Showing posts with label Global Warming. Show all posts
Showing posts with label Global Warming. Show all posts

Tuesday, November 12, 2019

Hutan Dan Perubahan Iklim



Hutan berperan besar dalam memberikan perlindungan kepada ekosistem dan mahluk hidup yang tinggal didalamnya.
Hutan juga dapat mengendalikan perubahan iklim, menyediakan udara bersih dan menjaga keanekaragaman hayati.

Hutan menjadi habitat dan tempat hidup berbagai jenis tumbuhan dan hewan. Selain itu, hutan juga menyediakan cadangan sumber hayati bagi kehidupan.

Selain cadangan sumber hayati dan berbagai komoditas lainnya, hutan juga memiliki fungsi utama lainnya, seperti ;


Menyimpan cadangan air.


Air dari hujan dan kelembaban udara di simpan oleh akar tanaman. Air yang di simpan di tanah ini sekaligus melembabkan tanah.

Mencegah erosi dan tanah longsor.



Akar pohon berfungsi mengikat butiran butiran air . Air hujan dapat di serap daun dan di simpan di akar agar tidak langsung hilang terbawa aliran.


Namun jika tanaman telah banyak di tebang dan digantikan, maka tanah menjadi kering. Tanah seperti ini rawan longsor jika hujan turun. Air hujan pun akhirnya tidak ada yang menyerap.

Hutan menyuburkan tanah.



Daun dan ranting yang gugur jatuh ke tanah, membusuk dan akhirnya menjadi kompos. Kompos inilah yang berguna menyuburkan tanah.


Sumber plasma Nutfah atau Keanekaragaman Hayati di Bumi.



Dari serangga hingga satwa yang duduk di posisi atas rantai makanan, dari lumut, rumput hingga pepohonan.

Mengurangi Polusi Udara.



Gas Karbondioksida (CO2) dan Karbon monoksida (CO) yang dikeluarkan nafas manusia, industri serta kendaraan bermotor di serap tanaman untuk keperluan fotosintesis.


Sementara saat malam hari, hasil fotosintesis berupa oksigen (O2) akan dilepaskan ke alam.





Langkah Kecil Kita Dapat Menyelamatkan Bumi Tercinta



Perubahan iklim adalah perubahan secara signifikan pada iklim, suhu udara dan curah hujan selama periode waktu mulai dari dasawarsa hingga jutaan tahun.

Terjadinya perubahan iklim karena diakibatkan naiknya konsentrasi karbondioksida (CO2) dan gas gas lainnya di atmosfer yang menyebabkan gas rumah kaca.


Adapun yang menyebabkan gas rumah kaca semakin meningkat, diantaranya ;
Adanya perubahan fungsi lahan, hasil produksi limbah organik, semakin banyaknya penggunaan bahan bakar fosil oleh penduduk bumi.



Efek Gas Rumah Kaca
Gas rumah kaca tersebut membuat lapisan secara berlebihan, sehingga memerangkap panas matahari di sekitar bumi. Dan bumi yang semakin panas akan mengakibatkan kekeringan yang berkepanjangan, penyebaran wabah penyakit, gelombang badai besar, meningkatnya suhu panas di lautan, mencairnya es di kutub, bencana banjir di berbagai negara, dan cuaca ekstrim.

Dampak perubahan iklim sudah bisa dirasakan di sekitar kita. Apa yang di alami oleh orang utan, beruang kutub dan ekosistem lainnya bisa saja segera menimpa kita.

Pilihan ada di tangan kita, acuh membiarkan terjadi atau ikut menghadapi masalah ini.

Kita dapat mengurangi dampak perubahan iklim dengan melakukan hal hal yang sederhana dan mudah untuk dilakukan.
Seperti :


  1. Mengolah sampah dengan cara 3R, yaitu Reduce, Reuse, dan Recycle. 
  2. Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor pribadi dan beralih menggunakan kendaraan umum, berjalan kaki atau bersepeda. 
  3. Menghemat penggunaan listrik di rumah. Seperti mematikan listrik yang tidak terpakai pada siang hari dan menggunakan lampu hemat energi.
  4. Melakukan reboisasi di lahan lahan kritis dan hitam gundul, serta melakukan penanaman pohon di pekarangan pekarangan rumah.

