sudah berada di jalur pendakian, baru terasa bahwa metode ini mengakibatkan matras sering nyangkut ke batang pohon dan semak tinggi, lagipula pada saat akan digunakan matrasnya sudah kotor.



Kantung Plastik dan Trash bag ; Selalu siapkan kantung plastik didalam carreir anda, karena akan berguna sekali nanti misalnya untuk tempat sampah yang harus anda bawa turun, baju basah dan lain sebagainya. Gunakan selalu kantung plastik untuk mengorganisir barang barang didalam carrier anda (dapat dikelompokkan masing-masing pakaian, makanan dan item lainnya), ini untuk mempermudah jika sewaktu-waktu anda ingin memilih pakaian, makanan dsb.

Menyimpan Pakaian ;

Jika anda meragukan carrier yang anda gunakan kedap air atau tidak, selalu bungkus pakaian anda didalam kantung plastik [dry-zax], gunanya agar pakaian tidak basah dan lembab. Ini hal yang wajib, apalagi di musim penghujan. Karena walaupun Carrier kita kedap air, tetap saja beresiko untuk menjadi basah atau lembab. Sebaiknya pakaian kotor dipisahkan dalam kantung tersendiri dan tidak dicampur dengan pakaian bersih.

Menyimpan Makanan ;

Pada gunung-gunung tertentu (misalnya Rinjani) usahakan makanan dibungkus dengan plastik dan ditutup rapat kemudian dimasukkan kedalam keril, karena monyet-monyet didekat puncak / base camp terakhir suka membongkar isi tenda untuk mencari makanan.

Menyimpan Korek Api Batangan ;
Magnesium Flint Stone
Simpan korek api batangan anda didalam bekas tempat film (photo), agar korek api anda selalu kering.
Jadul kali yaa.. mungkin sekarang susah menemukan bekas tempat roll film, bahkan mungkin sudah tidak ada. Silahkan disiasati dengan benda lain, yang terpenting kedap air. Dari toples bekas Vitamin IPPI yang murah meriah mungkin bisa dimanfaatkan.
Sekarang mungkin bisa di ganti dengan korek gas atau magnesium flint stone sebagai pemantik api.

Packing Barang / Menyusun Barang Di Carrier ;


Selalu simpan barang yang paling berat diposisi atas, gunanya agar pada saat carrier digunakan, beban terberat berada dipundak anda dan bukan di pinggang anda hingga memudahkan kaki melangkah.

Perlengkapan Pribadi Alam Bebas

Outdoor activity atau kegiatan alam bebas merupakan kegiatan yang penuh resiko dan memerlukan perhitungan yang cermat. Jika salah-salah maka bukan mustahil musibah akan mengancam setiap saat. Sebagai contoh, sebuah referensi pernah mencatat bahwa salah satu kegiatan alam bebas yaitu rock climbing [panjat tebing] merupakan jenis olahraga yang resiko kematiannya merupakan peringkat ke-2 setelah olahraga balap mobil formula-1.
Tentu saja resiko tersebut terjadi apabila safety-procedure tidak menjadi perhatian yang serius, tetapi apabila safety-procedure diperhatikan dan sering berlatih, maka resiko tersebut dapat ditekan sampai titik paling aman.

Perjalanan alam bebas pasti akan bersentuhan dengan cuaca, situasi medan dan waktu yang kadang tidak bersahabat, baik malam atau siang hari, oleh karena itu perlu dipersiapkan perlengkapan yang memadai.
Salah satu “perisai diri” ketika melakukan aktivitas alam bebas adalah perlengkapan diri pribadi. Berikut digambarkan beberapa perlengkapan pribadi standard.

Tutup kepala/topi

Untuk melindungi diri dari cuaca panas atau dingin perlu penutup kepala. Dalam keadaan panas atau hujan, maka tutup kepala yang baik adalah yang juga dapat melindungi kepala dan wajah sekaligus. Untuk ini pilihan terbaik adalah topi rimba atau topi yang punya pelindung keliling. Topi ini juga melindungi bagian sekeliling kepala dari goresan ranting dan duri di medan yang rimbun. Topi pet atau topi softball tidak direkomendasikan.
Pada cuaca dingin malam hari atau di daerah tinggi, maka penutup kepala yang baik adlah yang dapat memberikan rasa hangat. Pilihannya adalah balaklava atau biasa disebut kupluk.

