Di Taman Nasional Ujung Kulon juga terdapat berbagai jenis
Pulau yang tepat untuk Konservasi dan juga Pariwisata, di antaranya ;
Pulau Panaitan
Pulau Panaitan adalah sebuah pulau yang terletak paling
barat di Ujung Semenanjung Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon yang dipisahkan
oleh sebuah selat sempit. Pulau Panaitan merupakan pulau yang tidak kalah
menariknya dengan Pulau Peucang. Pulau dengan luas ± 17.000 Ha ini memiliki
berbagai potensi objek wisata alam yang sangat menarik untuk dikunjungi.
Perbukitan Pulau Panaitan terbentuk oleh hutan yang masih
asli dengan kombinasi vegetasi Hutan Mangrove, Hutan Pantai dan Hutan Hujan
dataran rendah. Keadaan hutannya yang masih asli ini dihuni oleh berbagai jenis
satwa liar seperti rusa, kancil, babi hutan, kera ekor panjang, buaya, kadal, ular
phyton, dan aneka jenis burung.
Pulau Panaitan, Taman Nasional Ujung Kulon
Di Pulau Panaitan ini juga terdapat Arca Ganesha beserta
benda-benda peninggalan sejarah lainnya yang mempunyai nilai historis sangat
tinggi dan merupakan peninggalan zaman hindu kuno, tepatnya di Puncak Gunung
Raksa. Kawasan pantai berbatu dan berpasir putih dengan terumbu karang yang
indah di dalamnya sangat baik untuk kegiatan wisata alam bahari seprti menyelam
dan snorkeling. Riak ombak di lautnya cukup tinggi sehingga cocok untuk
berselancar.
Pada beberapa bagian kawasan daratan pulau ini sudah
tersedia jalan setapak untuk mengakomodasikan kegiatan tersebut di atas, namun
belum dilengkapi dengan sarana/fasilitas pendukung wisata lainnya terutama
layanan akomodasi yang memadai bagi wisatawan.
Pulau Handeleum
Pulau Handeuleum terletak di antara gugusan pulau-pulau
kecil yang berada di ujung timur laut pantai Semenanjung Ujung Kulon. Luas
Pulau Handeuleum ± 220 Ha. Di Pulau ini terdapat satwa rusa (Rusa timorensis),
dan ular phyton. Pulau ini dikelilingi oleh hutan mangrove.
Pulau Handeuleum
Pesona yang bisa dinikmati di Pulau ini adalah daerah
Cigenter, Padang Penggembalaan Cigenter, dan Cikabeumbeum yang jika ditempuh
bisa menghabiskan waktu selama 2 (dua) hari. Untuk melewati daerah tersebut
diperlukan perahu/kano karena akan menyusuri sungai.
Hal menarik lainnya yang bisa dilakukan di pulau ini adalah
bersampan/canoing menyusuri Sungai Cigenter sambil melihat tipe hutan hujan
tropis sepanjang sungai. Pada bagian hulu sungai terdapat rute jalan setapak
yang melintasi tumbuhan bamboo menuju air terjun yang bertingkat.
Pulau Peucang
Pulau Peucang merupakan lokasi yang paling ramai dikunjungi
oleh para pengunjung baik dalam maupun luar negeri. Pulau dengan luas kawasan ±
450 ha ini dilengkapi dengan sarana dan prasarana serta berbagai objek wisata
alam yang dapat dikunjungi oleh Wisatawan. Fasilitas yang ada di Pulau Peucang
antara lain Penginapan, Pusat Informasi, Dermaga, dan lain sebagainya.