Apa itu 3R ?

Reduce yaitu mengurangi pemakaian barang barang yang berpotensi menjadi limbah yang merusak lingkungan. Juga berarti mengurangi pembelian barang barang yang kurang diperlukan.

Reuse yaitu memilih barang yang dapat digunakan kembali dan menghindari penggunaan barang yang hanya sekali pakai.

Recycle yaitu mendaur ulang barang yang sudah tidak dapat di pakai agar bisa dimanfaatkan kembali.



Ayo!!! Bersama sama selamatkan Bumi dari Dampak Perubahan Iklim, Karena langkah kecil kita dapat menyelamatkan Bumi Tercinta...


Saturday, November 9, 2019

Kekeringan, Pemanasan Global dan Peran Pemerintah


Musim kemarau dan suhu panas beberapa waktu yang lalu membuat siang bahkan sore dan malam hari menjadi gerah.
Dan ternyata cuaca panas tersebut tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapi melanda beberapa negara di Eropa dan Asia lainnya.



Cuaca panas tersebut (bahkan di negara negara lain di sebut gelombang panas), menurut WMO (World Meteorologi Organization) adalah pekan terpanas di dunia. Dan tahun 2015 - 2019 adalah kurun waktu 5 tahun yang membara. Dan gelombang panas yang terjadi ini sangat konsisten dengan dampak gas rumah kaca.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres memperingatkan agar semua pihak segera mengambil langkah konkret untuk mencegah kehancuran planet ini akibat perubahan iklim yang terus menerus mengancam.

Di Indonesia sendiri, efek dari perubahan iklim mulai terasa terutama pada musim kemarau tahun ini, yaitu terjadinya kekeringan yang cukup parah di sebagian besar wilayah di Indonesia.




Kekeringan yang di derita warga negara adalah wujud diabaikannya tugas "KONSTITUSIONAL" oleh pemerintah yang di beri amanat oleh UUD 1945 untuk " Melindungi Segenap Bangsa dan Seluruh Tumpah Darah Indonesia".

Sampai kapan kita dan Negara dengan perangkat organisasi nya yang lengkap dan anggaran yang begitu besar harus menjawab bahwa kekeringan ini adalah RUTINITAS TAHUNAN SAAT MUSIM KEMARAU !!??

Pemanasan Global bukanlah TAKDIR dari siklus iklim.
Pola kerja dan pola pikir yang menuding "iklim yang salah" merupakan ketidakmengertian makna penting pemerintahan.

Kekeringan ini merupakan buah deretan aktivitas manusia yang melanggar batas toleransi ekologis sehingga lingkungan menunjukkan eksistensinya guna mengingatkan manusia agar lebih bijak dalam bertindak.


Pemerintah telah di beri otoritas hukum untuk menanggulangi Kekeringan dan Pemanasan Global dengan segala Kebijakan dan kesediaan anggaran.

Membiarkan alih fungsi lahan dan kerusakan Daerah Aliran Sungai (DAS) adalah tindakan tidak bermoral Pemerintah serta menciderai jiwa terdalam UUD 1945 sebagai "KONSTITUSI HIJAU".



Thursday, October 31, 2019

Remukan Botol Plastik Permudah Daur Ulang




Daur ulang begitu penting dalam penyelesaian masalah sampah plastik karena semakin banyak sampah yang didaur ulang, semakin sedikit sampah yang menumpuk di TPA atau yang masuk ke badan air.


Dengan kata lain: nasib terbaik yang bisa menimpa plastik botol adalah didaur ulang. Jika semua plastik botol didaur ulang, tak akan ada cerita plastik botol menumpuk tanpa guna di TPA atau berakhir menjadi pencemar samudra.





Solusi yang terdengar ideal ini, sayangnya, masih jauh dari terealisasi. Persentase plastik botol yang berakhir di fasilitas daur ulang — alih-alih TPA atau samudra — masih sangat kecil, sekitar 4 persen saja.