Syal-slayer
Slayer atau syal bukan hanya digunakan sebagai identitas organisasi, tetapi sebetulnya mempunyai fungsi lainnya. Syal/slayer dapat digunakan untuk menghangatkan leher ketika cuaca dingin, dapat juga digunakan sebagai saringan air ketika survival. Syal/slayer juga sangat berguna ketika dalam keadaan darurat, baik digunakan untuk perban darurat atau sebagai alat peraga darurat. Oleh karenanya disarankan menggunakan syal/slayer yang berwarna mecolok dan terbuat dari bahan yang kuat serta dapat menyerap air namun cepat kering.


Baju
Kebutuhan ini multak, tidak bisa beraktivitas tanpa baju [bayangkan kalau tanpa ini, maka kulit akan terbakar matahari]. Baju yang baik adalah dari bahan yang dapat menyerap keringat, tidak disarankan menggunakan baju dari bahan nilon karena panas dan tidak dapat meyerap keringat. Baju dengan bahan demikian biasanya adalah planel atau paling tidak kaos dari bahan katun.
Pilihan warna untuk aktivitas lapangan seperti halnya juga slayer/syal adalah yang mencolok agar bia terjadi keadaan darurat [misalnya hilang] dapat dengan mudah diidentifikasi dan dikenali.
Dalam beraktivitas di alam bebas jangan pernah melupakan baju salin/ganti, hal ini karena aktivitas lapangan akan sangat banyak mengeluarkan energi yang membuat badan kita berkeringat. Bawalah baju salain 2 atau 3 buah.



Celana
Celana lapang yang baik adalah yang memnuhi syarat ringan, mudah kering dan dapat menyerap keringat. Pemakaian bahan jeans sangat tidak direkomendasikan karena berat dan susah kering dan membuat lecet. Celana yang baik adalah kain dengan tenunan ripstop [bila berlubang kecil tidak merembet atau robek memanjang]. Bila aktivitas dilakukan di daerah pantai atau perairan juga baik bila menggunakan bahan dari parasut tipis.
Selain celana panjang, jangan lupa bahwa under-wear juga penting. jangan lupa juga untuk menyediakan serep ganti. Jangan sampai nanti di gunung atau hutan, under wear anda di putar side A dan Side B tanpa pernah di ganti..
Hayoooo.. siapa yang pernah ngalamin kayak gitu..??? Hahahahahaaaa...

Jaket
Salah satu perlengkapan penting dalam alam bebas adalah jaket. Jaket digunakan untuk melindungi diri dari dingin bahkan sengatan matahari atau hujan.
Jaket yang baik adalah model larva, yaitu jaket yang panjang sampai ke pangkal paha. Jaket ini juga biasanya dilengkapi dengan penutup kepala [kupluk]. Akan sangat baik bila jaket yang memiliki dua lapisan (double-layer). Lapisan dalam biasanya berbahan penghangat dan menyeyerap keringat seperti wool atau polartex, sedang lapisan luar berfungsi menahan air dan dingin. Kini teknologi tekstil sudah mampu memproduksi Gore-Tex bahan jaket yang nyaman dipakai saat mendaki bahan ini memungkinkan kulit tetap bernafas, tidak gerah mengeluarkan keringat mampu menahan angin (wind breaking) dan resapan air hujan (water proff) sayang, bahan ini masih mahal. Yang paling baik jaket terbuat dari bulu angsa-biasanya digunakan untuk kegiatan pendakian gunung es].

Slepping bag
Istirahat adalah kebutuhan pegiat alam bebas setelah aktivitas yang melelahkan seharian. Tempat istirahat yang ideal adah dengan menggunakan slepping bag [kantong tidur]. Slepping bag yang baik juga biasanya terbuat dari dua sisi, yaitu yang dingin, licin dan tahan air satu sisi, dan yang hangat dan tebal disisi lain. Penggunaannya sesuai dengan cuaca saat istirahat.