Pulau Peucang, Taman Nasional Ujung Kulon
Pantai di Pulau Peucang memiliki karakteristik yang khas
yaitu pasir putih dan hamparan yang luas. Objek wisata alam yang dapat
dinikmati di pulau ini antara lain Tracking ke Karang Copong, Berenang,
Snorkeling dan Menyelam. Wildlife viewing dapat dinikmati dengan menyeberang ke
Padang Penggembalaan Cidaon yang memakan waktu ± 15 menit dengan menggunakan
boat kecil yang berkapasitas 6 (enam) orang. Di Cidaon ini kita dapat mengamati
atraksi satwa seperti Banteng, Merak, Rusa, dan Babi Hutan. Selain itu kita
juga dapat melihat situs sejarah peninggalan kolonial Belanda berupa Mercusuar
Tanjung Layar dan bekas pembangunan Dermaga di Tanjung Layar dan Cibom.
Semenanjung Ujung Kulon
Wilayah Semenanjung Ujung Kulon merupakan habitat Badak Jawa
(Rhinoceros sondaicus), sehingga dalam pengelolaan wisata alam untuk lokasi ini
sangat terbatas sekali. Hal ini dikarenakan agar tidak mengganggu habitat Badak
Jawa. Luas wilayah Semenanjung Ujung Kulon ini ± 38.000 Ha. Kegiatan wisata
alam yang dapat di lakukan di lokasi ini antara lain Trekking, Berkemah dan
Mengamati Hewan Liar.
Tanjung Layar, Semenanjung Ujung Kulon
Di Semenanjung Ujung Kulon terdapat jalur tetap yang dapat
digunakan untuk Trekking. Fasilitas lainnya adalah Pos Jaga yang terdapat
dibeberapa titik seperti Karang Ranjang, Cibunar, dan Cidaon. Selain trekking,
kegiatan wisata lainnya yang dapat dilakukan adalah mengamati kawanan hewan di
padang penggembalaan Cidaon dan Cigenter, berkemah di Tanjung Layar, dan wisata
budaya di Goa Sang Hyang Sirah.
Gunung Honje
Gunung honje merupakan salah satu wilayah Taman Nasional
Ujung Kulon. Luas wilayah Gunung Honje ± 19.500 Ha dan disekitarnya dikelilingi
oleh 19 (sembilan belas) desa penyangga baik yang berbatasan langsung maupun
tidak langsung. Salah satu desa yang menjadi pintu gerbang masuk ke Taman
Nasional Ujung Kulon adalah Desa Wisata Tamanjaya.
Gunung Honje, TN. Ujung Kulon
Objek wisata menarik yang terdapat diseputar Tamanjaya
antara lain Kampung Nelayan Cibanua, Curug Paniis, sumber air panas Cibiuk, dan
mengamati Owa Jawa di Curug Cikacang. Fasilitas akomodasi yang terdapat di
Tamanjaya antara lain Penginapan Sundajaya, penyewaan perahu/kapal, perkumpulan
pemandu wisata/guide local, dan pusat pembuatan souvenir patung badak.
Taman Nasional Ujung Kulon terletak di bagian paling barat
Pulau Jawa, Indonesia. Kawasan taman nasional ini pada mulanya meliputi wilayah
Krakatau dan beberapa pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Handeuleum dan
Pulau Peucang dan Pulau Panaitan. Kawasan taman nasional ini mempunyai luas
sekitar 122.956 Ha; (443 km² di antaranya adalah laut), yang dimulai dari
Semenanjung Ujung Kulon sampai dengan Samudera Hindia.
Ujung Kulon merupakan taman nasional tertua di Indonesia
yang sudah diresmikan sebagai salah satu Warisan Dunia yang dilindungi oleh
UNESCO pada tahun 1991, karena wilayahnya mencakupi hutan lindung yang sangat
luas. Sampai saat ini kurang lebih 50 sampai dengan 60 badak hidup di habitat
ini.
Pada awalnya Ujung Kulon adalah daerah pertanian pada
beberapa masa sampai akhirnya hancur lebur dan habis seluruh penduduknya ketika
Gunung Krakatau meletus pada tanggal 27 Agustus 1883 yang akhirnya mengubahnya
kawasan ini kembali menjadi hutan.
Tiket masuk ke Taman Nasional ini dapat diperoleh di kantor
Balai Taman Nasional di Labuan atau di pos Tamanjaya. Fasilitas penginapan
terdapat di desa Tamanjaya, Pulau Handeuleum dan Pulau Peucang.
