Thursday, January 9, 2020

Gerhana Bulan "Full Moon Wolf" Akan Terjadi Tanggal 10 Januari



Biasanya, 2 Minggu setelah terjadi gerhana matahari maka akan terjadi gerhana bulan. Seperti saat ini, setelah gerhana matahari cincin tanggal 26 Desember 2019 yang lalu, maka tanggal 11 Januari yang akan datang akan terjadi gerhana bulan penumbra.




Dikutip dari laman Timeanddate, Kamis (9/1/2020), suku asli Amerika menyebutnya sebagai 'Full Wolf Moon' atau Bulan Serigala Penuh karena di bulan Januari ini sekelompok serigala lapar melolong di luar kamp mereka.


Fenomena ini juga disebut sebagai Bulan Tua, Bulan Dingin, Bulan Salju, atau Bulan Roh Besar. Fenomena ini juga disebut sebagai gerhana bulan penumbra yang terjadi saat bulan melewati bayangan sebagian bumi.




Seperti pada gerhana bulan pada umum nya, gerhana bulan penumbra terjadi ketika posisi bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga menghalangi cahaya matahari yang di terima bulan, menutupi bulan dengan bayangan bumi.




Namun gerhana bulan penumbra tidak seperti gerhana bulan total atau gerhana bulan parsial. Sulit untuk membedakan kondisi bulan dalam kondisi sedang tidak gerhana atau dalam kondisi puncak gerhana.


Karena dalam gerhana bulan penumbra, bulan hanya melewati wilayah terluar dari bayangan bumi yang di sebut penumbra. Akibatnya kecerahan bulan hanya akan berkurang dengan seluruh wajah bulan masih tetap menyala, tidak ada yang gelap atau memerah.



Gerhana Bulan ini bisa di amati di seluruh WILAYAH INDONESIA dengan catatan jika CUACA CERAH.

Gerhana Bulan Penumbra diperkira kan terjadi pada tanggal 10 Januari 2020, pukul 17:07 UTC atau 11 Januari 2020 pukul 00:07 WIB. Gerhana Bulan ini terjadi 3 hari menjelang Parigee (Jarak Bulan terdekat dengan Bumi). Puncak gerhana, bulan akan terlihat lebih besar yaitu diameter sudutnya akan menjadi 0.545° atau sekitar 26% lebih besar dari rata-rata Bulan Purnama.

Berikut perkiraan waktu terjadinya Gerhana Bulan Penumbra di wilayah Indonesia :
• Mulai pukul 00:07 WIB - 01:07 WITA - 02:07 WIT.
• Puncak pukul 02:09 WIB - 03:09 WITA - 04:09 WIT.
• Berakhir pukul 04:12 WIB - 05:12 WITA - 06:12 WIT.

Referensi : infoastronomy

Tuesday, December 17, 2019

Ciri Ular Berbisa dan Bagaimana Pertolongan Pertama Saat Tergigit



Ular merupakan salah satu binatang yang banyak ditemukan di negara tropis seperti Indonesia. Salah satu mekanisme pertahanan ular apabila terganggu atau terancam adalah dengan menggigit. Luka akibat gigitan ular bisa berasal dari ular berbisa atau yang tidak berbisa, umumnya ular menggigit saat aktif, yaitu di pagi dan sore hari.

Setiap tahunnya, terdapat ribuan orang yang meninggal di dunia akibat gigitan ular berbisa. Gigitan ular berbisa merupakan sebuah darurat medis karena dapat menyebabkan syok dan kematian. Penanganan yang cepat dan tepat dari gigitan ular dapat menurunkan angka kematian hingga lebih dari 90%.

Apa yang membedakan ular berbisa dan yang tidak berbisa?

Terdapat lebih dari 2000 spesies ular di dunia, namun hanya sekitar 200 spesies ular yang berbisa. Untuk memperkirakan apakah suatu ular berbisa atau tidak, dapat dilihat dari tanda berikut.

Ular berbisa:


  • Bentuk kepala segi empat panjang
  • Gigi taring kecil
  • Bekas gigitan berupa luka halus berbentuk lengkungan


Ular tidak berbisa:

  • Bentuk kepala segi tiga
  • Dua gigi taring besar di rahang atas
  • Bekas gigitan berupa dua lubang gigitan utama akibat gigi taring
  • Beberapa jenis ular berbisa yang dapat kita temukan di sekitar kita adalah ular sendok, ular welang, ular kobra, ular tanah, ular hijau, ular laut, ular pohon, dan lainnya.


Apa saja gejala dan tanda gigitan ular berbisa?

Gigitan ular berbisa dapat menyebabkan kerusakan di tempat gigitan dan gangguan sistemik lainnya. Gejala di tempat gigitan umumnya terjadi dalam 30 menit sampai 24 jam, berupa bengkak dan nyeri, dan timbul bercak kebiruan. Kematian jaringan dapat terjadi pada luka bekas gigitan yang dapat mempersulit penanganan. Gejala lain yang muncul berupa kelemahan otot, menggigil, berkeringat, mual, muntah, nyeri kepala, dan pandangan kabur.