Sepatu
Sepatu yang baik yaitu yang melindungi tapak kaki sampai mata kaki, kulit tebal tidak mudah sobek bila kena duri. keras bagian depannya, untuk melindungi ujung jari kaki apabila terbentur batu. bentuk sol bawahnya dapat menggigit ke segala arah dan cukup kaku, ada lubang ventilasi bersekat halus. Gunakan sepatu yang dapat dikencangkan dan dieratkan pemakaiannya [menggunakan ban atau tali. Dilapangan sepatu tidak boleh longgar karena akan menyebabkan pergesekan kaki dengan sepatu yang berakibat lecet. Penggunaan sepatu juga harus dibarengi dengan kaos kaki. Untuk ini juga sebaiknya disediakan kaos kaki serep bial suatu saat basah.

Carrier / Backpack

Carrier bag atau ransel sebaiknya gunakan yang tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlampau kecil, artinya mapu menampung perlengkapan dan peralatan yang dibawa. Sesuaikan dengan kebutuhan dan medan yang akan dilintasi. Sebaiknya jangan menggunakan carrier yang mempunyai banyak kantong dibagian luar karena dalam keadaan tertentu ini akan menghambat pergerakan. Gunakan carrier yang ramping walaupun agak tinggi, ini lebih baik daripada yang gemuk tetapi rendah. Sebelum berangkat harus diperhatikan jahitan-jahitannya, karena kerusakan pada jahitan terutama sabuk sandang akan berakibat sangat fatal. Sekarang sudah banyak Carrier yang nyaman dan aman, tinggal berani saja menyiapkan Rupiah nya, hehehehee..

Alat masak, makan dan mandi
Trangia, Alat Masak Gunung Ideal
Perlengkapan sangat penting lainnya adalah alat masak, makan dan mandi. Bagimanapun juga dalam kondisi lapangan kita sangat perlu untuk menghemat waktu dan bahan memasak. Gunakan alat dari alumunium karena cepat panas, untuk ini nesting menjadi pilihan yang sangat baik, disamping dia ringkas dan serba guna. Juga perlu dipersiapkan alat bantu makan lainnya (sendok, piring, dll) dan pastikan bahan bakar untuk memasak / membuat api seperti lilin, spirtus, parafin, dll.
Jangan lupa juga siapkan tumbler minum sebagai bekal perjalanan [saat ini banyak tersedia model dan jenis tumbler].
Tumbler
Perlengkapan mandi juga sangat penting karena tidak jarang perjalanan dilakukan berhari-hari dengan tubuh penuh keringat. Bawalah alat mandi seperti sabun yang berkemasan tube agar mudah disimpan dan tidak perlu membuang sampah bungkusan disembarang tempat.

Obat-obatan dan Survival Kits

Mini Survival Kits
Perlengkapan pribadi lainnya yang sangat penting adalah obat-obatan, apalagi kalau pegiat mempunyai penyakit khusus tertentu. Anda yang tahu dan anda yang wajib mengantisipasinya.
Disamping obat-obatan juga setidaknya mempunyai kelengkapan survival kits.
Beberapa contoh survival kits adalah :
Mata pancing /kait Pisau / sangkur / vitrorinoc
Tali kecil
Senter
Cermin suryakanta, cermin kecil
Peluit
Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air [tube roll film]. mungkin sekarang bisa di ganti dengan pemantik api dari besi yaitu Magnesium Flint Stone.
Tablet garam,
Obat-obatan pribadi
Jarum + benang + peniti
Ponco / jas hujan / rain coat
Lain-lain


<<< Halaman Sebelumnya                                                         <<< Lihat Semua Halaman >>>



PENGETAHUAN DASAR MENDAKI GUNUNG | MANAGEMENT PERJALANAN & PERALATAN


Mendaki gunung seperti kegiatan petualangan lainnya merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota.

Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung-gunung populer dan “mudah” didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.


Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.
Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas (di bahas di materi Dasar Navigasi Darat) karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung, dan sebagainya.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain
Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.


Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis. Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.


Persiapan mendaki gunung

Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan keterampilan.

Kesiapan mental.
Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

Kesiapan fisik.
Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya]. Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

Kesiapan administrasi.
Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.

Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.
Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Perencanan pendakian.