Untuk meningkatkan kemampuan pengelolaan Taman Nasional
Ujung Kulon sebagai Situs Warisan Alam Dunia, UNESCO telah memberikan dukungan
pendanaan dan bantuan teknis.
Sejarah dan Status Kawasan
Kawasan Ujung Kulon pertama kali dijelajahi oleh seorang
ahli botani Jerman, F. Junghuhn, pada tahun 1846, untuk keperluan mengumpulkan
tumbuhan tropis. Pada masa itu kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon sudah mulai
dikenal oleh para peneliti. Bahkan perjalanan ke Ujung Kulon ini sempat masuk
di dalam jurnal ilimiah beberapa tahun kemudian. Tidak banyak catatan mengenai
Ujung Kulon sampai meletusnya gunung Krakatau pada tahun 1883. Namun kemudian
kedahsyatan letusan Krakatau yang menghasilkan gelombang Tsunami setinggi kurang
lebih 15 meter, telah memporak-porandakan tidak hanya pemukiman penduduk di
Ujung Kulon, tetapi juga menimpa satwa liar dan vegetasi yang ada. Meskipun
letusan Krakatau telah menyapu bersih kawasan Ujung Kulon, akan tetapi beberapa
tahun kemudian diketahui bahwa ekosistem-vegetasi dan satwaliar di Ujung Kulon
tumbuh baik dengan cepat.
Badak Jawa, Ujung Kulon
Perkembangannya kemudian, beberapa areal berhutan ditetapkan
sebagai kawasan yang dilindungi, secara berurutan.
Tahun 1921
Berdasarkan rekomendasi dari Perhimpunan The Netherlands
Indies Society for The Protectin of Nature, Semenanjung Ujung Kulon dan Pulau
Panaitan ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Kawasan Suaka Alam
melalui SK Pemerintah Hindia Belanda Nomor: 60 Tanggal 16 November 1921.
Tahun 1937
Besluit Van Der Gouverneur – General Van Nederlandch – Indie
dengan keputusan Nomor: 17 Tanggal 24 Juni 1937 menetapkan status kawasan Suaka
Alam tersebut kemudian diubah menjadi Kawasan Suaka Margasatwa dengan
memasukkan Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
Tahun 1958
Berdasarkan SK Menteri Pertanian Nomor: 48/Um/1958 Tanggal
17 April 1958 Kawasan Ujung Kulon berubah status kembali menjadi Kawasan Suaka
Alam dengan memasukkan kawasan perairan laut selebar 500 meter dari batas air
laut surut terendah.
Tahun 1967
Melalui SK Menteri Pertanian Nomor: 16/Kpts/Um/3/1967
Tanggal 16 Maret 1967 Kawasan Gunung Honje Selatan seluas 10.000 Ha yang
bergandengan dengan bagian Timur Semenanjung Ujung Kulon ditetapkan menjadi
Cagar Alam Ujung Kulon.
Tahun 1979
Melalui SK Menteri Pertanian Nomor: 39/Kpts/Um/1979 Tanggal
11 Januari 1979 Kawasan Gunung Honje Utara seluas 9.498 Ha dimasukkan ke dalam
wilayah Cagar Alam Ujung Kulon.
Tahun 1992
Melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor: 284/Kpts-II/1992
Tanggal 26 Februari 1992, Ujung Kulon ditunjuk sebagai Taman Nasional Ujung
Kulon dengan luas total 122.956 Ha terdiri dari kawasan darat 78.619 Ha dan
perairan 44.337 Ha.
Dalam hal penegasan batas-batas hutan negara, perkembangan
penataan batasnya adalah sebagai berikut:
Tahun 1980
Dilaksanakan Tata Batas di Cagar Alam Gunung Honje, Berita
Acara Tata Batas pada Tanggal 26 Maret 1980, dan disyahkan Tanggal 2 Februari
1982 oleh Menteri Pertanian.