Penyebabnya ada beberapa, namun yang paling berpengaruh adalah ketidaktahuan publik tentang pentingnya daur ulang. Juga sama berpengaruhnya dengan ketidaktahuan publik adalah sulit dan rumitnya mengantar plastik botol ke tempat daur ulang.


Namun itu cerita lama. Mengirim plastik botol, kini, sama mudahnya dengan mengirim barang apa pun. Dengan jasa antar ojek online, plastik botol bekas bisa dikirim ke bank sampah. Jika mengantarnya saja bisa semudah itu, kenapa perlu bersusah-susah dengan meremukkan plastik botol pula?


Jawabannya adalah karena untuk diproses menjadi serpihan plastik yang nantinya menjadi bahan baku produk daur ulang, plastik botol harus diremukkan terlebih dahulu. Dengan meremukkannya sendiri, kita telah membantu proses daur ulang plastik botol.
Lengkapnya, proses daur ulang plastik botol adalah seperti ini:
Pertama, plastik botol harus dikumpulkan — dari rumah, dari tempat usaha, dari banyak tempat lain yang mengonsumsi air minum dalam kemasan plastik botol.


Kedua, plastik botol harus dipisahkan dari metal, kaca, dan benda-benda lain yang masuk ke tong sampah.

Ketiga, plastik botol dipisahkan berdasarkan jenisnya. Keempat, plastik botol dibersihkan dari sisa makanan, cairan, atau residu bahan kimia. Kelima, plastik botol dicarik menjadi serpihan plastik. Di bagian inilah kita, dengan meremukkan plastik botol, membantu proses daur ulang.

Setelahnya masih ada proses keenam: serpihan plastik dilelehkan dan diproses menjadi biji plastik berukuran, kurang lebih, sebesar biji beras. Biji plastik inilah yang menjadi bahan baku produk hasil daur ulang plastik. Bentuk barunya beragam. Salah satunya adalah plastik botol baru — plastik botol yang, nantinya, tetap harus diremukkan juga.

Selain membantu proses daur ulang, meremukkan plastik botol juga berarti mencegah penyalahgunaannya. Tidak bisa dipungkiri, ada saja pihak tidak bertanggung jawab yang menggunakan ulang bejana plastik — termasuk plastik botol — untuk berbagai keperluan, termasuk menjajakan dagangan. Tentu saja ini tidak baik bagi kesehatan. Meremukkan plastik botol berarti mencegah terjadinya hal tersebut.

Alasan lain yang membuat meremukkan plastik botol menjadi penting adalah ; hal ini merupakan dasar yang bagus untuk membangun kebiasaan sadar plastik. Konsumsi plastik yang bertanggung jawab adalah bagian penting dalam penanggulangan kolektif masalah sampah plastik global, dan sebagaimana hal lain, konsumsi plastik yang bertanggung jawab harus dibangun dengan pembiasaan. Dan pembiasaan tak bisa dipaksakan. Mengubah gaya hidup secara besar-besaran malah kontraproduktif terhadap usaha menjadi pribadi dengan pola konsumsi plastik yang bertanggung jawab.

Ini Penyebab Terjadinya Cuaca Panas Di Indonesia



Menurut Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, ada tiga faktor yang menyebabkan terjadinya cuaca panas. 

Pertama, minimnya awan karena dinginnya suhu muka air laut. 

Kedua, gerak semu matahari yang tepat di atas sebagian wilayah Indonesia.

“Ini yang menjelaskan musim kemarau jadi lebih panjang, karena pembentukan awan juga mundur. Artinya tidak ada awan itu tidak ada tameng bagi sebagian wilayah Indonesia. Padahal (dalam waktu bersamaan) gerak semu matahari itu tepatnya berada pada zona yang enggak ada tamengnya tadi,” ungkap Dwikorita di Kantor BMKG, Jakarta Pusat, Kamis (31/10).


Ketiga, Dwikorita menjelaskan cuaca panas terjadi karena hembusan angin dari sisi utara benua Australia yang sedang mengalami kemarau dan cuaca kering.

“Faktor ketiga, angin bergerak dari Australia menuju Indonesia. Dan Australia itu musim kemarau, daerah itu juga gurun, sehingga kering dan panas,” jelasnya.