Hal pertama yang ahrus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.

Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :


  • Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi medan.
  • Mempelajari medan yang akan ditempuh.
  • Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
  • Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
  • Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.


Perlengkapan dasar perjalanan

  • Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
  • Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
  • Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek, dll.
  • Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
  • Ransel / carrier.

Perlengkapan pembantu

  • Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
  • Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
  • Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
  • Jam tangan.


Packing atau menyusun perlengkapan kedalam Carrier / ransel.

  • Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.
  • Masukkan dalam kantong plastik.
  • Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.
  • Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.
  • Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.
  • Buat Checklist barang barang tersebut.



MANAGEMENT PERJALANAN & PERALATAN

Persiapan

Untuk merencanakan suatu perjalanan ke alam bebas harus ada persiapan dan penyusunan secara matang. Ada rumusan yang umum digunakan yaitu 4W & 1 H, yang kepanjangannya adalah WhereWhoWhyWhen dan How.

Berikut ini aplikasi dari rumusan tersebut:

Where (Dimana), untuk melakukan suatu kegiatan alam kita harus mengetahui dimana yang akan kita digunakan

Who (Siapa), apakah anda akan melakukan kegiatan alam tersebut sendiri atau dengan berkelompok. Why (Mengapa), ini adalah pertanyaan yang cukup panjang jawabannya dan bisa bermacam- macam. When (Kapan) waktu pelaksanaan kegiatan tersebut, berapa lama

Untuk How [Bagaimana] merupakan suatu pembahasan yang lebih komprehensif dari jawaban pertanyaan diatas ulasannya adalah sebagai berikut :

  • Bagaimana kondisi lokasi
  • Bagaimana cuaca disana
  • Bagaimana perizinannya
  • Bagaimana mendapatkan air
  • Bagaimana pengaturan tugas panitia
  • Bagaimana acara akan berlangsung
  • Bagaimana materi yang disampaikan
  • dan masih banyak “bagaimana ?” lagi (silahkan anda mengembangkannya lagi)

Dari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang timbul itulah kita dapat menyusun rencana kegiatan yang didalamnya mencakup rincian :

  • Pemilihan medan, dengan memperhitungkan lokasi basecamp, pembagian waktu dan sebagainya.
  • Pengurusan perizinan
  • Pembagian tugas panitia
  • Persiapan kebutuhan acara
  • Kebutuhan peralatan dan perlengkapan
  • dan lain sebagainya.

Yang tidak kalah pentingnya adalah anda akan mendapatkan point-point bagi kalkulasi biaya yang dibutuhkan untuk melakukan kegiatan tersebut.

Packing
Sebelum melakukan kegiatan alam bebas kita biasanya menentukan dahulu peralatan dan perlengkapan yang akan dibawa, jika telah siap semua inilah saatnya mempacking barang-barang tersebut ke dalam carier atau backpack. Packing yang baik menjadikan perjalanan anda nyaman karena ringkas dan tidak menyulitkan.

Prinsip dasar yang mutlak dalam mempacking adalah :

Pada saat Backpack atau Carrier dipakai, beban terberat harus jatuh ke pundak. Mengapa beban harus jatuh kepundak ? Ini disebabkan dalam melakukan perjalanan (misalnya pendakian) kedua kaki kita harus dalam keadaan bebas bergerak, jika salah mempacking barang dan beban terberat jatuh kepinggul akibatnya adalah kaki tidak dapat bebas bergerak dan menjadi cepat lelah karena beban Backpack anda menekan pinggul belakang. Ingat : Letakkan barang yang berat pada bagian teratas dan terdekat dengan punggung.



Membagi berat beban secara seimbang antara bagian kanan dan kiri pundak. Tujuannya adalah agar tidak menyiksa salah satu bagian pundak dan memudahkan anda menjaga keseimbangan dalam menghadapi jalur berbahaya yang membutuhkan keseimbangan seperti : meniti jembatan dari sebatang pohon, berjalan dibibir jurang, dan keadaan lainnya.