Tahun 1995
Dilaksanakan Rekonstruksi Batas Taman Nasional Ujung Kulon
wilayah G. Honje oleh Badan Planologi Kehutanan. Badan Planologi Kehutanan,
Taman Nasional Ujung Kulon bekerjasama dengan Pemerintah New Zealand
melaksanakan pemasangan sebanyak 6 ( enam ) yang terdiri dari 1 ( satu ) unit
Rambu suar, dan 5 (lima) unit pelampung sebagai batas perairan laut.
Tahun 1999
Badan Planologi Kehutanan melaksanakan pemasangan rambu suar
kuning di Tj. Alang – alang dan pemancangan titik referensi di Tj. Sodong, Tj.
Layar, Tj. Alang – alang, Tj. parat dan Tj. Cina. Badan Planologi Kehutanan
melaksanakan pengukuran batas alam pantai Semenanjung Ujung Kulon. Sesuai SK
Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor: 758/Kpts-II/1999 Tanggal 23 September
1999 menetapkan Kawasan Perairan Taman Nasional Ujung Kulon seluas 44.337 Ha
sebagai Kawasan Pelestarian Alam Perairan.
Tahun 2004
Balai Pemantapan Kawasan Hutan ( BPKH ) Wilayah XI Jawa –
Madura melaksanakan Rekonstruksi Batas Taman Nasional Ujung Kulon di daerah
Gunung Honje.
Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon sebagai kawasan yang
dilindungi berdasarkan Undang-undang No.5 tahun 1990 tentang Konservasi
Sumberdaya Alam dan Undang-undang No.41 tahun 1999 tentang Kehutanan, telah
mendapat pengakuan sebagai kawasan yang penting dan dibanggakan secara nasional
dan internasional, antara lain:
Tahun 1992
Komisi Warisan Dunia UNESCO menetapkan Taman Nasional Ujung
Kulon sebagai Natural World Heritage Site (Situs Warisan Alam Dunia) dengan
Surat Keputusan Nomor: SC/Eco/5867.2.409 Tanggal 1 Februari 1992.
Sebagai Kawasan Strategis Nasional dari sudut kepentingan
fungsi dan daya dukung lingkungan hidup (dalam Peraturan Pemerintah No. 26
tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional).
Letak dan Luas
Letas dan Luas Taman Nasional Ujung Kulon
Kawasan Taman nasional Ujung Kulon secara administrative
terletak di Kecamatan Sumur dan Kecamatan Cimanggu, Kabupaten Pandeglang,
Banten. Secara geografis Taman Nasional Ujung Kulon terletak antara (06°52′17″S
105°02′32″E) dan (06°30′43″S 105°37′37″E).
Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kehutanan No.
284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Februari 1992 tentang Perubahan Fungsi Cagar Alam
Gunung Honje, Cagar Alam Pulau Panaitan, Cagar Alam Pulau Peucang, dan Cagar
alam Ujung Kulon seluas 78.619 Ha dan Penunjukan perairan laut di sekitarnya
seluas 44.337 Ha yang terletak di Kabupaten Daerah Tingkat II Pandeglang,
Provinsi Dati I Jawa Barat menjadi Taman Nasional dengan nama Taman Nasional
Ujung Kulon maka luas kawasan Taman Nasional Ujung Kulon adalah 122.956 Ha.
Ekosistem dan Tipe Ekosistem
Kawasan Taman Nasional Ujung Kulon memiliki tiga tipe
ekosistem yaitu:
Ekosistem daratan/teresterial, terdiri dari hutan hujan
tropika dataran rendah yang terdapat di wilayah Gunung Honje, Semenanjung Ujung
Kulon, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
Ekosistem perairan laut terdiri dari terumbu karang dan
padang lamun yang terdapat di wilayah perairan Semenanjung Ujung Kulon, Pulau
Handeuleum, Pulau Peucang dan Pulau Panaitan.
Ekosistem pesisir pantai terdiri dari hutan pantai yang
terdapat di sepanjang pesisir pantai dan hutan mangrove di bagian timur laut
Semenanjung Ujung Kulon.