Bisa ular juga dapat menyebabkan gejala khusus di beberapa organ :

Hematotoksik, bersifat racun terhadap darah, menyebabkan perdarahan di tempat gigitan, perdarahan di tempat lain seperti paru, jantung, otak, gusi, saluran cerna, kencing darah, juga gangguan pembekuan darah.

Neurotoksik, bersifat racun terhadap saraf, menyebabkan penderita merasa kelemahan otot tubuh, kekakuan, hingga kejang. Apabila menyerang saraf pernapasan, ini dapat menyebabkan penderita sulit bernapas dan dapat menyebabkan kematian.

Kardiotoksik, gejala yang timbul berupa penurunan tekanan darah, syok, dan henti jantung.

Sindroma kompartemen, merupakan suatu sindrom yang mengakibatkan terjadinya peningkatan tekanan dalam sekumpulan otot yang salah satunya disebabkan pembengkakan. Akibatnya, pembuluh darah dan saraf bisa terjepit, dan lama kelamaaan otot bisa kekurangan oksigen dan bisa mengharuskan dokter untuk melakukan operasi.

Bagaimana cara menangani gigitan ular berbisa?


  • Tetap tenang, dan usahakan untuk mengingat tempat kejadian, jenis, warna, serta ukuran ular.
  • Penderita diharapkan untuk beristirahat dan meminimalisir gerakan.
  • Letakkan tempat gigitan lebih rendah dari posisi tubuh lainnya.
  • Bersihkan tempat gigitan, hindari membilas dengan air, kemudian tutup dengan kain kering yang bersih.
  • Lepaskan cincin atau jam tangan dari anggota tubuh yang digigit, supaya tidak memperparah anggota tubuh yang membengkak.
  • Longgarkan pakaian yang dipakai, namun tidak usah sampai melepasnya.
  • Segera cari pertolongan medis.


Apa yang tak boleh dilakukan saat digigit ular berbisa?


  • Memanipulasi luka, baik dengan cara menyedot bisa ular dari tempat gigitan, atau menyayat kulit agar bisa keluar bersama darah.
  • Menggosok dengan zat kimia, atau mengompres dengan air panas atau es pada luka gigitan.
  • Mengikat atau memberi torniket terlalu keras pada luka gigitan. Beberapa sumber menyebutkan pemasangan torniket bisa diberikan di bawah 30 menit pertama apabila timbul gejala cepat dan tidak ada anti-bisa.
  • Minum minuman alkohol atau kopi.
  • Mencoba mengejar dan menangkap ular.



Apabila ular yang menggigit Anda tidak berbisa, maka dokter akan memberikan terapi antibiotik dan serum anti tetanus sesuai dengan indikasi, sedangkan pada kasus yang lebih berat dapat diberikan antivenom. Untuk mengurangi gejala nyeri yang ada, penderita dapat meminum antinyeri seperti parasetamol.

Tuesday, November 19, 2019

Darurat Sampah Plastik Perairan Indonesia


Dikutip dari laman Gizmodo, Rabu 20 November 2019, Studi tim peneliti Marine Megafauna Foundation dan Murdoch University, Australia menemukan bagaimana sampah plastik begitu mencemari perairan di Indonesia sampai-sampai habitat mengonsumsi limbah tersebut.

Penelitian tim tersebut menemukan, ikan pari manta dan ikan hiu paus di wilayah perairan tengah selatan Indonesia, mengonsumsi 63 potongan plastik per jam!.


Peneliti sampai pada kesimpulan tersebut setelah meneliti selama dua tahun dari Januari 2016 sampai Februari 2018. Selama kurun tersebut, tim ilmuwan mengambil sampel air di perairan selatan tengah Indonesia yang dikenal menjadi habitat ikan pari manta dan hiu paus

Peneliti memang tidak merekam langsung ikan pari manta dan hiu paus mengonsumsi plastik dan menghitungnya lho. Tim berkesimpulan 63 plastik per jam dikonsumsi dengan melalui simulasi.

Tim ilmuwan menyeret jaring halus di perairan yang jadi lokasi penelitian. Jaring ini menyimulasikan bagaimana ikan hiu paus dan pari manta perlahan berenang dengan mulut terbuka dan penangkap plankton.


Berdasarkan jumlah puing plastik yang terperangkap di jaring tersebut, peneliti menghitung jumlah plastik yang dikonsumsi kedua ikan itu.

Dari kalkulasi itu, apalagi selama musim hujan di Indonesia, peneliti menghitung kedua ikan itu bisa menelan paling tidak 63 potongan plastik per jamnya.

Peneliti tak cuma mengalkulasi saja. Untuk mengecek benar tidaknya kedua ikan itu mengonsumsi plastik, tim menerjunkan penyelam lokal untuk mencari sampel muntahan dan feses ikan pari manta. Sampel itu kemudian dikumpulkan.


Hasilnya rata-rata ada 26 potongan plastik dalam kotoran ikan pari manta dan 66 potong dari sampel muntahan ikan tersebut. Hasil penelitian ini telah diterbitkan pada jurnal Marine Science pekan ini.

Support by :

Popular Posts