Dwikorita membantah cuaca panas disebabkan adanya fenomena gelombang panas yang menerjang Indonesia.

“Jadi itulah yang membuat suhu menjadi panas. Jadi bukan gelombang panas,” ucapnya.

Dwikorita memprediksi cuaca panas akan berakhir dalam waktu dekat, karena saat ini awan-awan sudah mulai terbentuk di sebagian wilayah Indonesia. Terbentuknya awan itu menandakan pula terjadinya awal musim hujan di Indonesia.

Awal atau pertengahan November sebagian besar wilayah akan dimulai ada awan, dan diprediksi menjadi hujan. Sehingga di akhir tahun 2019 ini diperkirakan musim hujan sudah mulai berlangsung di bulan November. Sampai Maret akan masih hujan,” katanya.

Tuesday, October 22, 2019

Selama Seminggu ke depan Indonesia Membara


Suhu Panas Melanda Indonesia Selama Satu Minggu

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi wilayah Indonesia akan mengalami panas selama kurang lebih satu minggu ini. Hal ini dikarenakan matahari yang berada dekat dengan jalur khatulistiwa.

"Dalam waktu sekitar satu minggu ke depan masih ada potensi suhu terik di sekitar wilayah Indonesia mengingat posisi semu matahari masih akan berlanjut ke selatan dan kondisi atmosfer yang masih cukup kering sehingga potensi awan yang bisa menghalangi terik matahari juga sangat kecil pertumbuhannya," kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Mulyono R. Prabowo, dalam keterangannya, Selasa (21/10/2019).

Sejak Sabtu, 19 Oktober mencatat suhu udara maksimum yang mencapai 37 C.
Bahkan pada Minggu, 20 Oktober ada tiga stasiun pengamatan BMKG di Sulawesi yang mencatat suhu maksimum tertinggi.

"Stasiun Meteorologi Hasanuddin (Makassar) 38.8 C, diikuti Stasiun Klimatologi Maros 38.3 C, dan Stasiun Meteorologi Sangia Ni Bandera 37.8 C. Suhu tersebut merupakan catatan suhu tertinggi dalam satu tahun terakhir, di mana pada periode Oktober di tahun 2018 tercatat suhu maksimum mencapai 37 C," ucap Mulyono.

Sementara itu, stasiun - stasiun meteorologi di pulau Jawa hingga Nusa Tenggara mencatatkan suhu udara maksimum terukur berkisar antara 35 C - 36.5 C pada periode 19 - 20 Oktober 2019.

Menurut Mulyono, saat ini terjadi gerak semu matahari. Sejak bulan September, matahari berada di sekitar wilayah khatulistiwa.

"Dan akan terus bergerak ke belahan Bumi selatan hingga bulan Desember sehingga pada bulan Oktober ini, posisi semu matahari akan berada di sekitar wilayah Indonesia bagian Selatan (Sulawesi Selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dsb)," ujar Mulyono.

Kondisi itulah yang mengakibatkan matahari terasa lebih panas. Selain itu, kondisi kering membuat awan penghalang tak tampak.

"Ini menyebabkan radiasi matahari yang diterima oleh permukaan bumi di wilayah tersebut relatif menjadi lebih banyak, sehingga akan meningkatkan suhu udara pada siang hari. Selain itu, dalam pantau selama dua hari terakhir, atmosfer di wilayah Indonesia bagian selatan relatif kering sehingga sangat menghambat pertumbuhan awan yang bisa berfungsi menghalangi panas terik matahari." Kata Deputi Bidang Meteorologi BMKG tersebut.

Sunday, August 11, 2019

PEMANASAN GLOBAL BUKAN HOAX !!!

Lapisan Es Greenland
 Foto Eric Gaba – Wikimedia Commons user: Sting
Baru-baru ini, kejadian mengejutkan terjadi di Greenland di mana gletser dengan berat super yakni 12,5 miliar ton meleleh hanya dalam satu hari.