Ketiga ekosistem tersebut mempunyai hubungan saling
ketergantungan dan membentuk dinamika proses ekologi yang sangat kompleks di
dalam kawasan.
Tipe Ekosistem
Hutan Pantai
Dimulai dengan formasi pes-caprae yang merupakan vegetasi
pioner terdapat di sepanjang tepi pantai barat dan selatan. Di atas pasir dekat
dengan garis pasang tertinggi antara lain dijumpai Ipomoea pes-caprae
(katang-katang), Spinifex littoreus (jukut kiara), Desmodium umbellatum
(kanyere laut) dan Sophora tomentosa (tarum laut). Di sepanjang pantai selatan
di atas bukit pasir menghadap laut terdapat Pandanus tectorius (pandan duri)
membentuk tegakan-tegakan murni dan Pandanus bidur (pandan bidur) walaupun agak
jarang.
Selanjutnya di lapisan lebih dalam ditemui Cente (Lantana camara), Waru (Hibiscus tiliaceus), Waru Laut (Thespesia populnea), Babakoan (Tournefortia argentea). Lebih turun ke dalam ditemui Taritih (Drypetes
sumatrana), Daun Pulus (Laportea stimulans). Tepat di belakang bukit pasir
yang datar dan lembab ditemui Langkap (Arenga obtusifolia), Gebang (Corypha utan)
dan jenis palma lainnya. Kadang-kadang tegakan pandan diganti oleh formasi
Barringtonia karena tanahnya lebih lembab dan terlindung oleh angin.
Formasi Barringtonia di pantai selatan ditandai oleh adanya
Barringtonia Asiatica (Butun), Bintaro (Cerbera Manghas), Katapang (Terminalia catappa), Kopo (Syzygium spp.), Kampis Cina (Hernandia peltata), Nyamplung (Calophyllum
inophyllum), Poh-pohan (Buchanania arborescens) dan Malapari (Pongamia pinnata). Formasi ini juga didapati di pantai utara, di atas pasir karang
dalam jalur memanjang sempit dari pantai ke arah dalam sejauh 5–15 m. Di
tempat-tempat tertentu yang terbuka di bagian barat daya di temui Cantigi Laut (Pemphis
acidula) dan Lampeni (Ardisia humilis).
Hutan Mangrove
Jenis-jenis bakau yang paling umum terdapat ialah padi-padian (Lumnitzera Racemosa), Api-api (Avicennia spp.), Bakau-bakau (Rhizophora spp.), Bogem (Sonneratia Alba) dan Pedada (Bruguiera spp.). Kadang-kadang terdapat
Nypa fruticans dan Paku Laut (Acrostichum Aureum) di muara sungai payau. Hutan
mangrove yang luas terdapat pada jalur yang luas sepanjang sisi utara tanah
genting meluas ke arah utara sepanjang pantai sampai Sungai Cikalong dan Legon
Lentah Pulau Panaitan. Di atas sebelah barat laut Pulau Handeuleum dan kedua
pulau kecil di sebelah selatan dekat Pulau Handeuleum terdapat hutan rawa nipah
yang tidak begitu luas, juga di muara Cijungkulon dan Cigenter di pantai utara
Semenanjung Ujung Kulon.
Hutan Rawa Air Tawar
Hutan ini dicirikan dengan jenis-jenis Lembang (Typha Angustifolia), Teki (Cyperus spp.), Walingi (Cyperus pilosus), dan Lampeni
(Ardisia humilis), yang kadang-kadang membentuk tegakan murni. Pohon yang
terdapat di daerah ini antara lain dari Familia Palmae misalnya Salacca Edulis
(Salak) dan Caryota Mitis (Sayar). Hutan ini umumnya berbatasan dengan hutan
hujan dataran rendah. Hutan rawa musiman ini terdapat di bagian utara
Semenanjung Ujung Kulon dekat dengan Tanjung Alang-alang, Nyiur, Jamang, dan
sungai Cihandeuleum.