Pertimbangan lainnya adalah sebagai berikut :

  • Kelompokkan barang sesuai kegunaannya lalu tempatkan dalam satu kantung untuk mempermudah pengorganisasiannya. Misal : alat mandi ditaruh dalam satu kantung plastik.
  • Maksimalkan tempat yang ada, misalkan Nesting (Panci Serbaguna) jangan dibiarkan kosong bagian dalamnya saat dimasukkan ke dalam carrier, isikan bahan makanan kedalamnya, misal : beras dan telur.
  • Tempatkan barang yang sering digunakan pada tempat yang mudah dicapai pada saat diperlukan, misalnya: senter, rain coat/jas hujan pada kantong samping carrier.
  • Hindarkan menggantungkan barang-barang diluar Carrier, karena barang diluar Carrier akan mengganggu perjalanan anda akibat tersangkut-sangkut dan berkesan berantakan, usahakan semuanya dapat dipacking dalam Carrier.

Mengenai berat maksimal yang dapat diangkat oleh anda, sebenarnya adalah suatu angka yang relatif, patokan umum idealnya adalah 1/3 dari berat badan anda , tetapi ini kembali lagi ke kemampuan fisik setiap individu, yang terbaik adalah dengan tidak memaksakan diri, lagi pula anda dapat menyiasati pemilihan barang yang akan dibawa dengan selalu memilih barang/alat yang berfungsi ganda dengan bobot yang ringan dan hanya membawa barang yang benar-benar perlu.


                                                                                                  Halaman Selanjutnya >>>

Friday, August 11, 2017

Pendakian Gunung Cakrabuana


Seperti telah di bahas dalam artikel sebelumnya yaitu Sekilas Tentang Gunung Cakra Buana, bahwa Gunung Cakrabuana adalah gunung di Jawa Barat dengan ketinggian 1721 mdpl dan koordinat 7°2'7"S 108°7'51"E, (-7.042274, 108.139782) dan berada di tapal batas antara 4 kabupaten yaitu Kabupaten Garut (Malangbong), Kabupaten Ciamis (Culamega, Sindang barang Panumbangan), Kabupaten Tasikmalaya (Pagerageung) dan Kabupaten Majalengka (Lemah Sugih).



Gunung ini memiliki sejarah penting dalam perjalanan leluhur orang Sunda. Pada masa lalu merupakan tapal batas antara Kerajaan Galuh dan Kerajaan Pakuan Pajajaran, ini terlihat pada situs tugu batu jejer yang berada di Puncak Gunung ini. Yang saat ini tinggal menyisakan sedikit sekali batu batu yang ada atau bahkan sudah tidak nampak akibat tergerus air secara terus menerus atau mungkin karena faktor lain.

Pada kesempatan ini kita akan membahas tentang jalur Pendakian Gunung Cakra Buana yang mungkin saja baru sebagian orang mengetahuinya.

Jangankan jalur pendakian, mendengar nama Gunung Cakra Buana saja mungkin masih asing di telinga.

Gunung Cakra Buana
Ada beberapa jalur pendakian Gunung Cakra Buana yang bisa dipergunakan tergantung dari arah mana kita berencana untuk mendaki.
Untuk yang dari arah Sumedang anda bisa mempergunakan jalur Wado, dari arah Majalengka bisa memakai jalur Dusun Cakrawati Desa Lemah Putih Kec. Lemah Sugih dan dari Dusun Wiranjana kecamatan Cipasung.

Jalur Pendakian
Sedangkan dari arah Tasikmalaya, Ciamis dan sekitarnya anda bisa mempergunakan jalur Kampung Bunar dan Kampung Pangkalan Kecamatan Pagerageung.

Jalur inilah yang akan kita bahas pada tulisan ini.

Jalur Bunar dan Jalur Pangkalan sebenarnya berada pada jalan utama yang sama yaitu jalan Pagerageung - Bunar dan tidak terlalu jauh titik awal pendakian, mungkin berjarak sekitar 2 km.

Mau mempergunakan jalur mana?

Terserah strategi anda untuk menentukan jalur mana yang akan di pakai.

Punggungan Cakra Buana dilihat
Dari Kebun teh Bunar
Jalur Pangkalan.

Kampung Pangkalan terletak sekitar27 km dari kota ;Kecamatan Pagerageung Kabupaten Tasikmalaya ;dan berada sekitar 3 km sebelum kampung Bunar.