Ilmuwan di Greenland pun berhasil mengabadikan video yang menunjukkan sungai mengalir deras akibat lelehan gletser. Para ahli meteorologi, ilmuwan iklim, dan geologi kemudian menggabungkan data untuk menentukan seberapa luas pencairan di pulau tersebut.


Dikutip dari Forbes, Rabu (7/8/2019), salah satu ilmuwan Iklim Martin Stendel menghitung bahwa jumlah es yang mencair Rabu dan Kamis silam sudah cukup untuk menutupi seluruh negara bagian Florida dengan ketinggian air sebesar lima inch atau sekitar 12,7 cm.

Hilangnya 12,5 miliar ton es dalam 24 jam adalah yang terbesar sejak pengukuran awal dimulai pada tahun 1950.


Beberapa waktu lalu pada bulan Juli di Eropa, gelombang panas sempat menghebohkan dan mencatatkan rekor suhu hingga 109 F atau sekitar 42 derajat celsius di Paris, Perancis.

Gelombang yang sama inilah yang bermigrasi ke Greenland sehingga meningkatkan suhu di sana hingga 30 derajat dari rata-rata tahun ini.


Tuesday, April 16, 2019

SEXY KILLERS, "HITAM"NYA BATUBARA UNTUK LINGKUNGAN

Korban Batu Bara?

Sexy Killers mengungkap ada 3500 lubang Bekas Tambang di Kalimantan. Dalam undangan Komisi VII DPR RI, ada 290 pemilik Tambang yang tidak memberi jaminan lingkungannya dengan baik. Dari Komposisi tanah diambil 5, asumsi kandungan tambang batu baranya 1.

Tambang Batu Bara ini kemudian menyisakan kubangan air di tengah hutan dan menelan banyak korban. Sepanjang 2018, sudah 30 orang meninggal dan mayoritas anak-anak. Kubangan raksasa ini bahkan ada pada posisi tepat di belakang sekolah dasar dengan hanya sebagaian ditutup pagar seng. Di Indonesia sendiri ada Ada 8 juta lubang bekas tambang yang belum direklamasi.



Saat debat-debat Pilpres di televise, kedua calon presiden hampir tidak memiliki pendapat yang berbeda soal kubangan bekas tambang batu bara. Kubu O1 menyampaikan,”kami akan melakukan penghutanan kembali, reklamasi kembali, akan dibuat pantai wisata, kolam ikan besar, perlunya pengawasan pemerintah daerah dan kementerian lingkungan hidup, dan saya yakin bisa diselesaikan”, ujar Jokowi di debat Pilpres.

Sedangkan Kubu 02 berpendapat,”Kita akan kejar terus para perusak lingkungan hidup.” Menanggapi hal tersebut kedua capres se-iya se-kata, seolah persoalan tambang ini bisa diselesaikan di pangggung debat, sedangkan di lapangan bekas tambang terus menelan korban. Prabowo juga menambahkan dengan manafikan data lapangan,“Kalau kita tidak ada perbedaan, kenapa kita diadu adu untuk ribut terus. Saya kira kita setuju (statement jokowi) dengan hal itu .”Ujar Prabowo.

https://youtu.be/qlB7vg4I-To

Beberapa data menunjukkan, contoh penambangan Batu Bara di Sanga-Sanga Kalimantan, 5 rumah ambles dan 11 rumah rusak. Peraturan jarak tambang dengan pemukiman setidaknya 500 meter, faktanya di Kutai Kartanegara tidak demikian. Rumah-rumah warga retak, pintu dan jendela tidak bisa ditutup karena tanah bergeser. Desa yang dibangun dari transmigran Jawa berjumlah 3000 jiwa, sekarang banyak yang pergi setelah ada penambangan batu bara. Keinginan warga berakhir tanpa pilihan, semua lahan ngin dibebaskan, padahal Tahun 1991 desa ini diputuskan sebagai desa lumbung padi.

Pada tingkatan lokal daerah, perusahaan tambang juga menunggangi pilkada. Mereka membiayai calon-calon kepala daerah yang pro Tambang Batu Bara. Protes-protes warga tentang “Tambang Tunggangi Pilkada Serentak” dilakukan oleh aktivis yang peduli. Korban lingkungan dan nyawa adalah harga yang harus dibayar oleh warga.