Hutan Hujan Tropika Dataran Rendah
Tipe hutan hujan ini menutupi hampir sebagian besar
Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang dan Gunung Honje. Hutan
hujan ini ditandai dengan banyaknya palma dari berbagai spesies terutama Langkap (Arenga
obtusifolia) yang sering dijumpai dalam tegakan murni di daerah yang
letaknya rendah. Spesies palem yang lain adalah Nibung (Oncosperma filamentosa), Aren (Arenga pinnata), Sayar (Caryota mitis), Jambe (Areca catechu), Bingbin (Areca pumida), Gebang (Corypha gebanga), Kaman (Licuala spinosa),
Calamus spp. dan Rotan (Daemonorops spp.).
Selain itu terdapat spesies
Lagerstroemia flos-reginae (bungur), Ficus spp. (kiara), Diospyros macrophylla
(ki calung), Vitex pubescens (laban), Anthocephalus chinensis (hanja) dan
Planchonia valida (putat).
Di daerah yang relatif terbuka seperti di dataran tinggi
Telanca mempunyai sedikit pohon besar tetapi rapat oleh semak dan tumbuhan
sekunder seperti Tepus (Achasma spp.), Honje (Nicolaia spp.), Bangban (Donax
cannaeformis), dan Cente (Lantana camara) yang bercampur dengan berbagai
jenis rotan dan kadang-kadang terdapat Poho Salam (Syzygium polyanthum) dan Sulangkar (Leea
spp.) serta beraneka ragam spesies liana misalnya Areuy (akar gantung) Kibarela (Cayratia Geniculata), Areuy (akar gantung) Jinjing Kulit (Ziziphus tupula), Areuy (akar gantung) Kolebahe (Uncaria sp.) dan Areuy (akar gantung) Kecembeng (Embelia javanica).
Gunung Payung mempunyai hutan primer yang rimbun dan lebih
mencirikan vegetasi pegunungan, dengan pohon Dillenia excelsa (kisegel),
Pentace polyantha (Kisigeung), Vitex pubescens (Laban) dan lain-lain.
Padang Rumput
Padang Rumput Cidaon, TN. Ujung Kulon
Di dalam padang rumput sering ditemui beberapa spesies
rumput, di antaranya Cyperus pilosus, Cyperus compactus, Panicum repens,
Panicum colonum, Andropogon sp., Isachne meliacea, Imperata cylindrica (lalang)
dan Melastoma polyanthum (harendong).
Flora dan Fauna
Flora
Flora di Taman Nasional Ujung Kulon membentuk berbagai
formasi hutan, di mana formasi hutan ini dicirikan adanya dominasi oleh
jenis/spesies tertentu. Ditinjau dari tipe hutan, flora di kawasan ini terdiri
dari hutan pantai, hutan hujan tropika dataran rendah, hutan hujan tropika
pegunungan, hutan rawa air tawar, hutan mangrove dan padang rumput. Formasi
hutan yang cukup lengkap ini mengandung keragaman plasma nutfah serta spesies
tumbuhan berguna dan langka yang sangat tinggi.
Beberapa jenis tumbuhan
diketahui langka dan di pulau jawa hanya terdapat di TN Ujung Kulon antara
lain: Batryohora geniculata, Cleidion spiciflorum, Heritiera percoriacea, dan
Knema globularia. Banyak pula berbagai jenis tumbuhan yang telah dimanfaatkan
masyarakat baik untuk kayu pertukangan, obat-obatan, tanaman hias maupun
pangan.
Jenis-jenis yang telah dimanfaatkan tersebut antara lain bayur
(Pterospemum javanicum) dan berbagai rotan (Calamus sp.) sebagai bahan
pertukangan; kayu gaharu (Aquilaria malaccensis), Kayu cempaka (Michelia
campaca) dan kayu jambe (Areca catechu) sebagai bahan obat-obatan; Anggrek
(Dendrobium sp.) sebagai tanaman hias; tangkil (Gnetum gnemon) dan salak
(Salacca edulis) sebagai bahan pangan.