Dari Kota Kecamatan Pagerageung, tepatnya Jalan Cijeruk anda dapat menggunakan mobil pick up khusus angkutan ke Bunar. Ada dua kali pemberangkatan yaitu pagi jam 07.00 WIB dan siang pukul 11.30 WIB.
Kalau kebetulan sudah tidak kebagian jadwal anda bisa memakai jasa ojek yang ada di jalan Cijeruk tersebut atau mencarter angkutan pedesaan.

20 sampai 30 menit memakai kendaraan dengan melewati jalan menanjak dan berkelok serta agak rusak anda akan sampai di Kampung Pangkalan. Tepat di depan mesjid ada parkiran cukup luas untuk membongkar logistik anda. Dan jangan lupa, masuklah dulu ke mesjid jika anda belum menunaikan sholat. Air untuk wudhu disini begitu menyegarkan, adem lahir bathin, In Syaa Allah..

Halaman Mesjid Pangkalan

Jalur pendakian via Kampung Pangkalan ini tepat berada di depan mesjid, lihat ada jalan setapak menanjak.

Namun sebelum melakukan pendakian ada baiknya anda bersilaturahmi dengan penduduk setempat untuk sekedar bertanya tentang jalur pendakian, beristirahat dan mempersiapkan seluruh logistik pendakian anda.
Ada rumah Bapak Oleh anak dari almarhum Aki Kholil kuncen Cakra Buana yang biasa menjadi tempat berkumpulnya para pendaki.

Kampung Pangkalan




Memulai pendakian dari jalan setapak depan mesjid anda akan langsung disuguhi Medan yang cocok untuk pemanasan. Ikuti jalur setapak tersebut sampai bertemu pertigaan jalan yang lebih besar, kemudian anda belok kiri.
Sebelum Memasuki hutan Pinus anda belok kiri lagi dan 300 meter kemudian anda belok kanan memasuki hutan Kaliandra (Calliandra calothyrsus). Dari sini anda sudah memasuki jalur utama punggungan menuju persimpangan pertama sebelum anda menginjakan kaki di "geger" atau bukit utama.

Mintalah diantar pada penduduk setempat minimal sampai hutan Kaliandra ini. Karena hampir tidak adanya penunjuk arah akan sangat membingungkan untuk menentukan jalan.
Banyak pendaki yang menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menemukan hutan Kaliandra ini.
Bahkan ada cerita dari rekan pendaki, sobat sobat saya dari Ciawi, yang hanya berputar putar di area perkebunan Kapulaga kemudian masuk ke areal persawahan dan turun lagi ke Kampung Pangkalan. Terus begitu berulang ulang sampai akhirnya mereka memutuskan untuk menginap di saung petani di pinggir sawah karena hari sudah semakin larut.

Jangankan untuk para pendaki yang notabene adalah pendatang, bahkan dari cerita warga sekitarpun ada yang mengalami hal seperti itu. Berangkat malam karena memang sudah terbiasa, Berniat ke puncak untuk menginap dan berziarah. Setelah sekian jam mereka menyangka telah tiba di area kulah (Puncak Kancana), kemudian memutuskan untuk istirahat dan tidur ditempat tersebut agar subuh bisa langsung menuju puncak.

Tapi apa yang terjadi? Ketika subuh datang, mereka heran dengan suara Kokok ayam yang terasa begitu dekat sekali. Mereka baru sadar saat adzan subuh berkumandang dari mesjid, ternyata mereka berada di atas Kampung Pangkalan, dekat sekali.

Anda bisa konfirmasi cerita ini pada Pak Oleh dan istri di Pangkalan.

Sangat disarankan untuk yang baru pertama kali mendaki Gunung Cakra Buana ini untuk menghindari perjalanan malam. Jangan lupa air minum dan air untuk memasak. Karena tidak ada sumber air bersih di jalur pendakian.

Hindari perjalanan malam
Selanjutnya, setelah memasuki hutan Kaliandra kita tinggal mengikuti jalur utama. Dan mulailah memasuki pintu rimba. Jalan mulai terjal dihiasi batu batu dan akar berlumut serta tanah pijakan empuk berhumus. Dan mulailah binatang endemik Cakra Buana mengincar anda, dengan taring taringnya siap menghisap darah anda begitu ada celah yang memungkinkan. Pacet... Hehehehe..
Belum ke Cakra Buana kalau belum dihinggapi Pacet..