Di lain tempat, Tongkang Batubara hilir mudik melewati Karimun Jawa dan merusak terumbu karang akibat jangkarnya. Kapal Tongkang ini mamasok batu bara ke Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU). Bahkan PLTU juga sedang dibangun di Batang, Jawa Tengah, dan dinyatakan sebagai PLTU terbesar se-Asia Tenggara.

Gubernur Jawa Tengah diminta Jokowi mengurusi pembebasan lahan. Belum selesai soal Semen di Kendeng Jawa Tengah, kini Ganjar Pranowo harus menghadapi protes warga, khususnya petani Batang. Sawah-sawah warga belum dijual tapi sudah dipagar rapat oleh Pemerintah. PLTU ini dibangun dengan kapasitas 2000 watt dengan konsumsi batu bara 600 ribu ton atau 2 sampai 3 tongkang per hari. Bahkan 2 warga yang menolak menjual tanahnya mengalami kriminalisas di delik telah melakukan kekerasan.


Di Palu, PLTU Panau dampaknya sangat serius. Warga menderita alergi debu dan sakit paru-paru. Ada lebih 20 korban yang sebagian sudah meninggal. Salah satu warga bernama Novi berobat ke Jakarta sudah 8 bulan di Rumah Sakit Kanker Darmais. Novi sudah menjalani 9 kali kemoterapi.

Harvard University dan Greenpeace menyatakan batu bara di Indonesia menelan korban 6500 jiwa setiap tahun atau 17 kematian setiap hari. Di Panau tercatat sudah 7 orang yang meninggal, dan masih banyak catatan-catatan Watchdoc dalam Sexi Killers, sehingga membuka mata kita untuk bertanya lebih jauh siapa pemilik saham Batu Bara di negeri ini?


Tuesday, March 26, 2019

Lapisan Salju Mencair, Ratusan Mayat Pendaki Muncul Ke Permukaan Gunung Everest

Puncak Gunung Everest
Hampir 300 pendaki gunung tewas di puncak sejak upaya pendakian pertama dan dua pertiga mayat diperkirakan masih terkubur di salju dan es.

Mayat-mayat dipindahkan di sisi gunung Cina, ke utara, saat musim semi dimulai.

Lebih dari 4.800 pendaki telah mendaki puncak tertinggi di Bumi.

"Karena pemanasan global, lapisan es dan gletser meleleh dengan cepat dan mayat-mayat yang tetap terkubur selama bertahun-tahun kini menjadi terbuka dan muncul ke permukaan," kata Ang Tshering Sherpa, mantan presiden Asosiasi Pendaki Gunung Nepal Kepada BBC News.

"Kami telah merobohkan mayat beberapa pendaki gunung yang meninggal dalam beberapa tahun terakhir, tetapi yang lama yang terkubur sekarang keluar."



Dan seorang pejabat pemerintah yang bekerja sebagai petugas penghubung di Everest menambahkan: "Saya sendiri telah mengambil sekitar 10 mayat dalam beberapa tahun terakhir dari berbagai lokasi di Everest dan jelas semakin banyak dari mereka yang muncul sekarang."
Pejabat dengan Asosiasi Operator Ekspedisi Nepal (EOAN) mengatakan mereka menurunkan semua tali dari kamp yang lebih tinggi di pegunungan Everest dan Lhotse pada musim pendakian ini, tetapi berurusan dengan mayat tidak mudah.

Mereka menunjuk pada hukum Nepal yang mengharuskan keterlibatan lembaga pemerintah ketika berhadapan dengan badan-badan dan mengatakan itu adalah tantangan.

"Masalah ini perlu diprioritaskan oleh pemerintah dan industri pendakian gunung," kata Dambar Parajuli, presiden EOAN.

"Jika mereka bisa melakukannya di sisi Tibet Everest, kita bisa melakukannya di sini juga."

Tubuh yang Muncul Ke Permukaan

Pada 2017, tangan seorang pendaki gunung mati muncul di atas tanah di Camp 1.