Hutan pantai umumnya dicirikan oleh adanya jenis-jenis nyamplung
(Calophyllum innophyllum), butun (Barringtonia asiatica), Klampis Cina
(Hemandia peltata), ketapang (Terminalia catappa), cingkil (Pongamia pinnata)
dan lain-lain. Formasi hutan pantai ini umumnya dikenal sebagai formasi
barringtonia dengan spesies yang kurang beranekaragam dan nyamplung merupakan
jenis yang lebih khas tipenya. Formasi ini terdapat sepanjang pantai Barat dan
Timur Laut Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Peucang, sepanjang pantai Utara dan
teluk Kasuaris Pulau Panaitan. Umumnya formasi ini hidup di atas pasir karang
dalam jalur sempit memanjang sepanjang pantai dengan lebar 5 sampai 15 meter.
Fauna
Badak Jawa, Hewan khas dari Taman Nasional Ujung Kulon dan termaksud hewan yang dilindungi di tempat ini
Taman Nasional Ujung Kulon memiliki beragam jenis satwa liar
baik bersifat endemik maupun penting untuk dilindungi. Secara umum kawasan ini
masih mampu menampung perkembangbiakan berbagai populasi satwa liar. Beberapa
jenis satwa endemik penting dan merupakan jenis langka yang sangat perlu dilindungi
adalah Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus), Owa Jawa (Hylobates moloch), Surili
(Presbytis aigula) dan Anjing hutan (Cuon alpinus javanicus).
Semenanjung Ujung Kulon pada saat ini merupakan habitat
terpenting dari Badak Jawa, yang populasinya diperkirakan ada 50-60 ekor, serta
merupakan satu-satunya tempat di dunia di mana secara alami Badak Jawa mampu
berkembang biak pada dekade terakhir ini. Di taman nasional ini diperkirakan
ada sekitar 30 jenis mamalia, yang terdiri dari mamalia ungulata seperti Badak,
Banteng, Rusa, Kijang, Kancil, dan Babi Hutan, mamalia predator seperti Macan
Tutul, Anjing Hutan, Macan Dahan, Luwak dan Kucing Hutan, mamalia kecil seperti
walang kopo, tando, landak, bajing tanah, kalong, bintarung, berang-berang,
tikus, trenggiling dan jelarang. Di antara Primata terdapat dua jenis endemik,
yaitu Owa dan Surili. Sedang jenis Primata lain adalah Lutung (Presbytis
cristata), Kukang (Nycticebus coucang) dan Kera ekor panjang (Macaca
fascicularis) mempunyai populasi yang cukup baik dan tersebar di sebagian
kawasan.
Banteng (Bos Javanicus) di Padang Rumput Cibunar
Banteng (Bos javanicus) merupakan binatang berkuku terbesar
dan terbanyak jumlah populasinya (± 500 ekor). Satwa ini hanya terdapat di
Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje, serta tidak dijumpai di Pulau
Panaitan. Rusa (Cervus timorensis) di Semenanjung Ujung Kulon dan Gunung Honje
terdapat dalam jumlah dan penyebaran yang sangat terbatas,dan di Pulau Peucang
tedapat dalam jumlah yang sangat banyak, dan di Pulau Panaitan menunjukan
perkembangan yang semakin banyak. Babi hutan (Sus scrofa), muncak (Muntiacus
muntjak) dan pelanduk (Tragulus javanicus) relatif umum terdapat di seluruh
kawasan, tetapi celeng (Sus verrucosus) hanya di jumpai di Semenanjung Ujung
Kulon dan Gunung Honje.
Jumlah Fauna
Terdapat 35 jenis mamalia
Terdapat 5 jenis Primata
Terdapat 240 jenis Burung
Terdapat 59 jenis Reptilia
Terdapat 22 jenis Amphibia
Terdapat 72 jenis Insecta
Terdapat 142 jenis Pisces
Terdapat 33 jenis Terumbu Karang