Pacet
Hutan Kaliandra sampai pertigaan pertama adalah track terberat jalur ini. Tracking pole tidak akan berfungsi disini, karena anda dituntut untuk menggunakan kedua belah tangan untuk mencari pegangan.



2 jam perjalanan normal anda akan sampai di pertigaan pertama. Disini anda bisa beristirahat sekedar mengambil napas. Kemudian perjalanan dilanjutkan dengan mengambil arah ke kiri dengan track yang menanjak landai. Setelah melewati batu besar, sekitar 10 menit dari pertigaan anda akan sampai di kulah/Puncak Kancana.

Tempat ini adalah pertemuan dengan jalur dari Wiranjana, Cipasung Majalengka.

Batu Besar Sebelum
Kulah
Ada sedikit aroma mistis di tempat ini. Di naungi pohon besar dengan batu di tengah tengah yang konon adalah petilasan Sanghyang Prabu Wirakancana, selalu bersih terjaga dari sampah bahkan tidak ada rontokan daun daun dari pohon pohon disekitarnya.

Konon disini banyak sekali pertapa pertapa yang tinggal disini sampai berbulan bulan entah dengan maksud apa.

Tahun 90an penulis pun sempat menjumpai orang orang yang sengaja tinggal disini dengan membuat bangunan darurat dari pohon dan daun daunan (bivack).



Puncak Kancana




Untuk melanjutkan ke puncak, anda tinggal lurus mengikuti jalur utama. Jangan mengambil jalur ke kanan menurun karena itu akan membawa anda ke Wiranjana Cipasung.

Jalur Wiranjana
Dari sini track terbilang ringan, landai. Anda hanya akan menemui beberapa tanjakan dan turunan yang tidak begitu berat.
Sekitar 600 meter sebelum puncak, anda akan bertemu dengan jalur dari Bunar di sebelah kiri Anda.

Begitu curamnya? Ya, jalur naik dari Bunar sangat curam.

Curug Gedong




Bumi Perkemahan Hutan
Gedong
Kalau anda berniat langsung ke hutan gedong yang posisi nya di atas Kampung Bunar untuk menikmati Curug Gedong nya, anda bisa lewat jalur ini untuk turun setelah dari puncak nanti. Sekitar 2 jam sampai 2,5 jam anda akan sampai di Kampung Bunar. Dan akan lebih cepat lagi jika anda berani "sosorodotan", namun tidak dianjurkan karena sangat berbahaya.

Jalur landai menuju
Puncak
Sekitar perjalan 2 jam dari kulah tadi, anda akan tiba di Puncak Gunung Cakra Buana atau Puncak Sanghyang Wenang menurut para penduduk setempat.

Puncak Cakra Buana
Di puncak ini juga kita akan bertemu dengan jalur pendakian dari arah Lemah Putih Majalengka.
Ketika musim ziarah tiba, puncak Wenang ini akan dipenuhi oleh masyarakat sekitar, terutama dari daerah Lemah Putih dan Lemah Sugih yang sering penulis temui.
Namun yang mengherankan, berapa banyakpun massa yang datang Puncak Cakra Buana ini selalu dapat menampungnya.



Wallohu'alam..



Catatan : Berhubung sudah lama tidak mencoba mendaki melalui jalur Utara Cakra Buana, maka penulis belum berani mereview jalur Pendakian dari arah Lemah Putih dan Wiranjana Majalengka karena keterbatasan dokumentasi jalur jalur tersebut. Maklum, terakhir mendaki lewat jalur Utara masih menggunakan kamera dengan klise Fuji Film asa 600 yang harus di cuci kemudian di cetak. Dan masalahnya, entah di mana film film tersebut tercecer.

Mudah mudahan dalam waktu dekat bisa segera nge track di jalur jalur tersebut.

Demikian tulisan kali ini, mohon maaf atas banyak kekurangan.

SALAM LESTARI!!!


Support by :

Popular Posts