Operator ekspedisi mengatakan mereka mengerahkan pendaki profesional dari komunitas Sherpa untuk menggerakkan mayat.

Pada tahun yang sama, tubuh lain muncul di permukaan Gletser Khumbu. Juga dikenal sebagai Air Terjun Khumbu, ini adalah tempat sebagian besar mayat telah muncul dalam beberapa tahun terakhir, kata para pendaki gunung.

Tempat lain yang telah melihat mayat menjadi terbuka adalah daerah Camp 4, juga disebut South Col, yang relatif datar.
"Tangan dan kaki mayat telah muncul di base camp juga dalam beberapa tahun terakhir," kata seorang pejabat dengan organisasi non-pemerintah yang aktif di wilayah tersebut seperti di lansir dari BBC News.

"Kami telah memperhatikan bahwa level es di dan sekitar base camp telah turun, dan itulah sebabnya mayat-mayat itu menjadi terbuka."

Gletser yang menipis

Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gletser di wilayah Everest, seperti di sebagian besar Himalaya, mencair dan menipis dengan cepat.
Sebuah studi pada tahun 2015 mengungkapkan bahwa kolam di Gletser Khumbu, yang harus diseberangi pendaki untuk mengukur puncak yang dahsyat - sedang meluas dan bergabung karena percepatan pencairan.

Tentara Nepal mengeringkan Danau Imja di dekat Gunung Everest pada tahun 2016 setelah airnya dari pencairan gletser yang cepat telah mencapai tingkat yang berbahaya.

Tim peneliti lain, termasuk anggota dari universitas Leeds dan Aberystwyth di Inggris, tahun lalu mengebor Gletser Khumbu dan menemukan es lebih hangat dari yang diperkirakan.
Es mencatat suhu minimum hanya -3,3C, dengan es paling dingin pun menjadi 2C lebih hangat daripada suhu udara tahunan rata-rata.


Namun, tidak semua mayat yang muncul dari bawah es adalah karena krisis glasial yang cepat.
Beberapa dari mereka terkena juga karena pergerakan Gletser Khumbu, kata pendaki gunung.
"Karena pergerakan Gletser Khumbu, kami dapat melihat mayat dari waktu ke waktu," kata Tshering Pandey Bhote, wakil presiden Asosiasi Pemandu Gunung Nasional Nepal.

"Tapi kebanyakan pendaki siap secara mental untuk menemukan pemandangan seperti itu."

Mayat Sebagai 'Landmark'


Beberapa mayat di sektor ketinggian yang lebih tinggi di Gunung Everest juga menjadi landmark bagi para pendaki gunung.
Salah satu titik arah seperti itu adalah "sepatu hijau" di dekat puncak.
Mereka merujuk pada seorang pendaki yang meninggal di bawah batu yang menggantung. Sepatu bot hijau miliknya, masih berdiri, menghadapi rute pendakian.
Beberapa ahli pendakian mengatakan jenazah itu kemudian dipindahkan sementara pejabat pariwisata Nepal mengatakan mereka tidak memiliki informasi apakah jenazah masih terlihat.

Memulihkan dan memindahkan mayat dari kamp-kamp yang lebih tinggi bisa jadi mahal dan sulit.

Para ahli mengatakan biayanya $ 40.000 hingga $ 80.000 untuk menurunkan mayat.

"Salah satu pemulihan yang paling menantang adalah dari ketinggian 8.700m, di dekat puncak," kata Ang Tshering Sherpa, mantan presiden NMA.
"Tubuh itu benar-benar beku dan beratnya 150 kg dan harus dipulihkan dari tempat yang sulit di ketinggian itu."
Para ahli mengatakan setiap keputusan tentang apa yang harus dilakukan dengan mayat di gunung juga merupakan masalah yang sangat pribadi.

"Kebanyakan pendaki suka dibiarkan di gunung jika mereka mati," kata Alan Arnette, seorang pendaki gunung terkemuka yang juga menulis tentang pendakian gunung.

"Jadi akan dianggap tidak sopan jika memindahkan mereka kecuali mereka perlu dipindahkan dari jalur pendakian atau atas permintaan keluarga mereka."

Support by :

Popular Posts